Review Buku Jejak Makna karya Graece Tanus

Pernahkah kamu merasa lelah dengan dunia yang berjalan terlalu cepat? Di mana setiap hari kita dituntut untuk terus berlari, hingga kadang kita lupa kapan terakhir kali benar-benar menyapa diri sendiri?

Beberapa hari lalu, dalam keheningan sore, saya beruntung bisa menyesap lembar demi lembar sebuah buku baru yang terasa seperti pelukan hangat.

Judulnya sederhana, namun sarat kedalaman: "Jejak Makna" karya Graece Tanus. 
 

Review Buku Jejak Makna karya Graece Tanus

Identitas buku

Judul: Jejak Makna: Kumpulan Quotes Tentang Hidup, Sejarah, dan Perjalanan
Penulis: Graece Tanus
Penerbit: nukilanmediautama
Halaman: viii+158 (166) hlm; 12 x 18 cm
No.ISBN: 978-634-04-8219-5 
Tahun Terbit: 2024

Ada buku yang selesai dalam semalam.
Ada juga buku yang selesai dibaca, tetapi isinya terus tinggal di kepala berhari-hari.

Jejak Makna
termasuk yang kedua.

Bukan Sekadar Buku Perjalanan

Banyak buku perjalanan hanya berhenti pada cerita tempat wisata, pengalaman seru, atau dokumentasi perjalanan. Namun Jejak Makna melangkah lebih jauh.

Penulis tidak sekadar menuliskan “ke mana ia pergi”, tetapi juga “apa yang ia rasakan” dan “apa yang ia pelajari” dari tempat tersebut.

Salah satu kutipan yang paling menggambarkan isi buku ini adalah:

“Perjalanan bagi saya adalah guru yang tak pernah berhenti mengajar.”

Kalimat sederhana itu seperti menjadi ruh keseluruhan buku. Pembaca akan menemukan bahwa perjalanan di sini bukan hanya perpindahan geografis, tetapi juga perjalanan batin. 

Cerita yang Mengalir dari Hati

Melalui tiga bagian utamanya, Jejak Makna: Hidup, Sejarah, dan Perjalanan, Graece Tanus mengajak kita melihat dunia dengan "mata baru".

Tentang Hidup: Di bagian pertama, penulis dengan sangat jujur membagikan refleksinya tentang ketangguhan diri dan rasa syukur. Termasuk perjalanannya yang menyentuh sebagai seorang breast cancer survivor selama 15 tahun.

Tulisan di bagian ini tidak ditulis untuk dikasihani, melainkan untuk menguatkan siapa saja yang mungkin saat ini sedang menghadapi "badai" mereka sendiri. Ada ketenangan yang menular lewat kata-katanya. 

Tentang Sejarah: Ketika Tempat Bersejarah Terasa Hidup

Hal paling menarik dari buku ini adalah kemampuan penulis menghidupkan tempat-tempat sejarah menjadi terasa emosional dan manusiawi.

Saat membahas Museum Kebangkitan Nasional, misalnya, penulis tidak hanya menjelaskan tentang STOVIA sebagai sekolah kedokteran bumiputra, tetapi juga menghadirkan suasana bagaimana kesadaran bangsa pernah lahir dari ruang pendidikan sederhana.

Kutipan ini menjadi salah satu bagian paling kuat:

“Ilmu pengetahuan adalah fajar bagi kemerdekaan.”

Begitu pula ketika menulis tentang Candi Jiwa:

“Batu yang tersusun rapi adalah doa yang membeku dalam waktu.”

Cara penulis memandang sejarah terasa berbeda. Ia tidak melihat bangunan tua sebagai benda mati, melainkan sebagai ruang yang masih menyimpan napas masa lalu. Dan di situlah pembaca mulai sadar: buku ini bukan hanya tentang tempat, tetapi tentang cara memandang kehidupan.

Tentang Perjalanan
: Alam menjadi guru di bagian penutup. Melalui kesunyian Gunung Bromo hingga air terjun, kita diingatkan bahwa perjalanan sejati bukanlah tentang seberapa jauh kaki kita melangkah, melainkan seberapa banyak makna yang berhasil kita bawa pulang ke dalam hati. 

