3 Cara Mengatur Keuangan bagi Penulis Lepas, Persentasenya Mungkin Tepat sih untuk Kalian Terapkan

Penulis Lepas,

Berangkat dari pengalaman sendiri, penghasilan penulis lepas kebanyakan tidak tentu. Kadang ada job, kadang sepi. Kadang-kadang naskah diterima di media online, kadang-kadang ditolak.

Meski di blog ini sudah saya share tentang lima media online yang membayar penulis lepas dengan bayaran yang wah, tapi keukeuh naskah agar bisa tembus ke lima media online tersebut susah.

Sekalinya naskah diterima mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, minimal seminggu lah dengan catatan ngirit pengeluaran. Sekalinya ditolak, apalagi berkali-kali ditolak, ditambah pas lagi butuh uang banget, ujung-ujungnya agak prustasi.

Keprustasian itu pernah saya alami tahun lalu. Tentu sebelum saya serius mengelola blog ini. Tahun lalu betapa kerja keras nyari uang tambahan dengan membranding diri sebagai penulis lepas.

Kadang dibayar 25K per 600 kata, kadang dibayar 30K per 1000 kata. Dan ngirim tulisan ke media online, ke Terminal Mojok misalnya, penulis lepas dapat honor 200K jika sudah tembus 10 naskah.

Gampang? Susah. Seleksi naskahnya ketat. Kadang untuk bisa mendapatkan uang 200K dari media online tersebut butuh satu bulan. Paling cepat dua Minggu.

Eh sekarang mah untuk mendapatkan uang 200K nggak butuh satu bulan, ngeblog di blog ini aja dapat tawaran kerjasama dari dua pengiklan udah dapat lebih dari 200K. Bahkan penghasilan seminggu kalo dihitung-hitung udah...segitu deh~

Terlepas kalian sebagai penulis lepas dibayar dengan bayaran yang "wah" atau "cukup", tentu butuh  cara mengatur keuangan. Sebab, balik lagi. Penghasilan penulis lepas kebanyakan nggak jelas. Jadi perlu cuy memenej keuangan.

Jangan bilang orang yang berprofesi sebagai penulis lepas kebanyakan miskin. Mungkin bukan miskin, tapi ketika dia dapat banyak uang dari karya yang dibuatnya, uangnya malah tidak digunakan dengan baik. Kasarnya, nggak becus mengelola keuangan.

Maka dari itu, simak 3 cara mengatur keuangan bagi penulis lepas atau bahasa Enggresnya freelance writer di bawah ini.

Penulis lepas usahakan membeli barang yang benar-benar dibutuhkan saja

Meski cara pertama ini agak klasik, tapi saya setuju kalo beli barang emang harusnya beli barang yang dibutuhkan saja, bukan yang diinginkan.

Sebab banyak penulis lepas usai mendapatkan transferan, eh langsung foya-foya. Salah satunya membeli banyak barang yang nggak dibutuhkan amat.

Cuma yang jadi pertanyaan, barang apa saja yang kudu dibeli? Ini yang menarik.

Buku terkait kepenulisan yang lagi digali

Untuk meningkatkan skill menulis, sisihkan sebagian uang untuk membeli buku. Buku yang dibeli harus ada kaitannya dengan dunia kepenulisan yang sedang kalian gali.

Sederhananya gini. Dua bulan ini saya sedang asyik-asyiknya menulis di blog. Maka, buku yang saya beli adalah buku tentang blogging. Tujuannya ingin memperdalam dunia blogging.

Bahkan, kini bacaan tiap hari pun mengenai blogging. Sehingga, saya tidak tertarik mengklik tulisan-tulisan di luar tema blogging.

Harga rokok 20 ribu, sehari bisa langsung habis. Buku mah meski harganya 60 ribu, manfaatnya luar biasa. Jadi, atur keuangan dengan membeli barang yang kita butuhkan. Ini juga, sekali lagi, buat meningkatkan skill menulis.
 

Beli pakaian sopan

Ada beberapa penulis lepas di lingkungan pertemanan saya yang nggak mementingkan penampilan. Sehingga, saat ketemu klien, sang klien agak risih. Saya yang membawanya juga agak malu.

Fee yang didapat dari hasil nulis harus ada fisiknya. Minimal beli pakaian baru yang sopan. Ibarat ngeblog, kalo penghasilan udah banyak kan nanti jadi mau beli hosting, bahkan boleh jadi menggunakan jasa artikel SEO.

Sisihkan 20% fee yang didapat untuk keperluan-keperluan di bawah ini:

Kuota unlimited

Padahal, artikelnya dimuat di media online besar. Dibayar sekitar 500 ribu lah. Tapi, riset kata kunci masih numpang hotspot. Harusnya malu kan.

Tujuan membeli kuota unlimited yakni untuk googling, riset kata kunci (bagi penulis blog), dan riset konten tulisan (bagi penulis media online).

Sudah tiga tahun saya sering menyisihkan sebagian uang buat membeli kuota unlimited per bulan. Jadi kan nggak susah, ya. Sekalipun misalnya dapat bayaran dikit dari hasil corat-coret, pokoknya kebutuhan yang satu ini wajib aja kudu ada anggarannya.

Membayar jasa kepada orang yang kalian ajak kerjasama

Kalau kalian nulis sambil dibantu temen, anggap lah temen kalian tukang ngeditnya, ini berarti fee yang kalian dapat (minimal) 20% kasih ke teman kalian.

Ini yang saya lakukan di blog ini. Ketika ditotal satu bulan dapat sekian juta maka ngamplop ke tim saya (sesuai perjanjian) ya segituan lah.

Meski salah satu tim penulis Garut sering menolak dan ikhlas membantu katanya, tapi tetep lah jasa mereka kudu saya bayar. Sebab, mereka udah menghabiskan waktu juga kan buat kemajuan blog ini.


10% fee yang didapat untuk ngopi-ngopi di luar rumah

Kalau kalian penulis lepas yang hobi ngopi-ngopi di luar rumah, cukup 10% saja buat minum kopi. Sekadar nyari inspirasi dari secangkir kopi mah pas lah.

Ngeluarin uang 25K buat ngopi di kafe kelas premium mah cukup lah. Dan ini memang sering saya lakukan pas tahun 2020 lalu.

-

Jadi dapat saya ringkas bahwa sebenarnya penulis lepas nggak butuh berdalih untuk bertahan hidup dari hobi nulis, kebutuhan mereka bisa terus tercukupi, fee yang didapat dari hasil nulis di media online atau dari tawaran kerjasama masih bisa mengucap syukur kalau bisa ngatur keuangan.

Dikit-dikit, protes honor sedikit. Padahal, nanti bakalan kelihatan dan kerasa kalau udah ahli. Nanti bakal kelihatan kalau paham bahwa cari pemasukan bukan hanya ngirim tulisan ke media online saja. Tapi, luas pokoknya.

Oleh sebab itu, ada baiknya para penulis mengupgrade pemikiran. Ketika sudah pengalaman nulis di blog, mulai nulis opini untuk kemudian opini tersebut dikirim ke media online. Pun sebaliknya.

Setelah menguasai itu, belajar jadi content writer. Belajar juga jadi copywriter. Sesekali membuka jasa sebagai ghoswriter. Istilahnya, mau berkembang. Mau mencoba. Sehingga, penghasilan nambah lagi dari jalan yang berbeda.



Ridwansyah
Pendiri penulis Garut | Penggiat literasi | Follow IG/Twitter: @aaridwan16.

Artikel Selanjutnya Postingan Selanjutnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url