5 Alasan Penulis Jangan Gengsi Menerbitkan Buku di Penerbit Indie

Menerbitkan Buku di Penerbit Indie

Ketika saya mengetik keyword, "Cara menerbitkan buku di penerbit indie" di Google untuk bahan riset, muncul artikel yang pernah saya tulis tahun lalu, yaitu tentang 8 mental untuk untuk calon penulis yang wajib dimiliki. Tulisan itu menjadi salah satu postingan yang banyak dibaca oleh para penulis yang mampir ke blog ini.

Di artikel itu, ada poin mengenai hilangkan gengsi kalo misalnya kita ingin menerbitkan buku di penerbit indie. Sebab, mau buku kita diterbitkan di penerbit mayor maupun indie sebenarnya sama saja. Sama-sama berkarya. Sama-sama menulis buku. Bedanya mungkin mayor dianggap paling wah di mata orang karena biasanya buku yang diterbitkan lewat penerbit mayor ada di toko buku.

Nah, saya mau bilang begini untuk prolog di artikel ini. Jika tujuan kalian menerbitkan buku untuk berkarya saja. Maksudnya, buku yang kalian terbitkan hanya untuk kenang-kenangan saja, dan memang banyak orang yang hobi menulis lalu menerbitkan buku alasannya karena hal ini, menerbitkan buku di penerbit indie lebih efektif.

Mengapa lebih efektif? Karena jika tujuan kalian menerbitkan buku dengan alasan seperti itu, naskah kalian tidak akan menunggu lama untuk diterbitkan. Sebab di penerbit indie, proses terbit bakalan cepat. Berbeda dengan penerbit mayor, kadang harus menunggu berbulan-bulan. Dan nanti kemungkinannya adalah naskah kalian ada di dua pilihan: diterima atau ditolak. Sedangkan menerbitkan buku di penerbit indie tidak akan seperti itu.

Apa itu penerbit indie?

Sederhananya, penerbit indie dapat diartikan sebagai usaha seorang penulis untuk menerbitkan naskahnya secara mandiri. Peran penerbit, dalam hal ini, hanya sekadar wadah untuk menerbitkan buku karya kalian sendiri.

Ada berapa jenis penerbit?

Mungkin selama ini para penulis hanya mengetahui bahwa jenis penerbit itu ada dua, penerbit indie dan mayor. Tapi, setelah saya menelisik lebih dalam tentang jenis-jenis penerbit, saya berpendapat bahwa jenis penerbit ada tiga. Dan saya sudah menulis secara detail tentang tiga jenis penerbit tersebut. Silakan baca dulu: mengenal tiga jenis penerbit beserta keunggulan dan kelemahannya.

Bagaimana pengalaman seorang penulis menerbitkan buku di penerbit indie?

Dari hasil diskusi dengan beberapa penulis, pengalaman mereka macam-macam. Ada yang penghasilannya banyak, bahkan melebihi penulis-penulis mayor. Ada pula yang cukup balik modal saja.

Akan tetapi, bagi mereka, overall menerbitkan buku di penerbit indie asyik-asyik aja karena penerbit indie yang mereka pilih yaitu penerbit yang tepat dan juga berkualitas.

Dan dari beberapa penulis yang saya wawancarai, mereka bilang bahwa menerbitkan buku melalui bantuan blog penulis Garut selain biaya penerbitannya murah, juga berkualitas. Untuk bekerja sama dengan blog saya perihal menerbitkan buku, silakan lirik kontak kerjasama.

Lantas, apa saja alasan penulis jangan gengsi menerbitkan buku di penerbit indie?

Begini. Bagi saya, menulis artikel ini sangat menarik. Sebab kalau saya perhatikan, ada semacam gengsi antara penulis yang bukunya berhasil diterbitkan melalui penerbit mayor dengan penulis "indie". Kecanggungan, saling sindir, dan suka meremehkan kerap terjadi.

Penulis yang bukunya diterbitkan melalui penerbit indie malu dekat dan ngobrol dengan penulis "mayor", sedangkan si mayor ini kadang meremehkan dengan nada, "Belum sukses seorang penulis jika naskahnya belum pernah keterima penerbit mayor".

Dalam sudut pandang saya, keduanya unik. Mengapa mereka tidak saling mendoakan saja agar sama-sama sukses dan bersikap biasa-biasa saja kalau ketemu? Mereka kan sama-sama bertujuan untuk membuat "sesuatu" lewat buku dan istilahnya menabur literasi untuk banyak orang.

Dan lalu, mengapa si penulis indie harus canggung dan malu ketemu si mayor? Padahal, bersikap biasa saja. Beberapa penulis mayor rispek kok ke penulis indie.

Nah dari cerita di atas, tanpa bermaksud condong ke para penulis indie, saya akan menyampaikan 5 alasan penulis jangan gengsi menerbitkan buku di penerbit indie.

1. Pendapatan bisa lebih banyak daripada penulis mayor

Banyak orang bilang, penulis yang menerbitkan buku di penerbit indie biasanya sebagai batu loncatan saja karena naskahnya ditolak penerbit mayor. Padahal, bukan. Bukan seperti itu. Ini hanya soal idealisme dan passhion.

