Suka Duka Blog Niche Kepenulisan dan Cara Mengolah Konten Tulisan agar Banyak Pengunjung

blog niche kepenulisan

Sebelum menulis postingan ini, saya melakukan riset kecil-kecilan kepada beberapa orang yang memiliki blog niche kepenulisan. Saya bertanya kepada mereka, "Dalam sehari, blog kalian ada berapa pengunjung? Pageviews per day-nya berapa?"

Umumnya, mereka menjawab, "Hanya sekitar 600K per day. Itu paling banyak. Kalo di hari Sabtu dan Minggu sepi banget". Jawaban mereka sama persis dengan apa yang saya alami pas empat bulan ngeblog di blog penulis Garut ini. Bahkan, delapan bulan ngeblog masih di angka 700K per day trafficnya.

Akan tetapi, lambat laun blog penulis Garut ada kemajuan. Di tahun 2021 ini, traffic ada di angka 3000K per day. Paling kecil 1500K. Tentu, saya senang banget atas kemajuan ini.

Untuk bisa mencapai traffic sebanyak itu, saya memiliki cara-cara tersendiri. Terutama cara mengolah konten tulisannya. Namun, sebelum lebih jauh berbagi tentang cara mengolah tulisan di blog niche kepenulisan, saya ingin berbagi dulu suka dukanya.

Tujuan saya menulis suka duka ngeblog niche kepenulisan ini adalah, siapa tahu, tulisan ini dapat menjadi pembelajaran buat kalian yang ingin bikin blog dengan niche kepenulisan. Atau sudah memiliki blog niche kepenulisan, lalu ingin mengembangkan lebih jauh blognya.

Begini suka dukanya...

Blog niche kepenulisan CPC-nya kecil

Dulu, niat utama saya bikin blog adalah ingin berbagi pengalaman saja mengenai dunia kepenulisan. Kebetulan, bidang yang saya kuasai adalah menulis. Meski, saya sadar, tulisan saya masih biasa-biasa aja. Dan di profil blog ini saya bilang kalo saya enggan dilabeli seorang penulis.

Lebih dari itu, saya membuat blog ini pas tim penulis Garut lagi sibuk-sibuknya berkegiatan ke sekolah-sekolah dan ke kampus-kampus. Sehingga, blog tidak terurus. Eh dua bulan kemudian Corona menyerang. Menulis lah saya di blog ini hingga sekarang.

Saya tidak tahu apa itu niche. Seberapa penting niche blog? Setelah baca-baca, ternyata menentukan niche blog itu penting. Dan dari sekian tulisan mengenai niche blog yang saya temukan di internet, eh niche kepenulisan tidak ada dalam daftar niche yang menguntungkan dan dalam daftar topik blog yang yang menarik buat meningkatkan pengunjung (heuheu, sedih).

Katanya, CPC blog berbahasa Indonesia itu kecil. Lalu masih ada level "mendingannya". Masih mending niche blognya kesehatan, otomotif, kecantikan, lumayan menguntungkan lah. Sedangkan niche kepenulisan? Udah mah artikelnya pakai bahasa Indonesia, terus nichenya kepenulisan...wah, parah.

Untung saja saya tidak terlalu fokus memikirkan pendapatan dari Google Adsenese. Dan nanti, ini akan saya bahas.

Tawaran kerjasama untuk blog niche kepenulisan sedikit

Sejauh ini, saya belum menerima tawaran kerjasama dari produk-produk atau brand-brand yang ada kaitannya dengan dunia menulis. Misal, tawaran review buku dari seorang penulis atau tawaran kerjasama dari penerbit untuk mempromosikan usahanya. Belum pernah, lho.

Malah, tawaran kerjasama yang masuk justru dari produk yang berbau kesehatan, barang-barang macam pakaian yang diperjualbelikan, dan lain sebagainya.

Mengapa tawaran kerjasama buat blog niche kepenulisan sedikit?

Pertama, kalo tawaran review buku biasanya untuk blog yang khusus mereview buku saja. Atau blog khusus mereview barang.

Kedua, tawaran review buku itu umum. Blog personal juga bisa untuk mereview. Blog gado-gado juga masuk. Terlebih lagi, review buku biasanya dilakukan juga oleh penerbit buku tersebut.

Terus, tawaran kerjasama dari penerbit? Penerbit juga punya website sendiri. Mereka pasang iklan sendiri melalui Google Ads. Makanya jarang kerjasama dengan blog niche kepenulisan.

Jadi, saran saya, kalo ada tawaran kerjasama dari produk yang tidak sesuai dengan niche blog kepenulisan ini, ambil saja. Toh, nanti tujuannya sama-sama nulis. Sama-sama mereview. Ini sih kalo tujuannya buat cuan.

Banyak blog niche kepenulisan yang tidak aktif karena bingung mau nulis apalagi?

Saya sempet stress mikirn konten di blog penulis Garut ini. Semangat nulis sempet turun. Dan bahkan kepikiran mau berhenti. Ini juga yang terjadi pada teman-teman saya yang mengelola blog niche kepenulisan. Sehingga, mereka total berhenti. Dan beralih ke YouTube.

