Review Buku Tesis Terakhir karya Putri Heret
Manusia adalah pengembara dan setiap pengembara memiliki rumah, sebuah akar tempat ia bermula. Meski begitu, tak semua pengembara ditakdirkan untuk kembali. Namun, ia yang pada akhirnya melangkah pulang, barangkali adalah orang terpilih yang mengemban tugas sebagai penjaga warisan leluhur.
Esensi inilah yang tertuang dalam novel Tesis Terakhir (Pulangnya Sang Pewaris Molan) karya Putri Heret. Novel ini menyimpan "harta karun" yang luar biasa bernama Tanah Solor: sebuah tanah leluhur yang tidak hanya menyajikan lanskap alam yang memukau, tetapi juga menyimpan luka yang mendalam.
Luka masa lalu itulah yang memanggil Ben untuk pulang, menyudahi pengembaraannya di Jakarta. Siapa sangka, kepulangan tersebut menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari bayangannya. Perjalanan itu pada akhirnya mengubah diri Ben seutuhnya.
Rahasia apa yang sebenarnya menanti Ben di tanah kelahirannya? Apakah luka Tanah Solor justru akan berbalik melukainya? Mampukah Ben menghadapi realitas adat yang sama sekali tidak pernah tertulis dalam buku-buku akademis yang dipelajarinya?
Untuk mendalami kisah Ben, mari simak ulasan lengkap novel Tesis Terakhir (Pulangnya Sang Pewaris Molan) berikut ini.
Baca Juga: Review Buku Slow Living Journal karya Janeera Amba
Review Novel Tesis Terakhir (Pulangnya Sang Pewaris Molan) Karya Putri Heret
Identitas BukuJudul: Tesis Terakhir (Pulangnya Sang Pewaris Molan)
Penulis: Putri Heret
Penerbit: Pena Borneo
Tahun terbit: Juni, 2026
ISBN: 978-623-5468-91-4
Novel ini secara berani mengangkat isu lingkungan yang kritis, yang dikemas secara apik lewat lensa ritual adat masyarakat Lamatua. Konflik cerita menjadi semakin kaya dan mendalam karena membenturkannya dengan isu fanatisme agama—sebuah kontradiksi sosial yang sangat menarik dan relevan dengan realitas saat ini.
Untuk menjaga kedalaman emosi dan alur ceritanya, sang penulis membagi perjalanan Ben ke dalam dua bagian besar yaitu: Part 1 berjudul Kembali Menurut Adat dan Part 2 berjudul Kembali ke Jiwa Utuh.
Gambaran Umum Novel Tesis Terakhir (Pulangnya Sang Pewaris Molan) Karya Putri Heret
"Keberadaan manusia adalah sebuah proses pembelajaran yang tanpa henti. Setiap orang menempuh perjalanannya masing-masing menuju kesadaran yang lebih tinggi." — (hlm. 163)Segala sesuatu yang kita pilih atau tidak kita pilih dalam hidup akan mengantarkan kita pada berbagai pengalaman batin. Tak peduli seberapa lama kita hidup, seseorang yang tak pernah merenung tidak akan pernah sampai pada kesadaran tentang dari mana ia berasal, untuk apa ia ada, dan peran apa yang dimilikinya dalam hidup.
Banyak kejadian di luar nalar yang dialami Ben di Solor, kampung halamannya. Ia yang terbiasa merunut logika, mau tidak mau harus menerima bahwa tanah kelahirannya lebih dari sekadar letak geografis dengan segala adat budayanya.
Bersama Ben yang perlahan menemukan jati diri, pembaca diajak ikut bermetamorfosis. Di hadapan kata-kata bijaksana Ama Kelen, kita semua hanyalah pemula yang tersesat, yang sedang menemukan jalan untuk kembali pulang.
Part I: Kembali Menurut Adat
Kabar tentang wabah misterius mengejutkan Ben di tengah kesibukannya sebagai penulis lepas di Jakarta. Sebuah panggilan "pulang" datang dari Ama Kelen, pamannya sekaligus satu-satunya kerabat yang ia miliki, yang kini tengah sakit keras.Namun, kepulangan Ben kali ini tidak sekadar menjenguk orang sakit, melainkan menyeretnya masuk ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih rumit.
Sesampainya di kampung halaman, Ben dihadapkan pada realitas Solor yang sedang mencekam. Sebuah wabah demam aneh tengah melanda warga, bersamaan dengan ketegangan sosial yang kian memuncak.
Tuan Bapa Lukas, seorang pendeta setempat yang memiliki pengaruh kuat, secara masif menentang praktik ritual adat yang sudah dilakukan turun-temurun. Benturan ideologi ini mulai memecah masyarakat menjadi dua kubu.
