Review Buku Lanskap dan Cerita: Warisan Catatan Perjalanan dan Kehidupan karya Graece Tanus

Review Buku Lanskap dan Cerita: Warisan Catatan Perjalanan dan Kehidupan karya Greace Tanus
Siti Sunduz Oleh Siti Sunduz •

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata “lanskap”? Barangkali hamparan sawah, pegunungan, laut, kota, atau sebuah tempat yang pernah kita kunjungi.

Namun, setelah membaca Lanskap dan Cerita karya Graece Tanus, saya justru melihat lanskap sebagai sesuatu yang lebih luas: sebuah ruang yang menyimpan cerita tentang manusia dan kehidupannya.

Sebagai seseorang yang berlatar Pendidikan IPS, saya terbiasa melihat tempat bukan hanya sebagai lokasi di peta. Ada manusia yang hidup di dalamnya, ada sejarah yang membentuknya, ada budaya yang tumbuh, dan ada interaksi yang membuat sebuah tempat memiliki makna.

Hal semacam itulah yang saya temukan dalam buku karya Graece Tanus ini.

 

Baca Juga: Review Buku Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia 

Review Buku Lanskap dan Cerita: Warisan Catatan Perjalanan dan Kehidupan karya Graece Tanus

Identitas Buku

Judul: Lanskap dan Cerita: Warisan Catatan Perjalanan dan Kehidupan
Penulis: Graece Tanus
Editor: Yulita Ayu Suryani
Penerbit: Satria Indra Prasta Publishing
Cetakan: Pertama, September 2026
Tebal: xii + 202 halaman
Ukuran: 14 × 20 cm
ISBN: 978-623-156-966-0

Ketika Lanskap Tidak Hanya Berarti Pemandangan

Jujur saja, saya sempat menduga buku ini akan menjadi kumpulan catatan perjalanan yang banyak bercerita tentang “pergi ke mana, melihat apa, dan bagaimana suasananya”.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Melalui lima bagian—Perjalanan Menjelajah, Perjalanan Mengenang, Perjalanan Merenung, Perjalanan Bertemu, dan Perjalanan Berbagi—Graece Tanus membawa pembaca melihat perjalanan dari berbagai sisi.

Ada tempat-tempat alam, situs sejarah, museum, ruang ibadah, tokoh, komunitas, hingga kisah tentang kepedulian sosial.

Di titik ini saya merasa judul Lanskap dan Cerita menjadi masuk akal. Sebab sebuah tempat memang tidak pernah benar-benar kosong dari cerita.

Membaca Tempat, Membaca Manusia

Bagi saya, kekuatan buku ini justru terletak pada cara penulis tidak berhenti pada deskripsi tempat.

Mercusuar, telaga, museum, tempat ibadah, hingga berbagai ruang sosial yang hadir dalam buku menjadi pintu masuk untuk mengenal sesuatu yang lebih luas: sejarah, kebudayaan, ingatan, nilai, dan manusia.

Di sinilah perspektif geografis terasa menarik untuk digunakan ketika membaca buku ini.

Lanskap bukan sekadar bentang alam. Ia juga terbentuk dari hubungan manusia dengan ruang tempat ia hidup.

Sebuah museum menyimpan ingatan. Sebuah tempat ibadah menghadirkan pengalaman spiritual dan sosial. Sebuah rumah dapat menjadi ruang untuk merawat nilai keluarga. Bahkan sebuah perjalanan wisata bisa membuka percakapan tentang sejarah dan keberagaman.

Maka, perjalanan dalam buku ini terasa seperti proses membaca ruang sekaligus membaca kehidupan.

 

Baca Juga: Review Buku Tesis Terakhir 

Dari “Pergi” Menjadi “Memaknai”

Ada satu hal yang saya sukai dari buku ini: perjalanan tidak selalu diposisikan sebagai aktivitas untuk mencari tempat baru.

Ada perjalanan untuk mengenang. Ada perjalanan untuk merenung. Ada perjalanan untuk bertemu. Bahkan ada perjalanan untuk berbagi.

Artinya, semakin jauh seseorang berjalan, belum tentu semakin jauh pula ia dari dirinya sendiri. Bisa jadi justru sebaliknya.

Tempat-tempat yang dikunjungi Graece Tanus menjadi semacam ruang refleksi. Pembaca diajak berhenti sebentar dari kebiasaan melihat perjalanan hanya sebagai perpindahan dari satu titik ke titik lain.

