Artikel Terbaru

5 Langkah agar Sebuah Novel Bisa Dijadikan Film, 90% Berhasil! [TERBARU]

Novel Bisa Dijadikan Film


Tiap saya membuat acara launching buku bersama penulis-penulis yang kerjasama dengan saya, pasti ada saja salah satu audience yang bertanya, “Kak, apakah novel kakak bisa dijadiin film?”.

Sebagai moderator acara literasi, saya tersenyum saja. Tanda bahwa pertanyaan ini klasik banget. Sedangkan penulis yang saya bawa, dia menjawab, “Harapannya iya” dia menjawab itu sambil menoleh ke arah saya. Dan kami tertawa.

Kami tertawa karena, entah mengapa anggapan pembaca buku, setiap ada buku baru yang terbit pasti dikait-kaitkan dengan film. Padahal, tidak semua novel bisa dijadikan film. Dan tidak semua novel harus difilmkan.

Dan pertanyaan saya begini, film apa dulu ini teh? Film layar lebar atau film pendek?

Lantas mengapa jika tidak semua novel harus difilmkan, saya malah membagikan 5 langkah agar sebuah novel dapat diadaptasi menjadi film? Lalu judul tulisan ini diberi bumbu, “99% berhasil?”.

Pertanyaan ini balik ke pertanyaan saya diawal: film layar lebar atau film pendek?

Baik lah agar pembaca tidak bingung, perhatikan 5 langkah di bawah ini agar novel yang kita terbitkan bisa dijadikan film.

1. Buat naskah novel

Barangkali pembaca yang mampir ke blog ini ada yang sudah berhasil menerbitkan novel. Lalu tertarik ingin difilmkan novelnya.

Nah jika benar, tahan dulu. Sebab, langkah pertama ini dikhususkan bagi penulis novel yang hanya sekadar kepo saja.

Jadi, langkah utamanya adalah membuat naskah novel dulu.

Naskah yang kalian garap harus benar-benar selesai, dan dieksekusi dengan baik. Mulai dari tema, judul, hingga biodata penulis. Kira-kira gambarannya begitu.

Sedangkan bagi penulis yang sudah menerbitkan novelnya, itu naskah novel yang kalian save di Microsoft Word jangan dihapus. Rawat baik-baik.

Apabila sudah membuat naskah novel, lakukan langkah kedua.

2. Terbitkan naskah novel

Di langkah kedua ini lah yang paling krusial banget. Sebab, mohon maaf, buku yang diterbitkan melalui penerbit gratisan dan penerbit indie berbayar, agak susah difilmkan dalam bentuk film layar lebar.

Mengapa begitu?

Karena, mari kita sadari bahwa novel yang diadaptasi menjadi film kebanyakan diterbitkannya lewat penerbit mayor, seperti Gramedia misalnya.

Tapi, tenang! Buat penulis novel yang karyanya diterbitkan melalui penerbit indie, masih ada cara lain di langkah berikutnya.

3. Jual buku sebanyak mungkin

Potensi novel kalian difilmkan terbilang besar apabila:

1). Berhasil diterbitkan melalui penerbit Mayor seperti Gramedia

2). Buku terjual banyak, alias best seller

Kalo sudah best seller, pihak penerbit biasanya menghubungi sutradara film untuk melakukan kerjasama. Atau kadang-kadang, sutradara film yang jemput bola.

Artinya, mereka sengaja datang ke toko buku atau mungkin juga menanyakan ke penerbit, “Novel yang best seller apa saja?”

Selaku penulis buku indie, novel kalian masih bisa difilmkan dengan catatan penjualannya banyak. Artinya buku laris manis, meski tanpa dibantu oleh penerbit. Jadi segalanya secara mandiri.

Mari masuk ke dua langkah lagi yang jaminannya 90% berhasil bahwa novel kalian bisa kok diadaptasi menjadi sebuah film.

4. Bikin film pendek

Ini dia sebenarnya langkah paling jitu agar novel dapat difilmkan. Ukurannya bukan film layar lebar, tapi film pendek dulu.

Film pendek yang kemudian nantinya diunggah di Instagram maupun YouTube. Dengan langkah ini, seenggaknya novel kalian sudah difilmin.