Kondisi fisik Pulau Solor pun tak kalah sekarat. Ile Woka, gunung yang berada di tengah pulau itu, kini tengah berdarah.
Jantungnya dikeruk demi sebuah logam yang katanya jauh lebih bernilai. Mata air semakin mengering. Warga sudah lama kesulitan mendapatkan air.
Sumur-sumur di kampung mereka hanya memberikan nyanyian pilu, sebuah kidung yang penuh dengan kemarahan dan kesepian. Belum lagi laut yang mengamuk dan merajuk, sampai tak memberikan seekor pun ikan kepada nelayan.
Tak ada yang lebih mengerikan dari alam yang sudah tak memberikan kasih sayangnya kepada kita. Tanpa berkat yang dimilikinya, bisakah kita tetap bertahan hidup? Sementara, kita terus saja serakah dan tak pernah mendengar kesakitan atau rasa pedih Ibu Bumi.
Di tengah semua kemelut itu, Tuan Bapa Lukas beserta pengikutnya bergerak semakin ekstrem. Ia menyebarkan dogma negatif bahwa semua kesulitan yang menimpa tanah mereka terjadi karena para warga tidak beriman kepada Tuhan.
Fatalnya, ia mengajak para pengikutnya untuk melakukan ritual pembersihan desa dengan mengusik Koke Bale, jantung kehidupan masyarakat di sana.
Melihat tanah kelahirannya hancur dari segala sisi, seiring dengan kondisi Ama Kelen yang terus memburuk, Ben menyadari bahwa kepulangannya menyimpan sebuah takdir besar. Ada warisan sakral sebagai Molan yang menuntut tanggung jawabnya, serta sebuah utang masa lalu yang meminta penebusan.
Di sinilah penulis dengan apik merajut dua poros konflik besar yang saling berkelindan: konflik ekologis serta konflik sosial antara fanatisme agama dan kelestarian adat.
Tak hanya sampai di sana, konflik yang terjadi ternyata jauh lebih rumit dari yang tampak. Ada pihak lain yang jauh lebih besar yang ikut terlibat dalam semua ini.
Siapakah dalang di balik semua kerusakan yang terjadi di Solor? Mampukah Ben menjembatani antara masyarakat adat dengan para pengikut Tuan Bapa Lukas? Dapatkah Solor diselamatkan dari kerusakan parah itu?
Part II: Kembali ke Jiwa Utuh
Alam semesta tak ubahnya titik-titik yang saling terhubung. Sayangnya, manusia cenderung serakah; kita gemar mengambil dari bumi, tetapi alpa untuk memelihara dan menjaganya kembali.Jika pada bagian pertama pembaca disuguhkan konflik ekologis yang membumi, Part II akan membawa kita melompat ke dimensi yang sama sekali berbeda. Konflik sosial di Solor rupanya hanyalah permukaan.
Di babak ini, penulis mengajak pembaca memasuki ranah realisme magis yang jauh lebih pekat, mistis, dan spiritual.
Ben tidak lagi sekadar berhadapan dengan konflik fisik yang kasat mata. Ia dipaksa melintasi batas logika untuk menuntaskan sebuah sumpah kuno yang ditinggalkan oleh kakek buyutnya.
Perjalanan melunasi utang leluhur ini tidak hanya terjadi di daratan Solor, melainkan meluas hingga ke samudra, angkasa, bahkan menyentuh alam para dewa.
Melalui analogi yang unik, penulis memperluas esensi menjaga alam menjadi sebuah tanggung jawab terhadap alam semesta yang sakral.
Untungnya, pengembaraan spiritual yang berat ini tidak ditempuh Ben seorang diri. Ia ditemani oleh Maria, sosok wanita setia yang membimbingnya beradaptasi menjadi seorang Molan yang bijaksana.
Di tengan perjalanan mereka, Ben juga bertemu dengan Ina Benga, seorang Molan dari daratan lain. Bersama-sama, ketiganya saling bertumpu untuk menghadapi ujian yang menegangkan.
Misteri apa sebenarnya yang terkandung dalam sumpah masa lalu tersebut?
Ujian magis apa saja yang menanti mereka di berbagai alam?
Part II menyajikan perubahan nuansa yang drastis namun memukau. Bagian ini juga menjadi konklusi yang tidak hanya menyelamatkan tanah leluhur, tetapi juga menyatukan kembali jiwa Ben yang sempat terpecah.
