5 Syarat Menjadi Penulis Novel berdasar Pengalaman Pribadi

Syarat Menjadi Penulis Novel


Syarat menjadi penulis novel sebenarnya tidak lah sulit. Itu sebabnya, menurut saya, siapapun itu bisa saja menjadi seorang novelis. Asalkan mau belajar, pasti ada jalannya.

Hanya saja, banyak orang yang ingin jadi penulis novel, tapi menulis saja tidak konsisten. Padahal, latihan menulis setiap hari perlu dilakukan agar tulisan semakin bagus dan enak dibaca.

Berdasar pengalaman saya selama mengamati dunia novel dan pernah menulis dua novel, setidaknya ada lima hal yang perlu dilakukan oleh orang-orang yang ingin menjadi seorang novelis. Lima hal tersebut penting diaplikasikan. Sebab, katakan lah itu merupakan dasar utama bagi calon penulis novel.

Berikut beberapa syarat yang sudah saya rangkum di bawah ini. Silakan perhatikan baik-baik agar kalian dapat memahaminya.

Syarat menjadi penulis novel

1. Rajin membaca novel

Dulu, sebelum saya betul-betul terjun ke dunia novel, hal pertama yang saya lakukan adalah membangkitkan diri saya agar ada ketertarikan membaca novel. Saya masih ingat, buku novel pertama yang saya baca yakni karya Raditya Dika. Di situlah saya tertarik ingin menjadi penulis buku.

Nah, ketika sudah ada ketertarikan membaca novel maka pertahankan rasa tertarik itu dengan cara; rajin-rajinlah membaca novel. Ciri orang yang rajin membaca novel adalah selalu ingin membeli novel, selalu menyisihkan uangnya buat beli novel, atau meminjam novel milik teman.

Dengan rajin membaca novel, ada kemungkinan kita tertarik juga ingin membuat novel. Meskipun tidak semua pembaca novel tertarik menjadi penulis, tapi kebanyakan novelis justru lahir dari kegiatan membaca dulu. Dari kesukaan dia membaca novel.

Jadi, rajin-rajinlah membaca novel.


2. Mau belajar menulis novel

Kalau kalian tahu, seorang novelis yang sudah profesional pun, mereka masih membuka hatinya untuk belajar menulis novel dari penulis lain. Apalagi bagi penulis pemula, wajib banget belajar menulis novel.

Masalahnya, mungkin, belajar ke siapa? Kini marak bermunculan kelas menulis kelas menulis yang selalu saja harus bayar.

Begini.

Untuk memahami kata “belajar” sesungguhnya tidak melulu ditujukan ikut kelas menulis. Ya jelas kalau ikut kelas menulis, pasti harus bayar. Meskipun ada kelas menulis yang gratis, tapi biasanya kurang maksimal dalam pemberian materinya.

Untuk itu, kata “belajar” di sini beragam artinya. Kalian bisa belajar lewat internet, belajar dari buku, dan lain-lain. Katakan lah otodidak.

Saya pun belajar secara otodidak. Tidak pernah ikut kelas menulis. Metode pembelajarannya saat itu mulai dari menggarisbawahi diksi-diksi dari buku yang saya baca, menentukan tema cerita, bikin tokoh novel, dan lain sebagainya.

Semua pengalaman belajar saya, ada di blog ini. Semua sudah saya tulis. Silakan cek aja di bagian daftar isi.

Jadi, langkah kedua adalah mau belajar menulis novel.

3. Memiliki mental yang kuat

Setelah belajar menulis, barulah persiapkan mental. Namanya orang baru belajar, pasti pas nulis agak acak-acakan dulu. Namanya pemula, pasti bikin kalimat pun suka tidak logis.

Oleh sebab itu, mentalnya dikuatin ketika karya kalian dikritik oleh penulis lain. Mental dikuatin saat tulisan kalian tidak dianggap sesuai dengan PUEBI atau KBBI.

Saya juga dulu seperti itu, masih ingat pas nulis novel pertama, betapa banyak kritikan yang masuk. Tapi, untung saja mental saya kuat sehingga masih terus menulis sampai sekarang.

Silakan baca ini terkait mental: jiwa seorang penulis.

4. Memahami penerbitan buku novel

Dalam hal ini, tugas seorang penulis novel tidak hanya menulis saja, tapi sebaiknya mulailah memahami penerbitan buku.

Mengapa?

Sebab, banyak penulis pemula yang masih kebingungan tentang; gimana sih cara nerbitin buku, padahal naskah novel sudah siap, sudah ada. Sehingga, kalau tidak paham alur penerbitan, bisa jadi kalian akan menuai kekecewaan. Bisa jadi kalian bakal dibohongin penerbit karena ketidakpahaman kalian terhadap penerbit.

Memang sekarang ini banyak penerbit baru bermunculan karena animo orang terhadap dunia menulis sudah banyak. Tapi, ingat, tidak sedikit penerbit yang melakukan kecurangan. Bahkan malah hobinya memperkaya dirinya sendiri ketimbang merangkul penulis-penulisnya.

Oleh karena itu, syarat keempat ini penting bagi kalian yang ingin menjadi seorang novelis.

5. Bersedia menikmati proses di dunia penulisan novel

Memangnya, bagaimana prosesnya? Mengapa harus ada kata “bersedia”?

Ya gimana tidak, 1 banding 20 mungkin novel-novel yang sukses diterbitkan sama penerbit mayor dan dipajang di toko buku. Sisanya ditolak, ditolak, dan ditolak.

Apalagi saat ini persaingan semakin banyak. Sebut saja cita-cita orang ingin menjadi penulis novel best seller sudah melimpah. Semakin susah saja proses novel kita terbit di penerbit mayor.

Belum lagi, penghasilan penulis novel tidak begitu banyak. Saya pernah membahasnya dalam tulisan; gaji penulis novel. Benar, royalti penulis novel sangat sedikit. Belum lagi banyak pembajakan buku yang dapat merugikan penulis.

Jadi, mau tidak mau, sebagai orang yang berniat ingin menjadi novelis, silakan bersedia lah menikmati proses ditolak penerbit, capek nulis, capek ngeliat penulis lain udah bagus progresnya, dan lain-lain.

-

Barangkali hanya lima saja syarat menjadi penulis novel yang dapat saya bagikan. Semoga ada manfaatnya. Sekian.

BACA JUGA: Gaya Menulis Novel
Postingan Selanjutnya Artikel sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url