Apakah Menjadi Seorang Penulis Itu Keren?

Apakah Menjadi Seorang Penulis Itu Keren?

Dalam keheningan, saya sering berkontemplasi tentang hobi saya. Bagaimana tanggapan orang lain terhadap orang yang hobi menulis? Apakah menurut mereka penulis itu banyak uangnya? Apakah menjadi seorang penulis itu keren? Khusus pertanyaan terakhir, saya tanya kepada diri saya sendiri.

Saya yakin, pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang ingin orang lain tanyakan kepada saya. Mereka sering mengira bahwa menjadi penulis itu sepertinya keren. Dan mungkin, mereka pikir penulis itu banyak uangnya..

Saya bersyukur jika orang lain menganggap kalau hobi saya ini terbilang keren. Saya akui, seorang penulis buku untuk menyelesaikan naskahnya atau penulis artikel yang kerap memikirkan gimana caranya agar artikel mereka tembus ke media online, memang butuh tenaga ekstra. Butuh perjuangan yang luar biasa hebat. Maka, ketika ada orang lain menganggap penulis adalah profesi yang keren, setidaknya menurut saya, yaaa keren.

Akan tetapi, kalau dianggap seorang penulis banyak uangnya, saya agak gimanaaa gitu menjawabnya. Beberapa penulis hebat yang punya kontrak dengan penerbit, mungkin benar banyak uangnya. Beberapa penulis yang artikelnya sering dimuat di media besar dengan bayaran 600 ribu per artikel misalnya, mungkin benar uangnya banyak. Lha, masalahnya adalah ketika menyamakan semua penulis banyak uangnya, ini tentu keliru. Mungkin, di lain waktu, saya pengin ngejelasin jenis-jenis penulis dan pendapatan yang mereka raih.


Saya menebak dulu, mengapa orang lain menganggap seorang penulis itu keren? Saya pernah dibilang keren sama orang-orang yang tidak dekat sama saya. Jawaban ini saya kaitkan dengan pengalaman saya.

Pertama, saya pernah menulis buku. Dan bayangan mereka, menulis buku itu sulit. Saya sering ditanya seperti, "Bagaimana kamu menyelesaikan buku ini?" dari pertanyaan itu saja sudah bikin mereka kagum. Kedua, hidup saya tidak terlihat susah. Pagi keluar rumah buat sarapan. Malam nongkrong. Kelihatan enjoy. Ketiga, saya menulis di beberapa media besar sehingga mereka pikir uang saya banyak. Keempat, penampilan saya rapi dan cocok menampilkan seorang penulis.

Nah, dalam rubrik baru penulis Garut yaitu "Tutulisan" saya akan menjawab anggapan-anggapan tersebut. Sekaligus saya ingin mengemukakan pendapat saya soal judul ini: apakah menurut saya menjadi seorang penulis itu keren?

Pertama, siapapun bisa berkarya lewat sebuah buku. Kamu hanya perlu menulis, menulis, dan menulis. Kalau sudah menjadi buku, bukan berarti penulis tersebut banyak uang. Pasalnya, ada beberapa jenis penerbit. Coba kamu tanya kepada penulisnya, ia menerbitkan buku melalui penerbit mana? Jenis penerbit mayor apa indie? Jadi, tidak semua penulis setelah melahirkan karya, bisa dikatakan banyak duit. Tergantung penerbitnya mana. Bahkan, tergantung berapa banyak bukunya terjual. Dan berapa royalti per eksemplar-nya. Saya sendiri? Lewat penerbit indie. Saya mengeluarkan modal, saya sendiri yang menjualnya.


Kedua, hidup saya tidak terlihat susah karena saya menikmati hobi ini. Dan belum ada di tahap bosan menulis. Dan saya memang jarang sambat kepada siapapun itu. Nah, pikiran tidak terlihat susah bukan berarti banyak uang, tetapi emang sifatnya aja dari dulu kayak gitu. Tapi, emang banyak uang? Sederhana.

Ketiga, saya menulis di beberapa media besar bukan berarti tembus di dinding utama editorial-nya. Kalau dalam satu minggu tembus sekali, sebulan sudah satu juta. Tapi, saya tidak tembus ke media besarnya. Jadi yaa gini aja. Terakhir, soal penampilan mah emang dari sononya pengin rapi. Tidak ada hubungannya pengin dianggap keren di mata banyak orang. Kalau emang terlihat keren, sekali lagi, saya bersyukur.

Pertanyaan terakhir buat saya sendiri: apakah menjadi seorang penulis itu keren? Keren sih kalau dilihat dari etos kerja yang saya lakukan. Mulai dari mengumpulkan ide, berbagi kepada pembaca, disenangi sama pembaca, dipuji tulisan saya bagus, dianggap keren juga hahaha. Tapi, untuk kesejahteraan, penulis masih jauh ada di tahap sejahtera. Penulis-penulis hebat yang bukunya terjual habis, harus potong pajak dengan bayaran yang wah.

Sedangkan bagi penulis yang biasa-biasa saja seperti saya, harus banyak berlatih menulis lagi. Belajar lagi. Dan, saat ini, disyukurin aja atas pencapaian yang pernah saya raih. Itu sih. Semoga tulisan ini menjawab.

Postingan Selanjutnya Artikel sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url