Tere Liye, Penulis Paling Berisik Terkait Isu Pembajakan Buku

Tere Liye Pembajakan Buku


Ketika penulis Tere Liye trending di Twitter, saya yakin bahwa penulis masyhur lainnya seperti Fiersa Besari maupun Boy Candra, pasti mereka sepakat juga kalau pembajakan buku itu merugikan. Hanya saja, Tere Liye paling berisik.

Dan bahkan jika ditarik lebih dalam lagi, bukan hanya penulis-penulis besar saja yang merasa dirugikan atau tidak mendukung pembajakan buku tersebut.

Mulai dari penulis pemula, apalagi penerbit buku, lalu penjual buku original, dan bahkan para penggiat literasi pun bakalan sepakat juga kalau pembajakan buku memang perilaku terkutuk.

Lagipula, saya pribadi sebagai pecinta buku, merasa ingin bertanya kepada pembaca buku bajakan: yaps! Apa enaknya sih membaca buku non original? Seperti sedang membaca koran saja!

Begini.

Sedari dulu, pembajakan masih menjadi masalah besar di Indonesia. Bukan hanya buku, film pun menjadi sasaran empuk bagi pelaku pembajakan.

Sayangnya, masalah pembajakan ini agak susah diatasi. Perlu kesadaran (jika terkait pembajakan buku) dari para pelaku pembajakan, penjual buku bajakan, hingga pembeli buku.

Bahkan kalau segala hal yang berkaitan dengan pembajakan ingin teratasi, negara harus peduli!

Baca tulisan Iqbal Aji Daryono: Menunggu negara membela Tere Liye.

Nah saat sedang berselencar di Twitter, saya tidak sepakat atas argumentasi yang disampaikan oleh pemilik akun Twitter @harisFQ yang menilai arogan kepada Tere Liye saat menasihati pembacanya agar tidak membeli buku bajakan.

Tweet Haris FQ sendiri trending di Twitter, seiring dengan nama Tere Liye yang juga trending. Berikut tweet dari akun @harisFQ.

"Masalahnya, Bung Tere, audiens buku anda itu mayoritas anak smp dan sma yang belom engeuh sama isu pembajakan buku. Baik itu buku fisik maupun ebook. Sekarang mereka yg polos itu anda dungu dan g0bl0kan, makin nampaklah arogansi anda Bung Tere," tulis @harisFQ.

"Saya tau anda lelah dgn isu ini, tapi alih-alih mengedukasi dgn baik, anda malah memilih menggunakan kata kasar...Kalau anda lelah menghadapi isu pembajakan, berhenti saja menulis, mgkin jualan kopi susi akan lebih laku. Karena pembajakan buku ini perjuangan di jalan panjang," lanjutnya.

Sewaktu SMA, saya sudah tahu ciri-ciri buku bajakan dan buku original. Biasanya buku original terbilang mahal harganya, sedangkan buku non original dijual murah. Lalu, kualitas kertas keduanya pun berbeda.

Saya juga tahu tentang isu pembajakan buku, bahwa ia adalah salah satu faktor yang membikin penulis macam Asma Nadia saat itu jengkel sekali. Para penerbit buku pun sedari dulu merasa dirugikan.

Jadi, jika disamaratakan anak SMP dan SMA belum “ngeuh” terkait isu pembajakan buku, ini salah besar. Sebab di beberapa sekolah, guru bahasa Indonesia sering mengedukasi masalah pembajakan buku tersebut. Sehingga, siswa-siswinya paham.

Adapun siswa-siswi yang belum tahu isu pembajakan buku, kemudian mereka membeli buku bajakan, ini biasanya di sekolahnya tidak ada edukasi dari guru-gurunya.

Dan saya kira, boleh lah salah kan saja para penjual buku bajakan yang eksis di beberapa marketplace besar seperti Shopee, Tokopedia, dan Bukalapak. Sebab, mereka (para penjual buku bajakan) lebih tahu daripada anak-anak sekolah.

Apalagi, jika saya perhatikan, saat ini kualitas kertas buku ori dan non ori sudah hampir sama persis. Gila sih.

Terkait mayoritas pembaca buku Tere Liye, saya menganggukan kepala. Mungkin, terlihat memang, di media sosial mayoritas pembaca buku Tere Liye kaum pelajar.

Tapi, poin haris FQ tidak di situ. Iya keliru mengatakan anak SMP dan SMA belum ngeh terkait isu pembajakan buku.

Kesalahan berikutnya dari Tweet Haris FQ adalah, ia menyuruh berhenti menulis kepada Tere Liye jika sudah lelah menghadapi isu pembajakan buku.

Dilengkapi dengan memberikan saran, katanya: jualan kopi susu saja biar laku.

Justru, saya kira, dengan berisiknya Tere Liye melarang-larang pembaca buku membeli buku bajakan, nanti satu-dua pembacanya sadar.

Mereka mungkin saja akan meluncur ke internet mencari tahu tentang ciri-ciri buku ori dan non ori. Sehingga buku original lah yang akan mereka beli.

Cara edukasi Bung Tere sambil mengg0bl0k-g0bl0kan tidak masalah bagi saya. Selagi hal tersebut ditujukan untuk kebaikan penulis, penerbit, dan pecinta buku.

Dan saya kira, Tere Liye justru saat ini sedang berjuang melawan pembajakan buku.

FYI: saya bukan pembaca buku Tere Liye, tapi saya peduli terhadap isu pembajakan buku ini.

Postingan Selanjutnya Artikel sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url