Review Buku Recovery Corner Karya Febby Yonika

Seberapa sering kamu meluangkan waktu untuk benar-benar berbicara kepada diri sendiri? Sudahkah kamu memberi dirimu waktu untuk mencerna hal-hal yang kamu alami sejauh ini?

 

Hidup adalah perjalanan untuk mengenal diri sendiri. Kalimat itu terbesit dalam benak saya seketika setelah menyelesaikan buku Recovery Corner karya Febby Yonika. Dalam balutan kalimat yang sederhana, Recovery Corner sungguh memberikan pembaca ruang untuk berkontemplasi dengan batin mereka.

Buku ini berisi tulisan reflektif penulisnya tentang self healing, penerimaan diri, perjuangan menghadapi luka dan isu-isu lain yang sangat relate dengan pembaca.

Penasaran bagaimana cara penulis menciptakan ruang aman tersebut lewat untaian katanya?


Simak ulasan dan review buku Recovery Corner karya Febby Yonika selengkapnya di bawah ini.

Baca Juga: Review Buku Jejak Makna

Review Buku Recovery Corner Karya Febby Yonika

Identitas Buku

Judul: Recovery Corner
Penulis: Febby Yonika
Penerbit: Onepeach Media
Tahun terbit: April, 2026
ISBN: 976-623-483-447-5

Dengan tebal 156 halaman, Recovery Corner tergolong buku yang ringkas dan bisa dirampungkan dalam sekali atau dua kali duduk. Buku ini menambah deretan karya yang membahas tentang self-healing yang sekarang semakin diminati.

Gambaran Umum Buku Recovery Corner Karya Febby Yonika

Saat membaca lembar demi lembar buku ini, ada satu kutipan yang seketika membuat saya termenung cukup lama:

"Mungkin, terlalu banyak ketakutan yang kurasakan sampai aku lupa. Pada kenyataannya, dengan tetap menjalani hidup sampai saat ini pun, itu sudah merupakan keberanian yang luar biasa yang pernah aku lakukan. Sebuah keberanian untuk terus menghadapi kehidupan.". —Recovery Corner, hal. 19

Membaca kalimat-kalimat tersebut dari seseorang yang bahkan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, terasa menyesakkan sekaligus menghangatkan hati. Saya pikir, Febby tak membual perihal keberanian yang ia katakan.

Buku ini adalah representasi yang sempurna dalam perjalanannya menyembuhkan diri.

Perjalanan Itu Bermuara Kepada Diri Sendiri

Barangkali, kita pernah merasa tersesat saat menentukan pilihan-pilihan dalam hidup. Tak jarang kita mempertanyakan segala keputusan yang telah kita ambil. Bahkan, seringnya kita meragukan kemampuan diri alih-alih percaya.

Kita tahu bahwa hidup tak menyediakan kebahagiaan terus menerus. Namun, tetap saja kita kerap lupa menyediakan ruang untuk kekecewaan dan hal-hal yang tak sesuai harapan.

Tak apa, tenang saja, kamu tidak sendiri. Kita semua sedang menjalani kehidupan pertama kita.

Kabar baiknya, di buku Recovery Corner ini, Febby Yonika benar-benar memberikan kita tempat untuk memeluk diri sendiri.

Di buku ini, pembaca tidak akan merasa dihakimi. Febby menulis dengan kejujuran yang telanjang, mengakui bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk mengekspresikan perasaan, dan menurutnya, kejujuran semacam itulah langkah awal untuk berdamai dengan jiwa sendiri.

Penulis berbicara dengan begitu terbuka tentang bagaimana ia pada awalnya diselimuti banyak ketakutan, diliputi rasa tidak berharga, sampai tak menginginkan kehidupan ini lagi.

Bagi penulis, hidup yang ia jalani, semuanya terasa seperti 'setengah', bahkan menurutnya 'kematian lebih menakutkan daripada kesendirian'.

Namun, buku ini tak berhenti di perasaan-perasaan kelam. Pembaca akan tetap menemukan letupan kecil harapan dan perayaan akan hidup meski kerap kali yang datang hanyalah badai.

