Review Buku Slow Living Journal karya Janeera Amba
Banyak orang yang masih terjebak pada persepsi bahwa untuk menerapkan gaya hidup slow living, harus mengubah koordinat tempat tinggal dulu. Ada yang beranggapan harus tinggal di sebuah pedesaan. Bahkan, ada juga yang bilang tinggal di perumahan komersial saja biar nyaman.
Akan tetapi dalam buku Slow Living Journal karya Janeera Amba, ia tidak menyoroti di mana kita harus tinggal untuk mengaplikasikan gaya hidup tersebut. Namun justru mengajak pembaca untuk mempraktikkan hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari guna menjinakkan waktu di jaman sekarang yang kian hari terasa cepat atau terburu-buru.
Review Buku Slow Living Journal karya Janeera Amba
Penulis: Janeera Amba
Tahun Terbit: 2024
ISBN: 978-623-357-173-9
Dimulai dengan Menikmati Pagi Hari
Janeera Amba membuka kesadaran pembaca bahwa, cara kita memulai pagi hari akan menentukan warna sepanjang hari. Banyak dari kita yang bangun pagi langsung disambut dengan kepanikan: meriksa notif HP, mandi dan sarapan terburu-buru, atau bahkan melewatkannya sama sekali.Di dalam buku ini, pembaca diingatkan untuk mindful eating. Rasakan setiap suapannya dengan pelan-pelan dan nikamtilah!
Seni Slow Working
Salah satu bagian paling seru dari Slow Living Journal adalah bagaimana penulis membedah dunia kerja. Di zaman sekarang, kerja lembur dianggap sesuatu yang dinormalisasikan. Namun buku ini justru menantang pemikiran tersebut sambill memperkenalkan konsep slow working.Perlu diketahui bahwa, Slow working bukan berarti malas atau menunda pekerjaan, tetapi berkaitan dengan kefokusan dalam bekerja, satu demi satu (monotasking), bukan kemudian melakukan multitasking yang bikin otak lelah. Penulis mengajak kita untuk mempertimbangkan kembali keputusan berlembur.
Selain itu, bagi penganut gaya hidup serba cepat, akhir pekan sering kali berakhir menjadi hari untuk melanjutkan sisa pekerjaan kantor yang belum tuntas. Nah, buku ini mengingatkan kita untuk merebut kembali hak akhir pekan tersebut.
Menyediakan Ruang untuk Me Time
Poin yang tidak kalah menarik dalam buku slow living yang satu ini adalah pentingnya me time. Penulis menekankan bahwa manusia bukanlah robot yang dapat terus menyala tanpa batas waktu. Manusia butuh waktu untuk sendirian, tanpa berperan sebagai pekerja, sebagai pasangan, atau sebagai orang tua.
Me time dalam sisi slow living adalah tentang menikmati hidup dalam kesendirian yang intim. Contohnya sesederhana; membaca buku favorit di pojok kamar, menikmati sore hari di halaman rumah sambil melamun, atau melakukan hobi lama yang sudah terlupakan.
Ruang kesendirian itu penting agar kita dapat kembali mendengar suara hati sendiri yang sering kali tenggelam oleh kebisingan dunia luar.
***
Pada pembahasan berikutnya, penulis mengangkat topik yang menarik juga; yakni tentang slow travel, slow money, dan minimaist living.
Baca Juga: Review Buku Nindiya karya Andra Kusnaedi
Pandangan Reviewer Terhadap Buku Slow Living Journal
Kedua, dari segi isi, pembahasannya tidak berat atau teoritis. Janeera tidak menggunakan istilah-istilah yang rumit atau yang muluk-muluk. Pendekatan yang digunakan sangat membumi. Topik-topik yang diangkat pun adalah hal-hal yang sangat dekat dan kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

