5 Persiapan Membuat Komunitas Literasi di Kampus agar Kompak dan Konsisten

Membuat Komunitas Literasi

Kampus menjadi salah satu tempat yang berpengaruh dalam membangun kegiatan literasi. Sebab, mahasiswa, seharusnya memiliki skill menulis.

Skill tersebut, nantinya dapat digunakan untuk tugas akhir kuliah yaitu saat menyusun skripsi. Seharusnya juga, mahasiswa memiliki ketertarikan terhadap aktivitas membaca.

Memang, saya paham bahwa literasi itu cakupannya luas, bukan hanya literasi baca-tulis saja.

Akan tetapi, dalam hal ini, literasi baca-tulis (setidaknya) paling umum ingin orang bikin di kampus. Sebab, kalau saya perhatikan, sudah banyak komunitas literasi yang bermunculan di sebuah kampus. 

Tapi yang jadi pertanyaannya adalah, apakah bisa kompak dan konsisten?

Karena banyak orang yang sudah membuat komunitas literasi, tapi semangatnya hanya diawal saja.

Lantas, gimana persiapan dalam membuat komunitas literasi, khususnya di kampus?

Mengingat, seperti yang saya bilang di atas bahwa kampus sangat berpengaruh dalam membangun, bahkan mengembangkan dunia literasi.

Berdasarkan pengalaman saya, ada lima persiapan dalam membuat komunitas literasi di kampus. Dengan tujuan--nantinya--komunitas literasi ini bisa kompak dan konsisten.

Saya akan menjabarkan secara runut tentang apa saja yang perlu dipersiapkan dalam membuat komunitas literasi.

Tapi, sebelum menuju ke "persiapan" coba tanya dulu kepada diri kalian pribadi. Ingin menjadi sebagai pendiri atau anggota saja?

Biasanya orang yang tertarik mencari tahu tentang "cara membuat komunitas literasi" entah buat di kampus atau di daerahnya sendiri, adalah orang yang ingin membentuk sebuah komunitas. Menjadi pencetus lah istilahnya.

Dan saya berharap, mudah-mudahan kalian memang ingin menjadi sebagai pendiri. Sebab, postingan tentang persiapan membuat komunitas literasi di kampus ini akan mudah bagi orang yang punya niat ingin sebagai seorang pionir/pelopor.

Perhatikan baik-baik postingan lima persiapan dalam membuat komunitas literasi di kampus, dengan tujuan agar kompak dan konsisten ini.

Dekati dan gaet orang yang tertarik sama kegiatan membaca dan menulis

Komunitas literasi itu idelanya diisi oleh orang-orang yang hobi sama kegiatan membaca dan menulis. Namun, dalam membangun atau mengembangkan dunia literasi ada baiknya tidak pandang bulu.

Dekati saja orang yang seenggaknya punya "ketertarikan" sama kegiatan membaca dan menulis. Sebab, tidak sedikit orang yang berliterat, tapi tidak tertarik sama komunitas literasi. Dan ini tidak perlu kalian ajak paksa dan disayangkan. Biarkan saja.

Ada banyak cara untuk mengetahui mahasiswa-mahasiswi A,B,C,D suka membaca dan menulis. Misalnya saja kalian berkunjung ke perpustakaan kampus lalu tandai mereka.

Kemudian dekati lalu kenalan. Dan nanti, diskusikan niat kalian dalam membuat komunitas literasi di kampus. Ini cara sederhana yang saya gunakan pada saat itu.

Cara lain yang perlu dicoba dalam membuat komunitas literasi di kampus adalah melalui bantuan BEM. 

BEM, nantinya, anggota yang ditugaskan pada bidang yang ada kaitannya dengan aktivitas membaca dan menulis ikut serta dan membantu dalam komunitas literasi yang ingin kalian bikin.

Saya yakin, hampir tiap orang bakalan mendukung untuk membuat komunitas literasi. Sekalipun bagi mereka yang kurang suka membaca maupun menulis.

Melalui bantuan dosen yang kiranya suka menulis, bisa dicoba juga untuk membuat komunitas literasi di kampus kalian.

Dosen akan dengan mudah memberikan informasi di dalam kelas kepada mahasiswa-mahasiswinya. Biasanya dosen yang hobi menulis, mau membantu. Bahkan dia siap sebagai pembinanya. Coba saja.

Mungkin kalian bertanya, untuk awalan dalam membuat komunitas literasi di kampus, baiknya berapa orang dulu? Sedikit yang ingin ikut pun, saya rasa, bikin saja. Yang penting adalah ada SDM-nya saja dulu.

Memiliki komitmen yang jelas dengan orang-orang yang kalian ajak

Ketika sudah ada SDM-nya atau sudah menemukan orang yang sefrekuensi dengan kalian, maka hal selanjutnya adalah memiliki komitmen yang jelas dengan mereka.

Salah satu bentuk komitmen yang harus ada adalah mau berjuang bersama dari nol untuk mengembangkan kampus.

