Artikel Terbaru

Pola Pikir Seorang Penulis yang Harus Dimiliki

Pola Pikir Seorang Penulis


Beberapa bulan yang lalu, saya pernah membahas tentang jiwa seorang penulis.

Sampai sejauh ini terhitung bahwa, artikel tersebut sudah dibaca oleh ribuan orang. Dan kini, saya ingin mengisi kembali rubrik "Tutulisan" ini dengan postingan pola pikir seorang penulis.

Saya rasa, betapa pentingnya seorang penulis memiliki pola pikir yang cemerlang. Dan menghindari juga beberapa pola pikir yang tak pantas dipunyai sama seorang penulis.

Apa itu pola pikir?

Jika saya sederhanakan, pola pikir ini lebih kepada cara seseorang berpikir.

Saat dirinya berpikir, terbentuk lah di pikirannya semacam pola yang berhubungan dengan tindakan, kepercayaan, atau perasaannya. Dan apakah nantinya cara berpikir dia; obsesif, kritis, optimis, atau malah pesimis.

Nah, pola pikir ini sangat menentukan keberhasilan seorang penulis. Sebab, pola pikir erat kaitannya dengan sikap dan perilaku.

Bukan bagi seorang penulis saja sebenarnya, tentu pola pikir bisa mempengaruhi kepada siapa saja.

Namun, satu hal yang pasti dan perlu kita catat adalah; terkadang pola pikir ini dapat membantu kita berkembang atau bahkan merugikan.

Jenis pola pikir seorang penulis yang wajib dimiliki

Mari masuk ke inti pembahasan.

Di bawah ini akan saya jelaskan beberapa jenis pola pikir yang wajib dipunyai oleh seorang penulis.

Berpikir terbuka

Ketika berkarya melalui dunia penulisan, kita akan mendapati dua respon dari pembaca; pujian dan kritikan.

Saat karya kita dipuji maka jadikan saja sebagai tantangan bahwa, kita harus membuat karya yang sama-sama bakal mengundang pujian. Artinya, mempertahankan atau membikin karya yang lebih bagus lagi.

Tapi, saat dikritik? Apalagi dicaci atau karya tulis kita dijelek-jelekin sama pembaca, apa yang perlu kita lakukan?

Adalah berpikir terbuka. Mengiyakan dan mempersilakan kritikan tersebut masuk.

Dulu, saat awal-awal saya terjun di dunia penulisan, banyak banget yang mencemooh buku saya. Mulai dari penulisan yang acak-acakan, kata-kata tidak sesuai PUEBI, dan lain-lain.

Namun, satu hal yang saya tekankan pada diri saya saat itu, adalah berpikir terbuka.

Maksud saya, saya terbuka dan sadar bahwa, karya saya memang jauh dikatakan bagus saat itu. Karena, baru berkarir di dunia literasi.

Dan, seiring saya serius menggeluti dunia penulisan, katakan lah nulis di media ini-itu, banyak membaca, banyak berdiskusi, saya kemudian menilai bahwa, ternyata akan ada masanya orang yang dicemooh lalu banyak dipuji karyanya.

Kuncinya satu; berpikir terbuka.

Terbuka untuk mau belajar terus. Terbuka untuk bereksperimen terus di bidang yang kita sukai. Nanti, hasilnya akan kelihatan.

Berpikir kritis

Perlu saya sampaikan bahwa, spesialis masing-masing penulis itu banyak bentuknya.

Untuk penulis yang berkiprah di media online, yang fokus utamanya menulis opini, ditambah lagi suka membahas dunia politik, berpikir kritis itu perlu.

Termasuk para penulis novel yang suka menyisipkan dunia politik dalam cerita yang dikarangnya, perlu juga berpikir kritis, seperti Tere Liye misalnya.

Benang merahnya dari berpikir kritis ini adalah, tiap penulis, entah spesialisnya di bidang yang mana saja, harus mempunyai pikiran yang kritis.

Kritis terhadap penerbit. Kritis terhadap media. Kritis memandang sesuatu yang lagi viral untuk kemudian diangkat menjadi ide tulisan. Dan masih banyak lagi.

Berpikir realistis

Jujur, saya masih mengamati perkembangan tulisan saya tentang gaji seorang penulis novel.

Sampai detik ini, pembacanya masih terus mengalir. Dan itu membuktikan bahwa, betapa keponya orang-orang terhadap penghasilan seorang penulis novel.