"Seperti hujan yang terus mengguyur tanpa henti, luka yang terus menerus tergenangi, basah, dan kotor berlumpur. Berharap bahwa suatu saat matahari akan bisa mengeringkan semuanya.".Recovery Corner, hal. 4

Matahari itu, bagi Febby, tidak datang begitu saja — melainkan hasil dari usahanya mengubah pola pikir sendiri. Dengan pemikiran itu, penulis mengungkapkan bahwa untuk bisa berdamai dengan segala yang terjadi, ia berusaha tak lagi bergantung pada hal-hal yang berada di luar kendalinya.

Semua ketakutan dan ketidakberdayaan itu, seringnya hanya ada di dalam kepala kita dan tak pernah benar-benar terjadi.

Salah satu bentuk ketergantungan pada hal di luar kendali itu, misalnya, adalah rasa terintimidasi dengan pencapaian orang lain. Hal yang sungguh wajar, sebab setiap orang punya kebutuhan untuk diakui di masyarakat atau mendapatkan validasi atas pencapaiannya.

Meski begitu, penulis berpesan agar kita tak sepenuhnya bergantung terhadap respons orang lain. Apapun yang telah kita capai, entah besar entah kecil, patut kita apresiasi sebagai sebuah perjuangan.

Pada akhirnya, semua luka yang datang kepada diri kita menjadi salah satu cara kehidupan untuk memperkaya jiwa kita. Tak perlu takut akan luka, sebab luka adalah sejarah yang mengukir kita menjadi kita yang hari ini.

Mungkin Kita Hanya Perlu Menunggu Tuhan Berhenti Menghitung
Yang dikhawatirkan seharusnya bukan…
“Apakah Tuhan ada di pihak kita?”
Melainkan…
“Apakah kita ada di pihak Tuhan?”


Recovery Corner, hal. 33

Pernyataan ini amat menarik. Biasanya, kebanyakan kita berkata, “Tuhan ada di pihak kita” tetapi dalam hal ini penulis justru membaliknya bahwa kita yang harus berada di pihak Tuhan.

Apa yang penulis maksud dengan kita berada di pihak Tuhan? Saya rasa, kalimat ini menjadi pengingat agar kita tidak lupa akan adanya kuasa yang lebih besar yang mengendalikan segala sesuatu di luar diri kita sebagai manusia.

Dengan menyadari kapasitas kita sebagai manusia, kita belajar menjadi lebih rendah hati. Sebagai seorang manusia, tugas kita adalah berusaha dengan semua kemampuan kita. Setelah itu, bagaimana hasil yang kita dapatkan merupakan hak prerogatif Tuhan.

"Dengan sendirinya, kita akan paham bahwa ada hal tak bisa kita ubah dengan cara apapun.". Recovery Corner, hal. 88

Kalimat ini mengajak kita untuk lebih bijaksana menghadapi kekecewaan. Jika sesuatu tak berjalan sesuai harapan, kita tak perlu menyalahkan diri sendiri atau pun menyalahkan Tuhan.

Ketika kita memilih berada di pihak Tuhan, saat itu juga kita harus meyakini bahwa apapun yang datang pada kita — baik kebahagiaan maupun ujian — sudah sesuai dengan porsi dan kapasitas yang kita miliki. Tak ada yang berlebihan, tak perlu dibandingkan dengan milik orang lain, sebab,

"Tuhan tidak menjanjikan bahwa kehidupan akan selalu berjalan dengan mudah. Namun, Ia berjanji tidak akan menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya, dan bahwa beserta kesulitan, selalu ada kemudahan.". 
—Recovery Corner, hal. 49

Setiap hal akan terjadi tepat pada saatnya, tepat ketika Tuhan berhenti menghitung dan akhirnya memberikannya kepada kita. Tentu, itu semua terjadi setelah kita belajar dan jiwa kita benar-benar siap menerima berkah tersebut.

