Review Buku Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia karya Hanan Nugroho

Review Buku Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia karya Hanan Nugroho
Siti Sunduz Oleh Siti Sunduz •

Ada buku yang membuat kita merasa sedang membaca.  Ada pula buku yang membuat kita merasa sedang berpetualang. Dan, buku Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia karya Hanan Nugroho, bagi saya, lebih dekat pada yang kedua.

Saya seperti diajak berpetualang dari satu kota ke kota lain. Dari Boston, Tokyo, Hangzhou, Bagan Datuk, Kamboja, hingga Itaewon.

Bertemu dengan masjid, orang-orang, sejarah, budaya, juga cerita-cerita kecil yang mungkin terlihat sederhana, tetapi ternyata menyimpan banyak makna.

Awalnya saya mengira buku ini akan banyak bercerita tentang masjid-masjid dunia. Ternyata tidak sesederhana itu.

Masjid memang menjadi titik berangkatnya. Tetapi dari sana, cerita berkembang ke berbagai hal.

Lantas, apa sebenarnya yang ingin disampaikan buku ini kepada pembacanya?

Mari kita berjalan sebentar. 

 

Baca Juga: Review Buku Jejak Makna karya Graece Tanus 

Review Buku Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia karya Hanan Nugroho

Judul: Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia
Penulis: Hanan Nugroho
Penerbit: Satria Indra Prasta Publishing
Cetakan: Pertama, Juni 2025
Tebal: vi + 162 halaman
Ukuran: 14 × 20 cm
ISBN: 978-623-156-453-5 

Pergi Jauh, tetapi Tidak Pernah Benar-Benar Meninggalkan Rumah

“Tanah airku tidak kulupakan…”

Ada lagu yang terasa berbeda ketika dinyanyikan oleh seseorang yang sedang berada jauh dari rumah. Tanah Airku karya Ibu Sud adalah salah satunya.

Lagu ini berbicara tentang seseorang yang pergi, melihat banyak negeri yang indah, tetapi tetap membawa tanah kelahirannya di dalam hati. Keindahan dunia tidak membuatnya lupa pada kampung halaman. Justru pengalaman melihat dunia membuat rasa memiliki terhadap tanah air semakin kuat.

Membaca Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia karya Hanan Nugroho membuat saya teringat pada lagu tersebut. Bukan karena buku ini sedang membahas Tanah Airku, melainkan karena keduanya bertemu pada satu gagasan yang sama: kita boleh pergi sejauh mungkin, tetapi jangan sampai perjalanan membuat kita kehilangan akar.

Buku yang terbit pada Juni 2025 ini merupakan kumpulan kisah perjalanan Hanan Nugroho ke berbagai tempat, dengan masjid sebagai salah satu titik penting dalam perjalanannya.

Boston, Tokyo, Hangzhou, Bagan Datuk, Kamboja, hingga Itaewon hadir bukan hanya sebagai nama tempat, tetapi sebagai ruang untuk bertemu manusia, sejarah, budaya, pendidikan, keluarga, dan refleksi spiritual.

Maka, sejak awal, buku ini sebenarnya sudah memberi sinyal bahwa ia tidak ingin sekadar menjadi buku tentang “ke mana penulis pergi.” Namun, ia ingin berbicara tentang “apa yang ditemukan penulis ketika pergi.” Dan ternyata, salah satu yang paling sering ditemukan adalah Indonesia. 

Dunia sebagai Cermin untuk Melihat Indonesia

Ada paradoks menarik dalam buku ini.

Semakin jauh penulis pergi, semakin sering ia berbicara tentang rumah.

Di Tokyo Camii, misalnya, pembaca diajak menikmati kemegahan arsitektur masjid bergaya Ottoman. Tokyo Camii juga digambarkan sebagai ruang perjumpaan umat Muslim dari berbagai bangsa dan jembatan budaya antara Islam dengan masyarakat Jepang.

Tetapi setelah mengagumi masjid tersebut, penulis justru teringat pada masjid-masjid di Indonesia. Ia tidak melihat keindahan Tokyo sebagai alasan untuk mengatakan bahwa Indonesia tertinggal.

