Artikel Terbaru

Menelisik Kerugian dan Kelebihan Menulis Terlalu Perfeksionis bagi Seorang Penulis

Menulis Terlalu Perfeksionis


Saya cukup salut sama penulis-penulis produktif. Mereka bisa membikin sekitar 4-5 artikel per hari. 

Bagi saya, membuat satu artikel per hari dengan minimal 600 kata saja sering kali kesulitan.

Melihat produktivitas mereka, saya kerap melayangkan pandangan begini: sepertinya mereka menulis tidak seperfeksionis saya.

Iya, mereka menulis (mungkin) ya menulis bebas saja. Tidak berpikir ini-itu.

Berbeda dengan saya, baru menulis tiga hingga empat paragraf saja sudah dibaca ulang, lalu dihapus, lalu diedit, dan begitu terus hingga waktu terbuang cuma-cuma.

Mungkin paling cepat sekitar dua jam bisa menyelesaikan satu artikel.

Ah, i'am bad writer!

Sebenarnya apakah menulis terlalu perfeksionis berbahaya bagi seorang penulis?

Pertanyaan itu muncul di kepala saya. Dan saya yakin, beberapa pembaca ada yang memiliki sifat perfeksionis seperti saya.

Pertanyaan itu dalam forum diskusi kepenulisan atau saat saya berkunjung ke beberapa kampus, tidak pernah ada audiens atau mahasiswa yang bertanya demikian.

Paling, saya mendengar curhatan menyedihkan, "saya terlalu perfeksionis saat menulis" adalah curhatan saya sendiri ke beberapa kawan.

Mengerikan!

Akan tetapi di balik pertanyaan apakah menulis terlalu perfeksionis berbahaya bagi seorang penulis, ternyata ada kelebihannya.

Kalau kekurangan atau kerugiannya tentu banyak. Tapi, ini mah ada kelebihan yang selama ini saya rasakan ketika menulis ingin perfeksionis.

Baik. Langsung saja, mari kita telisik kerugian dan kelebihannya..

Kerugian menulis terlalu perfeksionis

1. Stress

Saya langsung to the point saja, kerugian pertama adalah stress.

Gimana nggak stress coba?

Ha, ketika ada job menulis, yang misalnya harus diselesaikan pada hari Rabu, lalu ada dua hari untuk menyelesaikannya, dan seharusnya hari Senin atau paling mentok hari Selasa harusnya sudah selesai, eh malah belum selesai-selesai.

Alasan belum selesai?

Ingin terlihat bagus dari pemberi job. Padahal, kemampuan menulis biasa-biasa saja. Skill menulis juga bisa-biasa saja.

Bagi penulis yang perfeksionis saat menulis, kami tidak bisa dinasehati, "Nulis ya nulis saja". 

Kayaknya, perlu terapi khusus agar kami sadar bahwa ini cukup membahayakan.

2. Sulit produktif

Ketika melihat kawan-kawan saya yang menulisnya produktif, saya sungguh tertarik ingin seperti mereka.

Dalam hati, saya sanggup kok nulis 4 artikel per hari. Nyatanya, itu hanya omong kosong saja. Hahaha.

Buktinya, masih gini aja terus. Sulit produktif.

Saya bisa menulis empat artikel per hari, tapi hasilnya bakalan buruk. Dan itu justru bikin saya stress lagi.

3. Buang-buang waktu

Hasil yang didapat ketika menulis bebas dengan menulis terlalu perfeksionis, kadang-kadang sama. Memang benar, kadang-kadang hasilnya sama!

Jadi, buang-buang waktu saja sebenarnya kalau terlalu perfeksionis mah.

Dan, teori-teori terkait membuat outline dulu saat menulis, lakukan freewriting, dan lain-lain, sesungguhnya nggak masuk bagi penulis perfeksionis mah.

Ampun...

Nah tadi, saya bilang bahwa ada kelebihannya saat menulis terlalu perfeksionis.

Sebenarnya kelebihannya sedikit, namun cukup membuat kalian berdalih, "Ya sudah, pertahankan saja sifat menulis terlalu perfeksionis ini".

Kelebihan menulis terlalu perfeksionis

Selama mengaplikasikan sifat perfeksionis saat menulis, saya justru membuahkan hasil yang luar biasa.

Pertama, tulisan saya sering dianggap cukup mendalam. Dan suka bikin relate bagi pembaca.

Gimana nggak relate bagi pembaca? Untuk riset konten tulisan saja butuh waktu beberapa jam.

Kedua, tulisan sering ditilai enak dibaca.

Dalam artian, titik dan komanya kena. Teknik menulisnya rapi. Tidak menye-menye, dan dapat dibaca dengan nada agak membumi, kata pembaca sih.

Apa reaksi saya ketika mendengar pujian dari pembaca?

Makin pengin perfeksionis saja. Sebab selalu ingin memberikan bacaan menarik bagi pembaca.

Ditambah lagi ingin mendulang banyak pembaca.

Saya sering beranggapan bahwa untuk apa menulis berlama-lama kalau dapat pembaca sedikit?

Apakah pemikiran itu keliru? Bisa iya. Bisa tidak.

Balik lagi kalau kalian bukan tipe penulis yang perfeksionis, saya yakin kalian tidak akan memikirkan ingin mendapatkan banyak pembaca.

Benar, kan?

-

Barangkali, itu saja curhatan saya terkait menelisik kerugian dan kelebihan menulis terlalu perfeksionis bagi seorang penulis.

Silakan beri kesimpulan dari diri kalian sendiri.

Tidak ada komentar

Tolong berkomentar dengan baik dan logis. Jangan melakukan spam. Kalau bisa, berkomentar lah pakai nama, jangan anonim. Komentar kalian saya filter dulu. Jika komentar kalian sesuai selera saya, akan saya setujui. Terima kasih.