Di akhir perenungannya, Febby berpesan kepada kita,

"Setiap luka yang hadir pasti membawa makna. Setiap air mata yang jatuh pasti akan menjadi kekuatan. Terima kasih sudah mau kembali menyapa dirimu. Sekarang, semoga kamu bisa kembali tertawa dengan lepas, tersenyum dengan lebih lega, dan semoga kamu pulih.". —Recovery Corner, hal. 154

Maka, tidak ada yang sia-sia. Rasa sakit maupun rasa bahagia yang kita alami, keduanya adalah pemberian yang paling tepat yang Tuhan miliki untuk kita — diberikan bukan lebih cepat atau lebih lambat, melainkan persis pada waktu yang seharusnya.

Untuk itu, bertahanlah satu hari lagi untuk matahari pagi esok hari. Tuhan masih berhitung, Ia akan berhenti padamu di waktu yang baik. Berdamailah dengan diri sebab dirimu adalah kawanmu nomor satu.

 

Baca Juga: Review Buku Slow Living Journal

Pandangan Reviewer Terhadap Buku Recovery Corner Karya Febby Yonika

Recovery Corner itu seperti seorang teman yang bisa kamu telepon pada pukul 3 pagi dan begitu kamu memintanya datang, dia tidak akan ragu untuk setuju.

Sesuai dengan judulnya, melalui buku ini penulis memang memberikan ruang kepada pembaca untuk bersama-sama memulihkan diri. Harus saya akui, meskipun tidak terlampau tebal, buku ini bukanlah sesuatu yang bisa saya baca dengan tergesa-gesa.

Banyak bagian yang membuat saya berhenti lama, menghela napas, bahkan sesekali menangis haru. Buku ini bukanlah buku motivasi tetapi ia menghadirkan harapan bagi siapapun yang lupa caranya mempercayai harapan.

Tidak hanya disuguhi esai pendek yang reflektif, Febby juga menulis beberapa puisi dan quotes yang indah. Menariknya lagi, buku ini juga menyediakan bagian refleksi berisi pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya bisa menjadi perenungan pembaca.

Tidak ada usaha untuk menggurui. Tidak ada tendensi meremehkan kesedihan orang lain. Buku Recovery Corner karya Febby Yonika justru membuat pembaca merasa dimengerti, didengarkan, dan diakui.

Tulisan adalah bentuk komunikasi satu arah. Namun, ketulusan hati penulis yang dihadirkan di setiap kalimatnya, berhasil menyentuh hati saya sebagai pembaca.

Siapapun yang saat ini tengah merasa rapuh, duduklah bersama buku ini. Biarkan dirimu memiliki teman yang tak akan menertawakan kecengenganmu, yang mau menerima air matamu, yang mau mengakui luka-lukamu.

Seorang teman yang mengerti bahwa kerapuhan tak perlu disangkal.

Wawancara dengan Penulis Recovery Corner

Reviewer: Di buku ini, Kak Febby menulis dengan sangat terbuka soal masa ketika sempat tak menginginkan hidup lagi. Apa yang membuat Kakak akhirnya memutuskan untuk menuliskan pengalaman itu dan membagikannya kepada orang lain, bukan menyimpannya sebagai catatan pribadi saja?

Febby Yonika: Ini terjadi awalnya saat tahun baru 2018-2019. Saat itu entah kenapa aku lagi kacau sekali, tapi karena sekarang aku udah merasa berdamai. Jadi aku bakalan cerita. Di tahun itu, aku benar-benar gak tau harus jalanin hidup kaya apa lagi, sampe pikiran buat mengakhiri itu datang.
 
Aku sempat pergi ke psikiater, tapi ternyata orang tua aku gak suka. Dan malah dapat label yang buruk. Mereka menganggap aku hanya berlebihan, dan cuma kurang iman. Kata-kata itu keluar dari mulut orangtuaku sendiri, khususnya ibuku. Makanya aku ada tulis di halaman 97 tentang berhenti membenci orang tua, karena aku pernah ada di posisi itu.
 
Sampai akhirnya aku banyak belajar, aku juga baca beberapa buku kesehatan mental, dan menemukan bahwa ternyata orang tua kita juga punya trauma. Justru lebih kasihan karena di jaman mereka ilmu tentang kesehatan mental gak semasif sekarang. Aku yakin tanpa mereka sadari, mereka sebenarnya juga bingung dengan luka mereka sendiri.
 