Tokoh-Tokoh dalam Novel Tesis Terakhir (Pulangnya Sang Pewaris Molan)
Benyamin Kabelen
Tokoh utama dalam cerita. Sebagai seorang sejarawan, Ben adalah pria yang sangat memercayai kekuatan logika dan cenderung skeptis terhadap hal-hal mistis. Namun, benturan realitas saat ia kembali ke tanah kelahiran perlahan meruntuhkan dinding skeptisismenya. Perjalanan ini mengubah Ben dari seorang akademisi yang kaku menjadi sosok yang lebih arif dalam memaknai fenomena hidup.Maria
Teman masa kecil Ben yang memiliki kepekaan spiritual yang sangat tinggi. Maria menjadi kompas moral sekaligus pemandu bagi Ben. Lewat kedekatan dan kebijaksanaannya, ia membantu Ben bertransformasi dari seorang lelaki urban yang sinis menjadi sosok Molan yang bijaksana.Ama Kelen
Paman sekaligus satu-satunya kerabat darah yang tersisa bagi Ben. Sebagai seorang Molan dan salah satu tetua adat yang dihormati di kampungnya, Ama Kelen adalah penjaga tradisi yang menjembatani masa lalu Tanah Solor dengan masa depan yang kini dipikul oleh Ben.Bapa Tuan Lukas
Seorang pendeta setempat yang menentang keras segala bentuk praktik adat istiadat dan budaya di Tanah Solor. Di balik dogma dan fanatisme agama yang ia sebarkan kepada para pengikutnya, Tuan Lukas menyimpan sebuah kejahatan besar yang disembunyikan rapat-rapat demi agenda pribadinya.Pandangan Reviewer Terhadap Novel Tesis Terakhir (Pulangnya Sang Pewaris Molan) Karya Putri Heret
Jarang ada buku yang mampu membuat saya jatuh cinta bahkan sejak lembar Kata Pengantar dibuka. Namun, novel ini berhasil melakukannya.
Kalimat-kalimat yang dirajut oleh Putri Heret begitu cantik, magis, dan puitis. Kepekaan penulis terhadap kata-kata membuat dirinya tidak sekadar bercerita, melainkan melukis suasana.
Pembaca diajak ikut merasakan perihnya tanah Solor yang dikeruk, marahnya laut, hingga khusuknya malam saat ritual adat berlangsung.
Pada lembar judul, tertera bahwa novel ini merupakan sebuah fiksi etnografis. Sesuai dengan apa yang diklaim, isi ceritanya memang sangat sarat dengan budaya masyarakat Lamatua, NTT.
Penggambaran ritual, eksotisme Pulau Solor, hingga peran seorang Molan di dalamnya terasa sangat organik, bukan sekadar tempelan eksotis untuk mempercantik cerita.
Penulis membawa semangat lokalitas ini dengan penuh khidmat dan detail yang kuat. Salah satunya terlihat saat pembaca disuguhkan ritual pemakaman adat Solor yang atmosfer magisnya terasa begitu nyata.
Fondasi cerita yang didasarkan pada mitologi turun-temurun ini membuat kisah Tesis Terakhir terasa begitu berisi, berbobot, dan berakar kuat.
Selain itu, isu yang diangkat pun tergolong berani. Putri Heret secara terbuka mengkritisi penyampaian dogma agama yang kaku, yang kerap membenturkan diri dengan tradisi lokal, bahkan secara sepihak menuduh adat leluhur sebagai sumber dari segala kekacauan yang terjadi.
Struktur penceritaan novel ini juga patut diacungi jempol. Keputusan penulis membagi cerita menjadi dua bagian yakni konflik realis-ekologis di bagian pertama, lalu melompat ke realisme magis di bagian kedua, sama sekali tidak terasa janggal. Perubahan vibes ini justru memberikan kejutan yang menyegarkan.
Sebagai pelengkap, nuansa romansa yang dihadirkan secara tipis berhasil menjaga cerita agar tidak monoton.
Kehadiran tokoh Maria dalam hidup Ben tidak sekadar menjadi pemanis alur yang klise. Hubungan mereka dibangun dengan porsi yang pas, menjadi elemen penting yang memperkuat transformasi Ben dari seorang pria urban yang kaku menjadi sosok Molan yang bijaksana.
Bisa dikatakan bahwa novel Tesis Terakhir (Pulangnya Sang Pewaris Molan) karya Putri Heret merupakan sebuah paket komplet.
Pembaca tidak hanya diperkaya wawasannya tentang eksotisme dan kearifan lokal di tanah NTT, tetapi juga diajak merenungkan banyak petuah bijaksana tentang hidup, sebuah pengingat agar kita tidak pernah melupakan dari mana kita berasal.