Jadi, ada tiga duka yang saya alami ketika mengelola blog niche kepenulisan. Pertama, CPC-nya kecil. Kedua, tawaran kerjasama sedikit. Ketiga, ide kadang mentok. Mau nulis apalagi ya?

Lantas, mengapa sejauh ini saya bisa bertahan? Mengapa blog penulis Garut bisa bersaing dengan blog-blog besar seperti Penerbit Deepublishing yang kontennya hampir sama dengan blog ini. Bahkan, bersaing dengan Kompasiana dalam konten-konten tertentu?

Berikut cara saya dalam mengolah konten tulisan di blog niche kepenulisan.

Lebarkan konten blog ke dunia literasi selain literasi baca tulis

Sejak blog ini kontennya saya lebarkan ke dunia literasi umum. Entah literasi digital, musik, keluarga, dan masih banyak lagi, pengunjung langsung membludak.

Salah satu tulisan yang dibaca oleh puluhan ribu orang adalah tulisan tentang cara membuat komunitas literasi. Saat itu, sedikit banget blog yang menjelaskan secara detail cara membuat komunitas literasi. Saya kemudian menulis konten itu, dan trending.

Blog niche kepenulisan itu masuk ke dalam literasi baca tulis. Jadi daripada tidak aktif ngeblog lagi, alangkah baiknya lebarkan konten blog ke literasi yang lebih umum.

Sesekali, isi konten blog dengan topik pendidikan

Konten pendidikan gila banget sih pembacanya. Dan kalo nulis konten pendidikan, ini masuk ke konten evergreen.

Nah, audiens blog penulis Garut sendiri rata-rata anak-anak SMP dan SMA, ini setelah saya membahas tentang contoh mereview buku dan contoh cerita inspiratif beserta struktunya. Dua postingan itu, banyak anak-anak sekolah yang membaca.

Jadi, untuk menggaet pembaca ke dalam blog niche kepenulisan, sesekali bikin lah tulisan yang berbau pendidikan. Dan kalo bisa, masih dikaitkan dengan kata "penulis".

Blog niche kepenulisan ada baiknya membahas hal-hal unik tentang dunia penulis

Masih banyak saya temui, blog niche kepenulisan lebih fokus menulis tentang teknik menulis, tips menulis cerpen, cara menerbitkan buku, dan lain-lain. Namun, hal-hal unik tentang dunia penulis jarang ditulis.

Padahal, pembaca kadang senang membaca tulisan yang unik. Misalnya, saya pernah menulis tentang typing ganteng latihan mendasar bagi seorang penulis. Kalian tahu pembacanya ada berapa? Di atas 11 ribu. Saya pernah menulis tipe-tipe penulis beserta kepribadiannya. Dan saya pernah menulis rekomendasi pakaian seorang penulis saat launcing buku.

Awalnya tulisan-tulisan seperti itu, saya kira, bakalan sedikit yang membaca. Eh setelah saya mencoba menulis konten seperti itu, banyak menarik perhatian pembaca.

Jadi, blog niche kepenulisan jangan terlalu mikirin teknik dan tips, tapi lebih ke hal-hal yang absurd, yang mungkin selama ini nggak kepikiran oleh blog yang lain.

***

Nah, sedikit tambahan buat kalian yang mengelola blog niche kepenulisan, saya akan memberikan kalian semangat dengan dua hal ini:

Pertama, meski CPC blog kita kecil, meski tawaran kerjasama sedikit, meski kadang-kadang bingung mau nulis apalagi ya? Tapi, ingat poin ini; orang yang suka ngeblog itu kebanyakan adalah orang yang suka menulis.

Artinya, mereka masih membutuhkan tips-tips menulis atau mencari cara agar semangat menulis. Mereka mencari artikel semacam itu, salah satunya kepada blog yang berniche kepenulisan.

Jadi, meski CPC blog kita kecil, tapi kalo kita mengelola blognya dengan baik, pembaca masih kemungkinan bisa membludak.

Kedua, diawal tulisan saya pernah bilang, "Untung saja saya tidak terlalu fokus memikirkan pendapatan dari Google Adsenese". Kalo kalian tujuan ngeblognya sama dengan saya, maka nikmati saja hobi menulis ini. Sebab, yang paling utama dalam menulis adalah memberikan manfaat bagi banyak orang.

Blog niche kepenulisan akan sukses jika cara kita dalam mengolah konten tulisannya bagus. Lalu, penghasilan nanti akan datang sendiri selagi kita serius mengurus blog.

Jadi, mari fokus nulis yang baik. Tingkatkan reputasi blog di hasil pencarian Google, nanti lihat sendiri hasilnya. Mari sukses bareng!



Ridwansyah
Pendiri penulis Garut | Penggiat literasi | Follow IG/Twitter: @aaridwan16.

Artikel Selanjutnya Postingan Selanjutnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url