4+ Cara Bertahan Hidup bagi Seorang Penulis, Mau Nggak Mau Kudu Begini

Bertahan hidup bagi penulis


Istilah "bertahan hidup" kini fungsinya bukan hanya digunakan bagi seseorang yang tersesat di hutan. Tapi, istilah ini sudah populer di tongkrongan. Setidaknya, telinga saya sering mendengar celetukan, "Yah, buat bertahan hidup mah kudu gini".

Celetukan itu biasanya diucapkan oleh mereka yang belum memiliki pekerjaan, dan cara mereka mendapatkan uang yaitu melalui hobi. Jadi meski penghasilannya sedikit, dijalani aja. Makanya mereka bilang, "Yah, buat bertahan hidup mah kudu gini".

Begitu juga bagi orang yang hobi menulis yang saat ini belum memiliki pekerjaan. Alasan mereka terus menulis kadang bukan untuk menyalurkan hobi dan beropini belaka, tapi untuk bertahan hidup.

Ucapan kayak, "Hobi yang menghasilkan itu enak, yah" sebenarnya hanya omong kosong, tetap saja salah satu tujuannya buat bertahan hidup. Artinya, mereka tetap pengen hidup lebih layak. Tidak hanya menghasilkan uang dari hobi saja.

Apa itu bertahan hidup?

Istilah bekennya adalah survival. Secara leksial, survival berarti hidup. Dan yang dimaksud dengan survival adalah kemampuan seseorang untuk bisa bertahan hidup dalam keadaan yang kurang menguntungkan di sekelilingnya.

Timbulnya kebutuhan survival disebabkan karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapinya.

Saya sengaja mengaitkan kata "bertahan hidup" dengan kata "penulis" di judul tulisan ini. Sebab, ada beberapa kawan saya yang bangga menjadi seorang penulis yang kemudian menggantungkan hidupnya dari hobi menulis.

Mereka bisa jajan, merokok, ngopi, hingga jalan-jalan dari hobi menulis. Pendapatannya nggak banyak, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Tapi kalau saya perhatikan lebih seksama lagi, kehidupan mereka itu kurang layak euy. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari emang cukup, tapi kalau hanya sekadar cukup bagi diri sendiri kan agak riskan nantinya. Tetap harus ada penghasilan yang pasti, yang bisa memenuhi kebutuhan keluarga (kalau nantinya sudah berkeluarga). 

Emang bisa seorang penulis hidup dengan layak?

Mungkin bisa kalau sudah mashyur. Tapi, bagi penulis yang biasa-biasa aja?

Di Inggris, ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa satu dari sepuluh penulis bisa hidup dengan layak. Penelitian ini dilakukan oleh Queen Marry di University of London dengan mewawancarai 2500 penulis.

Di samping itu, pendapatan seorang penulis tergantung pada penjualan karyanya. Authors Licensing and Collecting Society menyatakan bahwa, pendapatan rata-rata penulis menurun sejak 2005 lalu. Bahkan, laporan dari The Bussines Being an Authors menyimpulkan bahwa sebagian penulis berpenghasilan rendah. Dan itu artinya, penulis tidak dapat bertahan hidup dengan layak.

Cara bertahan hidup bagi seorang penulis

Ternyata banyak orang yang hobi menulis, tapi bingung cara menghasilkan uang dari hobinya ini gimana. Dan banyak juga orang yang nganggur, hobi nulis, sementara hobinya itu tidak dimaksimalkan dengan baik.

Nah di bawah ini, ada empat cara bertahan hidup bagi seorang penulis. Artinya dengan melakukan empat cara ini, kebutuhan ekonomi cukup terbantu lah. Meski, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Tulisan ini nggak pure dari pemikiran saya sendiri, tapi hasil ngobrol dengan beberapa penulis. 

Kirim artikel ke media online yang membayar kontributornya

Untuk CV sih gapapa nulis di media online yang nggak membayar kontributornya. Biar profil kamu pas distalking orang lain lengkap. Pernah nulis di media ini dan itu.

Tapi kalau tujuannya untuk bertahan hidup, maka realistis lah. Kirim tulisan kamu ke media online yang membayar kontributornya.