Dan kenapa akhirnya aku memutuskan buat menjadikan buku? Itu awalnya di tahun 2021 aku sering bgt nulis, tentang perasaan aku, tentang kehidupan aku. Sampe tahun 2022, ada kenalan aku yang dia DM aku waktu itu aku cukup aktif di twitter. Dia DM aku katanya merasa terbantu dengan tulisan-tulisan aku. Dari situ aku merasa senang sekali.
 
Dan di tahun 2023, aku kepikiran buat menjadikan tulisan aku buku. Tapi waktu itu masih ada keraguan, aku gak tau harus buat buku seperti apa, sampe akhirnya aku membaca bukunya Matt Haig yang Comfort book, aku mikir apa konsepnya kaya gitu aja kali ya? Makanya aku ada bahas soal buku tersebut di awal pembuka.
 
Lebih karena ada yang merasa tulisan aku membantu sih kak, makanya aku memutuskan buat menjadikannya buku, walau tentu di awal penuh dengan pertimbangan bagian mana yang mau aku masukkan dalam buku aku. 

Reviewer:Ada satu kalimat yang menurut saya sangat menohok di halaman 33 — soal membalik pertanyaan dari 'apakah Tuhan ada di pihak kita' menjadi 'apakah kita ada di pihak Tuhan'. Boleh cerita, momen atau pengalaman apa yang membawa Kakak sampai ke titik pemikiran itu?

Febby Yonika: Sebenarnya kalimat ini aku ingin mengajak kita semua, of course myself too. Untuk mengubah sudut pandang kita. Sering kali ketika kita ada masalah, ketika kita menghadapi kesulitan, pertanyaan pertama yang muncul adalah, “Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?” atau “Apakah Tuhan benar-benar memihakku?” Seolah-olah ukuran kebaikan Tuhan ditentukan oleh apakah hidup kita berjalan sesuai harapan atau tidak.
 
Giliran kita hidup tidak sesuai harapan kita, atau hidup penuh kegagalan, kita sering setidaknya berpikir bahwa “Tuhan mungkin gak sayang sama kita”.

Kalimat itu sebenarnya terlintas begitu saja di pikiranku. Aku lupa kejadian detailnya gimana. Cuma saat itu aku sempat sering kali menyalahkan Tuhan, karena aku merasa hidupku bermasalah melulu.
 
Sampai ada titik di mana, aku menyadari bahwa mungkin pertanyaan yang lebih penting justru sebaliknya: “Di tengah situasi ini, apakah aku masih memilih berada di pihak Tuhan? Apakah aku tetap berusaha hidup sesuai kehendak-Nya, sekalipun hasilnya tidak seperti yang kuinginkan?”
 
Karena sering kali aku melihat teman-temanku yang mungkin hidupnya “bermasalah” justru terjerumus kedalam hal-hal yang kurang baik. Tentu kita gak bisa menilai mereka seperti apa, aku juga gak punya hak untuk berkomentar tentang hidup mereka. Tapi setidaknya dari dalam diriku muncul kesadaran, mungkin bukan Tuhan yang perlu membuktikan bahwa Ia berpihak kepada kita.
 
Mungkin justru kita yang setiap hari diajak bertanya, “Apakah hari ini aku masih memilih berada di pihak-Nya?” Karena menurutku, karakter Tuhan itu tidak akan pernah berubah, meski seringkali mungkin hidupku berubah. Keimanan tentu ada masanya up and down, tapi aku percaya selama kita gak menghilangkan rasa percaya kita kepada Tuhan, aku rasa hidup akan baik-baik saja pada akhirnya. 

Reviewer: Kakak menulis bahwa berdamai dengan diri sendiri berarti tak lagi bergantung pada hal-hal di luar kendali kita, termasuk validasi dari orang lain. Selama proses penyembuhan diri Kakak sendiri, apa hal di luar kendali yang paling sulit untuk dilepaskan?

Febby Yonika: Mungkin kalau pilih salah satu, aku bakalan milih tentang harapan bahwa orang lain bisa memahami diriku.