Sebab pada akhirnya, yang tinggal bukan hanya foto atau daftar destinasi, melainkan cerita.

Lanskap yang Menghubungkan Alam, Sejarah, dan Kehidupan

Buku ini juga menarik karena lanskap yang ditampilkan tidak berdiri sendiri.

Alam bertemu dengan sejarah. Sejarah bertemu dengan manusia. Manusia bertemu dengan budaya. Budaya kemudian melahirkan nilai dan cerita yang diwariskan.

Bagi saya, hubungan semacam ini membuat Lanskap dan Cerita terasa dekat dengan cara pandang ilmu-ilmu sosial: bahwa kehidupan tidak dapat dibaca secara terpisah-pisah.

Kita bisa melihat sebuah tempat dari koordinatnya, tetapi untuk memahami maknanya, kita perlu melihat siapa yang tinggal di sana, apa yang pernah terjadi di sana, dan bagaimana manusia memberi arti terhadap ruang tersebut.

Dan mungkin, di situlah “cerita” dalam buku ini bekerja.

Pandangan Reviewer Terhadap Buku Lanskap dan Cerita karya Graece Tanus

Saya melihat buku ini cocok bagi pembaca yang menyukai catatan perjalanan, tetapi ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekadar rekomendasi tempat.

Buku ini mengajak kita melihat perjalanan sebagai pengalaman mengenal ruang, manusia, sejarah, budaya, dan diri sendiri.

Bagi saya pribadi, Lanskap dan Cerita mengingatkan bahwa menjadi pelancong tidak selalu berarti harus pergi jauh. Kadang-kadang, yang perlu diubah hanyalah cara kita memandang tempat yang sedang kita datangi.

Karena sebuah lanskap mungkin tampak biasa bagi mata yang terburu-buru.

Tetapi bagi mereka yang mau berhenti, memperhatikan, dan bertanya, lanskap selalu punya cerita.

Penutup

Setelah sampai di halaman terakhir, saya justru merasa pertanyaan dari buku ini bukan lagi “sudah berapa banyak tempat yang kita kunjungi?”, melainkan:

Sudah berapa banyak tempat yang benar-benar kita pahami dan maknai?

Meminjam ungkapan salah satu gurunda yang senantiasa menyebutkan bahwa “Sejatinya Bumi bukanlah tempat kita tinggal. Melainkan tempat kita meninggal.”

Maka, bersamaan dengan hadirnya buku Lanskap dan Cerita, kita akan menemukan jawaban sekaligus jawaban dari ungkapan tersebut.

Bahwa mungkin perjalanan memang tidak selalu tentang seberapa jauh kaki melangkah. Tapi tentang seberapa dalam kita melihat, memaknai, dan melakukan aksi-aksi baik untuk semesta.

Dan dari Lanskap dan Cerita, saya belajar bahwa setiap tempat menyimpan lebih dari sekadar pemandangan.

Ada manusia di dalamnya. Ada sejarah. Ada ingatan. Ada kehidupan.

Bincang Santai Bersama Penulis: Graece Tanus

Reviewer: Terima kasih banyak Ibu Graece, yang sudah berkali-kali mempercayakan review buku kepada kami. Rasanya kami seperti mengikuti perjalanan Ibu sebagai bagian ruang tumbuh kami.

Seperti biasa, ada sesi Istimewa bincang Santai ketika Review di MPG.

Apa yang membuat Ibu Graece memilih kata “lanskap” sebagai bagian utama dari judul buku ini?

Reviewer:  Sebagai seorang traveler sekaligus penulis, kapan sebuah tempat menurut Anda berubah dari sekadar destinasi menjadi sebuah cerita?

Reviewer: Dalam proses menulis, mana yang lebih dulu menarik perhatian Ibu Graece: tempatnya, manusianya, atau cerita yang muncul setelah perjalanan?

Reviewer: Banyak tempat dalam buku ini memiliki jejak sejarah dan budaya. Seberapa penting bagi Ibu Graece memahami konteks sebuah tempat sebelum menceritakannya?

Reviewer:  Jika pembaca hanya membawa pulang satu hal dari Lanskap dan Cerita, apa yang paling ingin Anda wariskan kepada mereka?

BACA JUGA: Review Buku Recovery Corner
Ridwansyah
Siti Sunduz

Aku percaya, bahwa setiap kata punya makna dan setiap perjalanan punya pelajaran. 📚✨ | 🌱 Learning, Growing, Inspiring.

Postingan Selanjutnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url