Tanpa komitmen, kekompakan tidak akan muncul. Tanpa komitmen, sulit untuk konsisten.

Cara untuk berkomitmen dengan mereka (mereka yang mau ikut serta membuat komunitas literasi di kampus) adalah membuat semacam peraturan yang simple, dan meski simple, mau tidak mau kudu ditaati.

Seperti mengatur jadwal pertemuan, entah seminggu atau dua minggu sekali, catatannya yaitu harus hadir semua.

Lebih dari itu, berembuk bareng membuat agenda kegiatan. Kegiatan yang sederhana saja seperti diskusi buku. Kemudian silaturahmi dengan komunitas lain.

Nah, komitmen ini yang kemudian harus dijaga. Saya yakin, dengan adanya komitmen maka kekompakan dan konsisten dalam mengembangkan komunitas literasi di kampus akan terlihat muncul.

Mempunyai basecamp sendiri

Jangan bilang "punya tempat sendiri" itu tidak penting dalam sebuah komunitas. Justru, komunitas terlihat "ada" karena ia memiliki tempat.

Dengan adanya tempat kumpulan atau basecamp, ini memudahkan agar orang tertarik sama komunitas yang kita buat.

Komunitas literasi pun demikian. Dan sepanjang yang saya ketahui, ada beberapa komunitas literasi di kampus yang tidak mau masuk UKM.

Maka dari itu, mereka tidak memilih kampus sebagai basecampnya.

Mungkin, kalau untuk awalan agar memudahkan orang tertarik sama komunitas literasi yang kalian bikin, silakan di perpustakaan saja.

Namun, nanti, ada baiknya mempunyai basecamp sendiri. Entah di sebuah kedai kopi, di taman baca yang sudah teman kalian bikin, dan bisa juga di rumah kalian. Bebas.

Saya bahkan menyarankan kepada kalian, jauh sebelum benar-benar membentuk sebuah komunitas literasi, pikirkan dulu basecampnya.

Hal ini agar tidak membingungkan orang-orang yang kalian ajak. Kalau sudah mempunyai basecamp, nanti tinggal ajak saja mereka ke basecamp tersebut tanpa basa-basi. Di basecamp, diskusikan segala macam.

Mungkin juga kalian bisa kerja sama dengan komunitas lain, yaitu izin minjem tempat buat kumpulan. Saya yakin, komunitas pecinta alam, komunitas apapun itu, bakal mengizinkan. Istilahnya buat sementara saja.


Menyiapkan fasilitas yang cukup

Fasilitas itu tidak perlu memadai (untuk sementara), tapi yang penting cukup. Cukup untuk mengisi kegiatan seperti diskusi buku, berarti butuh buku yang didiskusikan.

Butuh laptop juga buat merancang kegiatan dan mencatat segala hal untuk kebutuhan komunitas. Saya yakin, mahasiswa sekarang sudah memiliki laptop sendiri. 85% lah.

Fasilitas untuk komunitas literasi tidak begitu mahal dan memberatkan kayak komunitas lain. Bahkan, mendapatkan buku bisa dengan cara membuka donasi.

Buku bisa minta juga kepada pemerintah. Yang perlu kalian lakukan adalah tinggal "maunya" saja. Dan juga berani. Kalau sudah ada kemauan dan keberanian, lihat nanti hasilnya.

Memiliki media sendiri

Sebelum benar-benar resmi membuat komunitas literasi di kampus, sebagai seorang pionir atau pelopor, coba bikin blog, situs, atau website sendiri.

Mau yang gratisan untuk sementara, bisa. Banyak tampilan yang bagus dari Blogger maupun Wordpress. Kalian boleh dengan cara minta bantu kepada orang yang paham tentang penampilan website.

Apa manfaat memiliki media sendiri?

Salah satunya adalah uneg-uneg kalian terhadap kebijakan-kebijakan kampus dapat tersampaikan. Aspirasi dari mahasiswa dapat tercurahkan.

Kalau tidak berani ngomong kepada rektor dan para dosen, tuangkan lewat tulisan.

Ajak mahasiswa lain untuk menulis atau menjadi kontributor di website komunitas literasi yang kalian buat. Bebas saja, tulis.

Tak perlu memikirkan teknik menulis bagus dan tidak, yang penting ada kemauan buat menulis. Share ke berbagai platform media sosial agar dibaca oleh mahasiswa lain.

Urus media yang kalian bikin menjadi besar. Dari generasi kalian hingga ke generasi berikutnya. Setidaknya media kalian "besar" di ruang kampus kalian sendiri.

Saya yakin, langkah ini menjadi pemantik mahasiswa lain agar bergabung dengan komunitas literasi yang kalian bikin.

***

Setelah kalian membuat komunitas literasi, perhatikan sistem, konsep, profil, prosfek, dan program kerjanya.




Ridwansyah
Pendiri penulis Garut | Penggiat literasi | Follow IG/Twitter: @aaridwan16.
Artikel Selanjutnya Postingan Selanjutnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url