Sebaliknya, ia mengingat begitu banyak masjid di tanah air, di pulau besar dan kecil, di pegunungan, bahkan di tepian laut. Di sinilah saya merasa Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia bertemu dengan Tanah Airku. Karena mencintai tanah air bukan berarti harus menutup mata terhadap keindahan negeri lain.

Justru kita perlu melihat dunia.

 

Belajar dari dunia.

Bertemu dengan dunia.

Lalu pulang dengan perspektif yang lebih kaya.

Bukan pulang dengan rasa minder, tetapi pulang dengan kesadaran: apa yang bisa kita pelajari dan apa yang bisa kita berikan kembali kepada tanah air?

Masjid sebagai Ruang untuk Berhenti

Judul buku ini memakai kata “energi”. Dan setelah membaca kisah-kisahnya, energi tersebut menurut saya tidak perlu dipahami secara rumit.

Masjid menjadi energi karena ia menyediakan ruang untuk berhenti.

Seorang pelari berhenti dari langkahnya.

Seorang musafir berhenti dari perjalanannya.

Seorang perantau berhenti sejenak dari kesibukannya.

Lalu manusia kembali mengingat dirinya sendiri.

Itulah yang membuat masjid dalam buku ini terasa lebih dari sekadar bangunan.

Tokyo Camii, misalnya, bukan hanya indah secara arsitektur. Ia menjadi ruang pertemuan orang Turki, Indonesia, Pakistan, Malaysia, Jepang, bahkan pengunjung non-Muslim yang datang untuk belajar tentang Islam.

Masjid menjadi tempat di mana perbedaan tidak harus menjadi jarak. Dan perjalanan menjadi ruang belajar bahwa menjadi Muslim di dunia global tidak berarti kehilangan identitas. 

Harvard dan Refleksi tentang Wakaf

Bagian lain yang menarik adalah ketika perjalanan membawa penulis ke lingkungan Harvard.

Ia melihat berbagai bangunan dan fasilitas pendidikan yang lahir dari tradisi sumbangan kepedulian pada kebermanfaatan. Dari sana muncul refleksi tentang betapa besar kekuatan wakaf dalam mendukung pendidikan dan pembangunan peradaban.

Bagi saya, bagian ini memperlihatkan karakter buku yang cukup kuat. Penulis tidak hanya menjadi traveler yang mencatat apa yang dilihat. Ia mencoba menjadi learner.

Apa yang dilihat di luar negeri dipikirkan kembali dalam konteks Indonesia. Maka perjalanan tidak berhenti pada kekaguman.

Ada proses membandingkan.

Ada proses mempertanyakan.

Ada keinginan untuk membawa pulang sesuatu.

Dan mungkin itulah bentuk cinta tanah air yang lebih dewasa.

Bukan sekadar mengatakan:

“Indonesia adalah yang terbaik.”

Tetapi mampu mengatakan:

“Saya mencintai Indonesia, karena itu saya mau belajar dari siapa pun yang memiliki sesuatu yang baik.”

Ketika Perjalanan Menjadi Cerita tentang Pulang

Kisah Bagan Datuk memberi warna lain.

Di tepi Sungai Perak, penulis bertemu dengan sejarah perantauan masyarakat Jawa dan Masjid Tuminah-Hamidi yang menjadi bagian dari kisah perjuangan, persaudaraan, dan cinta antargenerasi. Bagan Datuk digambarkan bukan sekadar sebagai tempat tinggal baru, tetapi sebagai rumah dalam makna yang lebih luas.

Ini menarik.

Sebab ternyata rumah tidak selalu identik dengan alamat. Rumah bisa berupa orang-orang yang kita rindukan. Bahasa yang kita gunakan. Makanan yang kita cari ketika berada jauh. Tradisi yang kita bawa. Doa yang diwariskan. Dan ingatan tentang tempat dari mana kita berasal.

Bukankah itu pula yang membuat Tanah Airku begitu kuat?