Namun, segala hal yang saya tuangkan dalam ulasan ini sebenarnya belumlah genap menggambarkan setengah dari keajaiban isi bukunya.
Bagi siapa pun yang menginginkan pengalaman membaca yang magis, emosional, dan memukau, jangan ragu untuk segera menyelami kisah ini.
Baca Juga: Review Buku Jejak Makna karya Graece Tanus
Wawancara dengan Penulis Recovery Corner
Reviewer: Jika kita melihat kembali ke bagian pertama, tantangan atau musuh yang dihadapi tokoh utama cenderung berwujud fisik. Namun di bagian kedua, konflik tampak bergeser menjadi pertarungan internal atau pengendalian diri. Apa yang mendasari keputusan Kak Putri untuk mengubah bentuk konflik ini?
Putri: Pada Part 1, Ben masih melihat dunia melalui lensa akademisi yang memisahkan subjek (dirinya) dan objek (masalah di Solor). Masalah fisik adalah cara saya menunjukkan keterbatasan logika murni.
Pada Musuh di Part 2, yaitu “Kehampaan”, bukan sekadar entitas monster, namun representasi dari hilangnya makna, memori, dan identitas. Kehampaan tidak bisa dilawan dengan pedang atau logika, tetapi dengan “kepenuhan” jiwa. Ini adalah kritik terhadap modernitas yang seringkali mengisi dunia fisik dengan materi namun membiarkan batin manusia hampa.
Saya ingin menegaskan bahwa, penguasaan atas elemen alam hanya mungkin dicapai setelah seseorang menguasai elemen-elemen di dalam dirinya.
Reviewer: Di bagian pertama, pembahasan mengenai tanah adat di Solor sudah digambarkan dengan sangat solid dan mendalam. Mengapa di bagian kedua, fokus latar tempatnya tiba-tiba meluas secara signifikan? Apakah ada pesan atau skala cerita yang lebih besar yang ingin dikejar?
Putri: Dalam geografi manusia, ada perbedaan antara ‘ruang’ (space) yang luas dan dingin, dengan ‘tempat’ (place) yang memiliki memori dan jiwa. Dengan membawa Ben melintasi berbagai ruang yang luas di Bagian 2, saya ingin menciptakan rasa keterasingan.
Rasa asing ini penting agar ketika Ben kembali memikirkan atau menyentuh tanah Solor, pembaca bisa merasakan betapa berharganya ‘tempat’ tersebut. Semakin luas dunia yang dijelajahi Ben, semakin berharga dan sakral titik kecil bernama Solor itu di matanya.
Reviewer: Pada bagian kedua, Kak Putri berani menyoroti kontradiksi antara pelestarian budaya versus fanatisme agama. Saat memutuskan untuk mengangkat isu yang cukup sensitif ini, apakah sempat ada kekhawatiran tertentu dari dalam diri Kakak? Jika ada, bagaimana Kakak menyikapinya?
Putri: Tentu saja, ada kekhawatiran besar saat saya memutuskan untuk membenturkan pelestarian budaya dengan fanatisme agama.
Saya percaya bahwa tugas sastra bukanlah untuk memberi kenyamanan, melainkan untuk menyuarakan kebenaran yang seringkali tidak nyaman.
Berikut adalah sikap saya dalam menghadapi isu sensitif ini:
Agama sebagai Institusi vs. Spiritualitas Pribadi
Kekhawatiran itu saya sikapi dengan cara membedakan secara tegas antara ‘agama sebagai alat kekuasaan’ dan ‘agama sebagai jalan keselamatan’. Melalui sosok Bapa Tuan Lukas, saya ingin menunjukkan secara kritis bagaimana simbol-simbol suci bisa dimanipulasi untuk melegitimasi keserakahan.
Saya tidak sedang menyerang iman seseorang, tapi saya sedang menggugat fanatisme buta yang seringkali digunakan untuk membungkam kearifan lokal yang sudah ada jauh sebelum institusi itu datang.
Budaya Bukan ‘Musuh’ Iman
Banyak orang terjebak dalam dikotomi bahwa mencintai budaya leluhur berarti mengkhianati agama. Saya ingin memecah stigma itu. Saya menyikapinya dengan menggambarkan bahwa tradisi Molan di Solor sebenarnya memiliki nilai-nilai luhur yang sejalan dengan kemanusiaan.
Kekhawatiran, saya ubah menjadi energi untuk melakukan riset yang mendalam, agar argumen dalam naskah ini tidak sekadar menyerang, tapi mengajak pembaca berpikir: ‘Kenapa kita harus menghancurkan akar kita sendiri demi sesuatu yang kita sebut suci?’