Bahasa Puitis yang Tidak Terasa Berat

Salah satu tantangan buku reflektif adalah sering kali terlalu rumit atau terlalu “sok filosofis”. Namun Jejak Makna berhasil menghindari itu. Bahasanya puitis, tetapi tetap hangat dan mudah dipahami. Banyak kalimat terasa seperti kutipan yang ingin langsung ditandai pembaca. Contohnya:

“Kepahlawanan bukan sekadar peristiwa di masa lalu, melainkan api yang harus tetap menyala dalam ingatan.”


Atau kutipan yang sangat relate dengan kehidupan modern hari ini:

“Saat pikiran mulai bising, biarkan sunyi di antara pepohonan menyembuhkan dan menenangkan jiwa.”

Ada banyak bagian yang terasa seperti sedang membaca diary seorang pengelana yang diam-diam sedang mencari jawaban hidupnya sendiri.
 

Pandangan Reviewer Terhadap Buku Jejak Makna: Kumpulan Quotes Tentang Hidup, Sejarah, dan Perjalanan karya Graece Tanus

Buku Jejak Makna ini cocok dibaca saat hidup terasa penat. Di tengah dunia yang serba cepat, Jejak Makna terasa seperti ruang jeda.

Buku ini cocok juga bagi:
 
  1. pecinta sejarah
  2. penikmat perjalanan
  3. mahasiswa
  4. penulis muda
  5. pemburu quotes reflektif
  6. mereka yang sedang merasa hidup terlalu ramai.
Hal itu disebabkan karena setelah membaca buku ini, pembaca mungkin tidak lagi melihat hujan hanya sebagai cuaca, museum hanya sebagai bangunan tua, atau perjalanan hanya sekadar berpindah tempat. 

Bincang Santai Wawancara Bersama Penulis: Graece Tanus

Reviewer: Halo Ibu Graece, selamat atas terbitnya buku Jejak Makna. Terima kasih untuk kepercayaan kesekian kalinya buku Ibu direview oleh Tim Kami.

 

Boleh diceritakan apa yang sebenarnya menjadi pemantik utama Ibu hingga akhirnya memutuskan untuk membukukan kumpulan quotes dan catatan reflektif ini?

 

Greace Tanus: Saya ingin mengingatkan kepada setiap pribadi bahwa pada akhirnya perjalanan bukan seberapa jauh kita melangkah, melainkan tentang seberapa banyak makna yang sanggup kita bawa pulang.


Reviewer: Mengapa memilih gaya tulisan reflektif dan puitis?  

 

Greace Tanus: Semua yang saya tulis dalam buku ini adalah hasil refleksi saya dan tanda syukur atas segala anugerah yang bisa saya terima, rasakan, dengarkan, dan semua yang saya dalami dalam setiap peristiwa dan pengalaman hidup.

 

Reviewer: Buku ini ditutup dengan Bagian III tentang Perjalanan. Apa arti "perjalanan" yang sesungguhnya bagi seorang Graece Tanus?

 

Greace Tanus: Perjalanan adalah saat kita akan pulang ke pelukan alam,tempat dimana saat kesunyian hutan dan debur ombak serta dinginnya udara dapat memberikan makna kehidupan secara khusus.

Reviewer: Apa harapan dan kesan tersendiri dari buku ini dibandingkan dengan buku-buku sebelumnya?

 

Greace Tanus: Berharap bagi siapapun yang membaca buku ini  disadarkan bahwa setiap langkah adalah guru dan setiap tempat adalah buku yang terbuka.Apakah kita berani membuka diri kita untuk mau merefleksikan setiap langkah kehidupan kita hingga kita mampu menorehkan banyak makna dari setiap langkah yang kita jalani.

Buku ini menjadi berbeda dari buku karya saya lainnya karena lewat buku ini saya mampu merefleksikan jejak langkah saya dalam kejernihan pikiran dan ketenangan hati.

 

-

Penulis dan penggerak literasi ini dapat kamu sapa melalui laman Instagram @graecetanus.

 

BACA JUGA: Review Buku Slow Living Journal karya Janeera Amba

Ridwansyah
Siti Sunduz

Aku percaya, bahwa setiap kata punya makna dan setiap perjalanan punya pelajaran. 📚✨ | 🌱 Learning, Growing, Inspiring.

Artikel Selanjutnya Postingan Selanjutnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url