Seseorang bisa berada di negeri yang jauh dan melihat sesuatu yang “masyhur permai”, tetapi tetap memiliki tempat yang membuatnya merasa paling senang: kampung dan rumahnya.

 

Baca Juga: Review Buku Recovery Corner karya Febby Yonika 

Pandangan Reviewer Terhadap Buku Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia karya Hanan Nugroho

Bagi saya, Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia bukan terutama buku tentang masjid.

Ia adalah buku tentang perjalanan manusia mencari makna.

Masjid menjadi titik berhenti.

Kota menjadi ruang belajar.

Perjalanan menjadi pengalaman.

Dan Indonesia menjadi sesuatu yang terus muncul dalam ingatan.

Mungkin inilah mengapa buku ini terasa begitu dekat dengan Tanah Airku.

Keduanya sama-sama mengajarkan bahwa melihat dunia tidak harus membuat kita kehilangan rumah.

Justru dengan melihat dunia, kita mungkin baru menyadari: apa yang kita punya, siapa diri kita, dan mengapa kita ingin pulang.

Jadi, jika Tanah Airku adalah lagu tentang kerinduan seseorang yang berada jauh dari rumah, maka Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia terasa seperti versi perjalanan dari kerinduan itu.

Yang satu dinyanyikan.

Yang satu diceritakan.

Tetapi keduanya bertemu pada satu perasaan:

sejauh apa pun pergi, tanah air tetap tinggal di dalam hati.

Dan mungkin pertanyaan paling penting setelah membaca buku ini bukan:

“Sudah berapa negara yang kita kunjungi?”

Melainkan:

“Setelah melihat begitu banyak dunia, apa yang akan kita bawa pulang untuk tanah air?”

Pertanyaan Wawancara untuk Penulis (In Progress)

Reviewer: Terima kasih Pak Hanan, karena sudah mempercayakan Review buku kepada kami ke sekian kalinya. Kami merasa sama-sama bertumbuh dengan membaca tulisan-tulisan bapak. Seperti biasa, kami ingin menanyakan beberapa hal Istimewa di wawancara review ini. 

 

Buku ini memadukan perjalanan, keluarga, olahraga, pendidikan, budaya, sejarah, dan spiritualitas. Apakah sejak awal Bapak memang ingin membuat buku perjalanan yang tidak hanya bercerita tentang tempat? 

 

Pak Hanan: Sebenarnya, sejak awal saya tidak membayangkan buku ini sebagai buku perjalanan dalam pengertian biasa. Buku ini bermula dari kebiasaan sederhana saya: mencatat pengalaman perjalanan.

 

Dalam perjalanan ke berbagai tempat, saya sering menyempatkan diri untuk singgah di masjid. Terutama ketika berada di negeri yang jumlah masjidnya tidak banyak, masjid terasa menjadi tempat yang istimewa. Di sana saya bisa berhenti sejenak dari kesibukan perjalanan—duduk, salat, berdoa, membaca, atau sekadar diam.

 

Justru dalam suasana seperti itulah sering muncul berbagai pikiran dan kenangan. Bukan hanya tentang tempat yang sedang saya kunjungi, tetapi juga tentang keluarga, Indonesia, pendidikan, olahraga, sejarah, budaya, dan orang-orang yang saya temui.

 

Lama-kelamaan saya menyadari bahwa masjid dalam perjalanan saya menjadi semacam simpul refleksi. Ia menghubungkan perjalanan fisik dengan perjalanan batin. Karena itu, buku ini bukan sekadar catatan tentang masjid-masjid yang saya kunjungi, tetapi tentang apa yang saya rasakan, pikirkan, dan temukan ketika berada di tempat-tempat tersebut.

 

Saya ingin pembaca melihat bahwa perjalanan bukan hanya tentang berpindah dari satu kota ke kota lain. Perjalanan juga merupakan kesempatan untuk memintal ingatan, merangkai doa, dan memahami kembali siapa diri kita. Seperti yang saya tuliskan dalam buku, perjalanan sejati bukan sekadar berpindah tempat, melainkan bertumbuh dalam ilmu, iman, dan cinta.