Sikap akhirku adalah membawa isu ini ke ruang dialog, bukan penghakiman. Saya tidak memberikan jawaban siapa yang paling benar, tapi saya memperlihatkan luka-luka yang timbul akibat benturan tersebut. Saya ingin pembaca merasa gelisah, karena hanya dari kegelisahan itulah refleksi yang jujur bisa lahir.
Jadi, kekhawatiran itu memang ada, tapi saya memilih untuk menjadikannya sebagai ‘pisau bedah’ untuk menguliti kemunafikan yang seringkali bersembunyi di balik jubah kesucian. Karena bagiku, iman yang kuat tidak seharusnya takut pada budaya yang mengakar.”
Reviewer: Isu-isu yang diangkat dalam buku ini sebenarnya sangat relevan dan selaras dengan realitas sosial kita saat ini. Mengingat muatan isunya yang begitu nyata, saya penasaran, mengapa pada akhirnya Kak Putri memilih untuk mengemas cerita ini dalam balutan genre fantasi?
Putri: Memilih genre fantasi untuk membungkus isu sosial yang sangat nyata adalah sebuah keputusan strategis, bukan upaya untuk melarikan diri dari realitas. Justru sebaliknya, saya menggunakan fantasi sebagai lensa pembesar untuk melihat kebenaran yang terlalu menyakitkan atau terlalu kompleks jika hanya disampaikan secara dokumenter.
Berikut adalah alasan di balik pilihan genre ini:
Jika saya menulis ini sebagai drama sosial murni, pembaca mungkin akan merasa sedang diceramahi tentang politik atau agraria. Namun, dengan balutan fantasi, saya bisa menyelinapkan isu-isu berat tersebut ke dalam imajinasi pembaca tanpa mereka sadari. Fantasi memungkinkan saya untuk membicarakan korupsi, eksploitasi, dan kemunafikan agama melalui metafora yang lebih kuat dan berkesan.
Saya ingin kebenaran itu masuk melalui pintu belakang pikiran kamu, lalu meledak di sana.
Jadi, saya memilih fantasi bukan untuk menjauh dari kenyataan, tapi untuk menangkap esensi kenyataan yang tidak bisa dijangkau oleh logika semata.
Saya ingin membuktikan bahwa seringkali, kita butuh sedikit keajaiban untuk bisa melihat betapa mengerikannya dunia yang kita anggap normal ini.
Reviewer:Terakhir, lewat perjalanan panjang para tokoh dan dinamika konflik dari bagian pertama hingga kedua, adakah pesan esensial atau keresahan khusus yang paling ingin Kak Putri sampaikan kepada para pembaca?
Putri: Pentingnya keseimbangan antara kearifan lokal dan kemajuan modern, serta keresahan terhadap erosi identitas dan makna hidup di tengah arus globalisasi dan rasionalisme yang kering. Perjalanan Benyamin, seorang sejarawan yang terasing dari akar budayanya di Solor dan hidup dalam hiruk-pikuk Jakarta, menjadi representasi utama dari keresahan ini.
Pada bagian pertama, Benyamin digambarkan sebagai individu yang “kering” dan skeptis, terjebak dalam logika dan angka, serta merasa ironis dengan nama belakangnya yang mengindikasikan ikatan (Kabelen) padahal ia merasa terputus. Ini mencerminkan keresahan penulis terhadap individu modern yang, meskipun berpendidikan dan berpengetahuan luas, kehilangan koneksi dengan esensi diri dan warisan leluhur mereka.
Konflik internal Benyamin antara rasionalitasnya dan pengalaman mistis yang mulai ia alami di Solor adalah cerminan dari pertarungan antara “tuber” (mesin modern/logika) dan “manger” (ritual purba/tradisi) yang menjadi tema sentral.
Pada bagian kedua, transformasi Benyamin menjadi salah satu “Bintang Penjaga” melalui serangkaian ujian elemen, termasuk “ujian udara” yang menguji kebebasan jiwa dan kemampuan melepaskan beban masa lalu, menegaskan pesan esensial penulis. Ini bukan sekadar tentang kembali ke tradisi secara buta, melainkan tentang menemukan kembali kekuatan dan makna yang terkandung dalam kearifan lokal yang selama ini terabaikan.
Penulis menunjukkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis atau usang, melainkan sebuah energi hidup yang dinamis, mampu melindungi eksistensi manusia dari ancaman “Kehampaan” atau “Lidah Ketiadaan”sebuah metafora untuk hilangnya memori, identitas, dan makna yang diakibatkan oleh modernitas yang tak terkendali.
-
Penulis dapat disapa melalui laman Instagram: @putri_heret.