Kalo sudah membuat film pendek yang tentu nanti bakalan kerjasama dengan banyak orang di berbagai bidang, nah nanti ajak semua pembaca novel kalian agar menonton filmnya.

Meski durasi filmnya hanya 20 menit, pokoknya bikin aja dulu.

Tapi film pendek bukan harapan saya misalnya, kata kalian. Justru dengan membuat film pendek, ada kemungkinan diangkat ke layar lebar oleh sutradara film.

Caranya?

Lakukan langkah terakhir.

5. Kirim naskah novel beserta bukunya ke sutradara film

Ini dia langkah terakhir agar sebuah novel bisa dijadikan film.

Sebelum menjelaskan langkah terakhir ini, saya urai lagi dari langkah pertama sampai terakhir. Soalnya ini berkaitan banget.

Mari saya jelaskan.

Pertama, buat dulu naskah novelnya hingga benar-benar: fiks beres!

Kedua, terbitkan novelnya. Saya tahu bahwa menerbitkan buku di penerbit Mayor agak susah, persaingan ketat, maka solusinya terbitkan secara mandiri (self publishing).

Ketiga, setelah buku terbit, jual sebanyak mungkin.

Mengapa harus begini?

Karena ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi sang sutradara film. Artinya, meski tidak diterbitkan di penerbit mayor, buku kita masih bisa laku keras.

Rumusnya: Banyak orang yang membeli buku kita = banyak penonton yang mau menyaksikan film novel kita.

Keempat, bikin film pendek.

Untuk menguatkan penilaian dari sutradara film, ada dua hal:

1). Buku terjual banyak

2). Film pendek yang kalian bikin harus banyak penontonnya

Dua hal di atas, istilahnya semacam CV lah. Paham, kan?

Nah maksud kelima ini adalah jika semuanya sudah kalian pahami, maka kirim email ke sutradara film dengan cara mengirim naskah mentahnya saja dulu sambil dilengkapi dengan dua hal tadi.

Perhatikan langkah-langkah kirim email ke sutradara film.

1). Cari dulu sutradara film yang memang sesuai dengan genre buku kalian

Genre buku kalian misalnya bertema horor, cari sutradara film yang sudah terbiasa bikin film horor, 

Genre buku kalian misalnya bertema keluarga, cari sutradara film yang sudah sering bikin film bertema keluarga.

2). Kalo sudah ketemu, cari akun sosial medianya

DM dia, hubungi dia. Dan jika tidak ada balasan: kirim email kepada dia. Biasanya pasti ada alamat emailnya. Kalo kirim email, biasanya di-notice.

Cara kirim emailnya?

Silakan kalimat-kalimatnya bikin sendiri. Pokoknya, isi emailnya terdapat:

1). Dokumen naskah novel mentah

2). Jelaskan bahwa novel kalian terjual sekian-sekian eksemplar

3). Jelaskan bahwa kalian sudah bikin film pendek, dan filmnya sekian penonton, lalu cantumkan link-nya apabila diunggah lewat IG dan Youtube

4). Tunggu dan berdoa

Solusi apabila email tidak dibalas?

Datang lah ke acara si sutradara film, lalu kasih buku yang kalian terbitkan, saya yakin dia nggak bakalan menolak karena yang kita kasih adalah sebuah buku.

Dan lantas jangan lupa bilang begini, “Mas/Mbak, saya mau ngasih buku yang saya tulis sendiri ke Mas/Mbak. Dan saya memohon dengan sangat, tolong dibaca ya email yang saya kirim Minggu lalu. Email itu berisi tentang buku ini. Terima kasih,”

Sudah berani mencoba? Silakan.

BACA JUGA: Sylvia (2003): Film Tentang Penyair yang Kisah Cintanya Rumit, Hingga Bunuh Diri

Tidak ada komentar

Tolong berkomentar dengan baik dan logis. Jangan melakukan spam. Kalau bisa, berkomentar lah pakai nama, jangan anonim. Komentar kalian saya filter dulu. Jika komentar kalian sesuai selera saya, akan saya setujui. Terima kasih.