 

Jadi, mungkin kita memang pergi untuk melihat dunia, tetapi sering kali justru dalam perjalanan itulah kita menemukan kembali diri sendiri.

 

Reviewer:  Ada satu benang merah yang terasa kuat dalam buku ini, yaitu tentang pulang kepada Tuhan, keluarga, tanah air, dan diri sendiri. Apakah gagasan tentang “pulang” memang sudah Bapak pikirkan sejak awal menulis buku, atau justru baru terasa setelah seluruh perjalanan itu dituliskan? 

 

Pak Hanan: Tidak sejak awal. Justru gagasan tentang “pulang” itu muncul perlahan setelah seluruh catatan perjalanan saya baca kembali dan mulai saya rangkai menjadi sebuah buku.

 

Ketika kita jauh dari rumah, kita justru menjadi lebih sadar tentang arti rumah. Ketika berada di negeri orang—di tengah suasana yang berbeda, bahasa yang berbeda, dan kebiasaan yang berbeda—hal-hal yang sebelumnya terasa biasa tiba-tiba menjadi sangat berharga.

 

Bahasa Indonesia terasa istimewa. Cerita tentang keluarga terasa lebih dekat. Makanan Indonesia bisa menimbulkan kerinduan. Bahkan suara azan di negeri yang jauh dapat membawa ingatan kita kembali ke rumah.

 

Dari situlah saya mulai menyadari bahwa “pulang” ternyata mempunyai makna yang lebih luas. Pulang bukan hanya kembali secara fisik ke tempat kita tinggal. Ada pulang kepada Tuhan, pulang kepada keluarga, pulang kepada tanah air, dan pada akhirnya pulang kepada diri sendiri.

 

Gagasan itu sebenarnya sangat dekat dengan keseluruhan buku. Saya menulis bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, hati kita tetap mempunyai satu arah pulang: kepada Tuhan, tanah air, keluarga, teman dan saudara, serta kepada diri sendiri.

 

Jadi, “pulang” bukan gagasan yang saya paksakan sejak awal. Ia justru seperti sebuah kesimpulan yang saya temukan setelah perjalanan itu selesai dituliskan.

 

Mungkin benar: kita bisa pergi sangat jauh, tetapi pada akhirnya perjalanan yang paling penting adalah perjalanan menemukan kembali tempat kita berpijak.

 

Reviewer: Menariknya, semakin jauh Bapak bepergian, semakin sering justru muncul cerita tentang Indonesia, keluarga, leluhur, dan tanah air. “Saya sedang jauh dari Indonesia, tetapi justru merasa sangat Indonesia.” 


Menurut Bapak, mengapa seseorang terkadang harus pergi jauh untuk bisa melihat rumahnya sendiri dengan cara yang berbeda? 

 

Pak Hanan: Ketika kita berada di dalam rumah, kita sering tidak menyadari bentuk rumah itu sendiri. Kita tinggal di dalamnya, tetapi tidak selalu melihat rumah itu dari luar.

 

Begitu juga dengan Indonesia.

 

Ketika kita selalu berada di Indonesia, banyak hal tentang Indonesia terasa biasa. Tetapi ketika kita berada di Boston, Tokyo, Phnom Penh, Hangzhou, Bagan Datuk, atau Itaewon, tiba-tiba kita melihat Indonesia dari kejauhan.

 

Dan dari kejauhan itulah muncul perspektif yang berbeda.

 

Saya merasakan sendiri bahwa ketika berada di tempat-tempat yang jauh, hal-hal yang sebelumnya terasa sederhana justru menjadi sangat berarti: bahasa Indonesia, keluarga, makanan, budaya, cerita tentang kampung halaman, bahkan ingatan tentang leluhur.

 

Di dalam buku ini saya menulis bahwa di setiap ruang mihrab saya menemukan kembali Indonesia—dalam bahasa yang asing, dalam wajah-wajah yang ramah, dan dalam langkah-langkah kecil yang mengingatkan saya akan dari mana saya berasal.