Aku sering kali berharap jika orang lain bisa memahami keadaanku, hidup bakalan lebih mudah dan menyenangkan. Aku ingin mereka mengerti tentang aku, aku ingin mereka menerima dan notis keberadaan aku. Tapi sering kali yang aku dapatkan malah kekecewaan.
 
Aku merasa sudah berusaha bersikap baik kepada mereka, tapi entah kenapa feedbacknya gak selalu setara. Yang ujung-ujungnya buat aku kecewa dan malah jadi nyalahin diri sendiri.

Untuk proses penyembuhannya sendiri, jujur sampai sekarang aku juga masih terus belajar. Aku juga gak sepenuhnya jadi orang yang baik dan mengerti. Masih banyak ego yang aku sendiri belum bisa selesaikan.

Mungkin ini agak klise. Tapi yang aku sadari selama proses penyembuhan ini, khususnya tentang menerima diri sendiri adalah kita tidak pernah bisa memaksakan orang lain mengerti kita. Tidak semua orang akan mengerti perjalanan kita, dan itu tidak apa-apa. Bukan berarti aku jadi gak butuh orang lain, aku masih butuh dukungan orang lain.
 
Tapi bedanya adalah ketika aku merasa orang itu tidak bisa mengerti atau memahami aku, aku tidak lagi merasa frustrasi atau merasa harus membuktikan sesuatu. Berusaha untuk tidak lagi menggantungkan harap pada seseorang. Aku bisa menerima orang-orang yang dukung aku, yang tulus mau menemani aku, dan aku rasa itu cukup.

Reviewer: Menulis tentang luka dan proses penyembuhan diri sendiri itu nggak mudah, apalagi untuk dibaca orang lain. Bagaimana proses kreatif Kakak dalam menulis buku ini? apakah ditulis dalam waktu yang berdekatan dengan kejadiannya, atau butuh jarak waktu dulu supaya bisa menuliskannya dengan lebih jernih? Dan adakah bagian yang paling berat untuk ditulis?

Febby Yonika: Pasti. Dan jujur kadang ada masa aku menangis saat menulis buku tersebut.

Saat terpikirkan sesuatu, biasanya aku akan menyimpannya di note terlebih dahulu. Dan gak semua tulisan aku tulis dalam jarak waktu yang dekat dengan pengalamanku.
 
Aku biasanya akan menunggu tenang, agar bisa lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi. Karena menurut aku kalau langsung di tulis nanti akan ada bias yang kurang jernih. 

Untuk bagian paling berat, mungkin tulisanku di halaman 135. Karena itu kejadian baru banget aku alami tahun lalu, dan jujur sebenarnya aku sempat bingung apakah tulisan itu aku masukan atau jangan.

Reviewer: Di akhir buku, tepatnya pada halaman 154, Kakak menulis pesan yang sangat personal untuk pembaca. Kalau ada satu pembaca yang saat ini merasa seperti Kakak dulu, di titik paling gelap, apa satu hal yang paling Kakak ingin mereka tahu, sesuatu yang mungkin belum tertulis di buku ini?

Febby Yonika: Kalau ada satu hal yang ingin aku sampaikan kepada seseorang yang sedang berada di titik paling gelap dalam hidupnya, mungkin ini “tidak apa-apa kalau hari ini yang bisa kamu lakukan hanya bangun dari tempat tidur, mandi, makan sedikit, atau sekadar menarik napas dan melanjutkan hidup. 
 
Langkah yang kecil tetaplah sebuah langkah. Terimakasih karena sudah bertahan sejauh ini, dan aku harap ketika kamu melihat ke belakang nanti, kamu akan merasa bersyukur karena tidak memilih menyerah saat itu dan terus hidup.”

Penulis buku Recovery Corner dapat disapa melalui laman Instagram: @_fbyra.
 
Lupy Agustina
Lupy Agustina

Tidak akan mati semudah itu—setidaknya setelah dua, tiga, atau seratus pertempuran lagi. Ingin lucu dan kurus.

Postingan Selanjutnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url