Nah buat kalian yang suka menulis novel, saya pikir, perlu banget berpikir realistis. Bahwa, selama novel kalian masih diterbitkan melalui penerbit gratisan, lalu selama novel kalian tidak terjual banyak, maka uang yang didapatkan tidak akan begitu banyak juga.

Kemudian, selama tulisan kalian masih dihargai 20 ribu rupiah, selama jasa penulisan artikel masih dibayar 600 kata hanya 10.000, jangan pernah bisa merasa "cukup" dari menulis.

Berpikir realistis saja bahwa, kalau tulisan kalian tembus ke media online tiap seminggu sekali dan dibayar 650.000 kayak di Detik, maka boleh dikatakan cukup untuk kehidupan sehari-hari.

Kalau buku kalian dalam seminggu terjual sekian juta eksemplar kayak Andrea Hirata, ya kalian bisa kaya.

Bermimpi jadi penulis hebat atau kaya raya memang perlu. Tapi, ayolah, realistis saja. Prosesnya panjang banget untuk sampai ke titik itu.

Memiliki pola pikir yang berkembang

Penulis yang mempunyai pola pikir tetap biasanya sibuk membuktikan kehebatan dirinya. Defensif apabila karyanya dikritik. Dia selalu ingin menjadi spotlight di media mana pun. Pendapatnya selalu merasa paling oke.

Namun, penulis yang memiliki pola pikir berkembang, justru sebaliknya. Dia tidak selalu merasa penting untuk menunjukkan kehebatannya. Dia menulis hanya untuk melakukan sesuatu yang disukainya. Itu saja.

Apakah kalian sudah memiliki pola pikir berkembang saat berkarya?

Pola pikir perfeksionis

Nulis, nulis, edit.

Nulis, nulis, edit.

Dia tidak pernah melupakan proses editing usai menulis. Itulah pengertian sederhana dari pola pikir perfeksionis.

Ada yang kurang enak saat dibaca, hapus. Ada yang perlu ditambahkan, ya tambahkan.

Kalau saya jelaskan lebih luas lagi, jenis pola pikir ini akan memicu kontroversi. Sebaiknya, berkunjung saja ke tulisan: menulis terlalu perfeksionis.

Jenis pola pikir seorang penulis yang perlu dihindari

Berpikir obsesif

Bagi penulis pemula, terkadang ada masa di mana mereka takut melanjutkan karirnya di dunia penulisan. Ketakutan itu selalu meneror dirinya sehingga ingin berhenti saja melakukan aktivitas menulis.

Katakan lah perjalanan dirinya dalam menulis tidak terlihat berkembang dengan baik. Tulisannya gitu-gitu aja. Kadang insucre membaca tulisan penulis lain yang, tulisannya bagus-bagus.

Teruuus merasa takut, padahal perjalanannya belum sehebat penulis lain.

Inilah pola pikir yang wajib dihindari.

Berpikir pesimis

Rasanya dia berkiprah di dunia tulis-menulis dikutuk untuk gagal. Tulisan selalu ditolak media online. Naskah selalu ditolak penerbit.

Padahal, ada banyak cara yang bisa membuat dirinya bahagia meski ditolak media online maupun penerbit besar. Katakan lah ada solusinya, kok.

Semisal, saat ditolak media online, kirim saja ke media lokal atau muat di blog pribadi. Atau saat naskah novel ditolak penerbit, terbitkan melalui penerbit indie.

Pola pikir yang, ketergantungan pada orang lain

Mungkin kalau bergabung dengan media penulis Garut, saya akan diterima. Tulisan saya bakal diterbitkan.

Lantas, bagaimana kalau kalian bikin media sendiri saja? Dan buatlah media kalian menjadi besar. Bahkan lebih besar dari media ini.

Lagi-lagi, ini masuk pada pola pikir yang berkembang tadi.

-

Jadi, itulah beberapa pola pikir yang harus dimiliki seorang penulis.

Semoga artikel ini ada manfaatnya.

Tidak ada komentar

Tolong berkomentar dengan baik dan logis. Jangan melakukan spam. Kalau bisa, berkomentar lah pakai nama, jangan anonim. Komentar kalian saya filter dulu. Jika komentar kalian sesuai selera saya, akan saya setujui. Terima kasih.