 

Karena itu, saya tidak melihat perjalanan ke luar negeri sebagai proses menjauh dari Indonesia. Justru sebaliknya. Pergi ke luar negeri bisa menjadi cara untuk mengenal Indonesia dengan lebih baik.

 

Saya bahkan pernah mengatakan kepada seorang kawan yang sedang mempelajari Indonesia: jangan terlalu cepat mempelajari Indonesia hanya dari buku. Pergilah dahulu ke negara-negara lain. Lihat bagaimana bangsa-bangsa lain menjalani kehidupan mereka. Setelah itu, kembalilah dan “selamilah” Indonesia.

 

Dengan adanya pembanding, kita bisa melihat rumah sendiri dengan perspektif yang berbeda.

 

“Kadang-kadang kita memang harus meninggalkan rumah untuk benar-benar memahami mengapa rumah itu begitu berarti.”

 

Dan mungkin itulah paradoks perjalanan saya: semakin jauh saya pergi, semakin kuat pula rasa Indonesia itu muncul.

 

Reviewer:  Judul buku ini menggunakan istilah “energi masjid”. Adakah makna “energi” tersebut bagi Bapak secara personal? 

 

Pak Hanan: Ada. Bagi saya, “energi” dalam istilah energi masjid bukan semata-mata energi dalam pengertian fisik. Saya memaknainya sebagai energi batin—sesuatu yang membuat manusia menjadi lebih tenang, lebih kuat, lebih jernih, dan kembali memiliki semangat untuk menjalani kehidupan.

 

Saya sendiri cukup lama bergelut dengan pemikiran tentang energi dalam pengertian fisik. Karena itu, ketika berada di masjid, saya mungkin melihat sesuatu yang sedikit berbeda.

 

Bayangkan seseorang masuk ke masjid dalam keadaan lelah, gelisah, atau sedang menghadapi persoalan yang berat. Ia kemudian duduk, salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, atau sekadar berdiam diri.

 

Ketika keluar dari masjid, persoalannya mungkin belum selesai. Tetapi dirinya bisa menjadi berbeda. Ia mungkin lebih tenang, pikirannya lebih jernih, dan hatinya lebih siap menghadapi persoalan tersebut.

 

Bagi saya, itulah energi masjid.

 

Masjid memberikan ruang untuk berhenti sejenak, melakukan refleksi, dan mengisi kembali kekuatan batin.

 

Kemudian ada kata “dicahayai” dalam judul buku. Kata itu juga saya pilih dengan sengaja. Cahaya bukan hanya sesuatu yang menerangi ruang secara fisik. Cahaya juga bisa berarti ilmu, iman, harapan, dan kesadaran.

 

Karena itu, bagi saya, masjid bukan hanya tempat kita menerima cahaya, tetapi tempat kita menemukan cahaya yang kemudian kita bawa keluar ke dalam kehidupan.

 

“Masjid yang baik bukan hanya membuat ruang menjadi terang. Ia membuat manusia yang berada di dalamnya menjadi lebih bercahaya.”

 

Itulah makna personal “energi masjid” bagi saya.

 

Reviewer: Bapak menulis buku ini antara lain untuk generasi muda yang hidup di antara bandara dan Zoom, antara cita-cita besar dan kerinduan kecil. Apa yang paling Bapak khawatirkan dari generasi muda yang semakin mudah pergi dan terhubung dengan dunia, tetapi mungkin semakin jauh dari akar identitasnya? 

 

Pak Hanan: Saya justru tidak ingin melarang anak-anak muda pergi jauh. Sebaliknya, saya ingin mengatakan: pergilah sejauh mungkin.

 

Lihat dunia. Belajarlah dari bangsa lain. Temui orang-orang yang berbeda bahasa, budaya, dan cara berpikir. Dunia yang semakin terbuka adalah kesempatan yang sangat besar bagi generasi muda.

 

Yang saya khawatirkan bukan mereka pergi terlalu jauh.

 

Yang saya khawatirkan adalah mereka pergi ke mana-mana tetapi tidak tahu dari mana mereka berasal.