Nah jika tolak ukur seorang penulis ingin meraup keuntungan dari karyanya, menerbitkan buku di penerbit indie justru bisa lebih banyak penghasilannya daripada para penulis mayor.

Para penulis mayor, harus nunggu pada bulan-bulan tertentu untuk mendapatkan royalti dari penerbitnya. Sedangkan di penerbit indie, kita bisa mendapatkan uang tiap hari dari hasil buku yang terjual di hari itu juga.

Saya pernah membahas hitung-hitungan di penerbit indie. Jika kalian punya waktu luang, silakan baca artikel ini: menghitung keuntungan di penerbit indie. Di sana, saya bahas segalanya tentang pendapatan yang dapat kita raih ketika menerbitkan buku di penerbit indie.

Jadi, penulis indie (kasarnya) kalau soal "uang" bisa lebih mantap daripada penulis mayor.

2. Tidak semua penerbit indie kualitasnya biasa-biasa saja

Ini yang menjadi ada semacam meremehkan dari beberapa penulis mayor kepada penerbit indie. Kurang tahunya mereka soal penerbit indie sehingga menyamaratakan penerbit indie kualitasnya biasa saja.

Saya tidak mengada-ngada. Saya terjun langsung meneliti beberapa penerbit indie di Indonesia. Hasilnya, banyak penerbit indie yang kualitasnya bagus. Hanya saja mereka mungkin kurang promosi di media sosial. Itu sebabnya, mereka seharusnya mau kerjasama dengan blog niche kepenulisan seperti blog penulis Garut ini. Jadi, ada ulasan mengenai penerbitnya. Macam testimoni lah.

Kesimpulannya: jangan menganggap semua penerbit indie kualitasnya biasa-biasa saja kalau belum terjun langsung memandang kualitas mereka. Banyak banget penerbit inide yang berkompeten. Setidaknya, di mata saya sendiri.

3. Tetap akan diapresiasi oleh banyak orang

Meskipun kita menerbitkan buku di penerbit indie, bagi orang yang tidak mengenal dan mengetahui dunia penerbit, tetap saja karya kita akan diapresiasi oleh banyak orang.

Hal ini sudah terbukti bagi para penulis Garut. Betapa senang teman-teman mereka ketika mereka berhasil menerbitkan buku. Bahkan, guru dan dosen pun ikut senang ketika ada murid atau mahasiswanya menerbitkan buku. Meski, sekali lagi, hanya di penerbit indie.

Untuk menyemangati kalian, saya kasih deh tulisan tentang betapa banyak orang yang mengapresasi kepada penulis buku. Silakan: seberapa besar sih apresiasi orang terhadap penulis buku?

4. Sama-sama memiliki label seorang penulis

Silakan camkan poin keempat mengenai tulisan jangan gengsi menerbitkan buku di penerbit indie ini; mau naskah kita berhasil diterbitkan melalui penerbit mayor maupun indie, tetap saja label "penulis" akan melekat bagi keduanya.

Ya, orang luar yang mengenal kita ketika kita sukses menerbitkan buku, mereka bakal bilang dan menyematkan label penulis kepada kita. Bahkan, tidak hanya untuk penulis yang sudah menerbitkan buku saja. Orang yang hobi nulis pun, pasti bilang kalau kita adalah seorang penulis.

Bukankah begitu?

5. Lewat bantuan blog penulis Garut meski saya kerjasama dengan penerbit indie, kalian tetap bisa keren

Saya kadang berkontemplasi seharian, apa menariknya dan mengapa orang tertarik berkeja sama dengan blog penulis Garut?

Ternyata dari beberapa jawaban yang mereka kemukakan, adalah blog penulis Garut memiliki nilai lebih. Salah satunya selalu mengadakan acara launching buku dan bedah buku di sekolah maupun di kampus para penulisnya. Bahkan, orang luar yang bekerja sama dengan blog penulis Garut diadakan juga acara-acara seperti itu meski lewat online.

Oleh karena keunikan inilah yang membikin penulis merasa keren meski bukunya diterbitkan di penerbit indie. Dan konsep inilah yang tidak banyak dilakukan oleh para penerbit indie. Sedangkan, penulis Garut membuatnya. Menghargai betul karya para penulis indie.

***

Jadi, ada lima alasan mengapa penulis jangan gengsi menerbitkan buku di penerbit indie.

1. Penghasilan bisa lebih banyak daripada penulis yang sukses menerbitkan buku di penerbit mayor
2. Tidak semua penerbit indie kualitasnya biasa-biasa saja
3. Tetap akan diapresasi oleh banyak orang
4. Sama-sama memiliki label seorang penulis sebagaimana penulis mayor
5. Kalian akan tetap keren jika bekerja sama dengan penulis Garut



Ridwansyah
Pendiri penulis Garut | Penggiat literasi | Follow IG/Twitter: @aaridwan16.

Postingan Selanjutnya Artikel sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url