Saya pernah membagikan artikel 5 media online yang membayar kontributornya dengan bayaran yang wah. Silakan dibaca: 5 media online yang membayar penulisnya. Kalau artikel kamu tembus di salah satu media online yang saya tulis itu, cukup lah buat bertahan hidup mah.

Membuka Jasa nulis

Sebenarnya artikel ini ditulis karena terinspirasi dari postingan "jasa penulisan artikel" yang sering muncul di beranda Facebook saya. Banyak juga ternyata orang yang hobi menulis yang membranding dirinya sebagai content writer. Mereka siap menulis artikel bahasa Indonesia dan Inggris dengan SEO yang baik.

Nah pas saya tanya salah seorang yang sering memposting jasa penulisan artikel itu, anggapan saya tidak keliru ternyata. Alasan dia terus mempromosikan jasa penulisan artikel di Facebook karena untuk bertahan hidup. Mulanya, dia kena PHK. Sehingga, membuka jasa penulisan artikel demi mendapatkan pundi-pundi rupiah.

Jasa nulis ini bisa dicontoh oleh kalian yang mampir ke blog ini.

Ngeblog

Emang ngeblog bisa menghasilkan uang? Bisa. Meski, prosesnya sangat panjang. Terutama jika mengharapkan dari Google Adsense saja. Jadi dapat uangnya nggak sepraktis kayak dua cara di atas.

Ngeblog, bagi saya, nggak jadi beban. Kalau nulis artikel buat dikirim ke media online kadang ada beban tersendiri. Sedangkan di blog sendiri mah bebas mau nulis apa juga, dengan gaya nulis ala bercerita seperti ini.

Apakah saya ngeblog untuk bertahan hidup? Berhubung, blog ini sudah banyak iklan yang masuk. Nah kalau saya bukan untuk bertahan hidup, melainkan ingin berbagi dan bercerita saja di rumah kedua saya ini. Toh kalau ada iklan masuk, itu istilahnya ada tamu yang datang dengan membawa bingkisan.

Jual kemampuan apa saja; lukis, ngedesain, jualan

Kalian pernah lihat ada orang yang hobi nulis sambil berjualan buku? Mungkin sebagian dari mereka melakukan itu untuk bertahan hidup.

Kalian pernah lihat ada orang yang hobi nulis, tapi jago ngelukis juga. Jago ngedesain juga? Atau mungkin kalian sendiri yang multitalent seperti itu? Berarti jual kemampuan, apa saja, yang kalian bisa.

Ini sudah diaplikasikan oleh beberapa penulis. Dan boleh dibilang cukup berhasil.

Hidup layak dari menulis

Sebenarnya seorang penulis bisa hidup layak dari karya-karya yang dibuatnya. Kuncinya satu; komitmen.

Komitmen misalnya dalam satu tahun harus membuat novel. Dengan catatan; bisa tembus penerbit mayor. Sebab, menerbitkan buku di penerbit indie kadang harus mengeluarkan modal dulu. Tapi, menerbitkan buku di penerbit indie juga jangan gengsi.

Komitmen misalnya dalam satu Minggu kudu membuat tulisan. Dengan catatan, bisa tembus media online besar yang juga bayarannya besar. Misal, tembus Detik dan Mojok.

Hal ini penting bagi penulis. Sebab, jika tidak berkarya dan tidak terus mengasah skill menulisnya, maka habis lah sudah. Bertahan hidupnya mungkin akan lebih berat.

Jika sudah tahu pashion-nya di bidang tulis-menulis, hal terbaik yang perlu kalian lakukan adalah lakukan saja. Berani mengikuti kata hati, bukan kata orang lain.

Untuk menjadi penulis yang bisa bertahan hidup dari ekonomi yang lemah, memang perlu melakukan latihan menulis secara terus-menerus guna meningkatkan skill menulis. Sekali lagi, komitmen merupakan kunci utama untuk hidup layak dari menulis.

***

Jadi ada empat cara bertahan hidup bagi seorang penulis, mau nggak mau kudu begini guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
1. Kirim artikel ke media online besar
2. Membuka jasa nulis artikel
3. Ngeblog
4. Menjual kemampuan apa saja yang kalian bisa



Ridwansyah
Pendiri penulis Garut | Penggiat literasi | Follow IG/Twitter: @aaridwan16.

Artikel Selanjutnya Postingan Selanjutnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url