 

Generasi muda sekarang hidup di antara bandara dan Zoom, antara cita-cita besar dan kerinduan kecil. Mereka mempunyai kesempatan yang mungkin jauh lebih besar daripada generasi sebelumnya untuk belajar, bekerja, dan berinteraksi dengan dunia.

 

Itu adalah sesuatu yang harus kita syukuri.

 

Tetapi dalam keterbukaan itu, jangan sampai akar menjadi hilang.

 

Karena itu, ketika bepergian, jangan hanya membawa paspor. “Bawalah juga cerita tentang keluarga, bahasa, budaya, sejarah, nilai-nilai, dan tanah air kita.”

 

Jadilah manusia global tanpa kehilangan akar.

 

Menurut saya, identitas bukanlah penghalang untuk menjadi manusia global. Justru identitas adalah pijakan agar kita tidak kehilangan arah ketika dunia menjadi semakin luas.

 

Saya berharap buku ini dapat menjadi semacam teman perjalanan bagi generasi muda. Bukan untuk mengajari mereka ke mana harus pergi, tetapi untuk menemani mereka menemukan makna dalam perjalanan itu.

 

Sebab dunia boleh semakin luas, tetapi kita tetap membutuhkan sesuatu yang membuat kita tahu siapa diri kita dan dari mana kita berasal.

 

Reviewer: Jika suatu hari ada pembaca muda yang selesai membaca buku ini lalu bertanya kepada Bapak, “Setelah saya pergi sejauh mungkin, sebenarnya saya harus membawa apa ketika pulang?”, apa jawaban yang ingin Bapak berikan kepadanya? 

 

Pak Hanan: Saya akan menjawab, “jangan pulang hanya membawa oleh-oleh. Pulanglah membawa perubahan.”

 

Jangan hanya membawa foto-foto, suvenir, atau cerita tentang berapa banyak negara yang sudah kita kunjungi. Bawalah pulang pengetahuan baru, persahabatan, pengalaman, inspirasi, dan cara pandang yang lebih luas.

 

Tetapi yang paling penting, bawalah pulang hati yang lebih luas, pikiran yang lebih terbuka, iman yang lebih kuat, serta kecintaan yang lebih dalam kepada keluarga dan tanah air.

 

Karena ukuran sebuah perjalanan bukan hanya seberapa jauh kita pergi.

 

Bukan pula berapa banyak negara yang kita datangi.

 

“Ukuran perjalanan yang sesungguhnya adalah seberapa jauh kita berubah setelah menjalaninya.”

 

Dan pada akhirnya, ke mana pun kaki membawa kita, hati selalu membutuhkan sebuah arah untuk pulang: kepada Tuhan, kepada keluarga, kepada tanah air, kepada orang-orang yang kita cintai, dan kepada diri kita sendiri.

Jadi, jika pembaca muda itu bertanya, “Apa yang harus saya bawa ketika pulang?”, saya mungkin akan mengatakan:

 

“Bawalah dunia yang sudah kamu lihat, tetapi jangan tinggalkan rumah yang telah membentukmu.”

 

Pergilah sejauh mungkin. Lihatlah dunia seluas-luasnya. Belajarlah sebanyak-banyaknya. Temui sebanyak mungkin manusia dan kebudayaan. Tetapi jangan sampai perjalanan membuat kita lupa jalan pulang.

 

Karena pada akhirnya, perjalanan bukan tentang seberapa jauh kita meninggalkan rumah, melainkan tentang seberapa kaya kita ketika akhirnya kembali ke rumah.

 

Itulah pesan sederhana yang ingin saya tinggalkan melalui Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia.

 

Mari menjejak dunia dengan langkah yang ringan, hati yang luas, dan iman yang menyala. 

 

BACA JUGA:  Review Buku Tesis Terakhir karya Putri Heret

Ridwansyah
Siti Sunduz

Aku percaya, bahwa setiap kata punya makna dan setiap perjalanan punya pelajaran. 📚✨ | 🌱 Learning, Growing, Inspiring.

Artikel Selanjutnya Postingan Selanjutnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url