Artikel Terbaru

Naskah Ditolak Penerbit. Gimana Cara Mengatasinya agar Bisa Terbit?

mengatasi naskah ditolak penerbit


Berdasarkan wawancara yang saya lakukan ke beberapa penulis, khususnya penulis yang ada di Garut, ada banyak sekali jawaban atau respon dari mereka ketika naskah ditolak penerbit. Sebenarnya jawaban mereka klasik lah. Kalau tidak sakit hati, berarti baik-baik saja. Kalau tidak baik-baik saja, berarti lumayan sakit hati.

Akan tetapi, bukan hanya itu yang saya tanyakan dan ingin saya bahas di sini. Adalah yang unik dari mereka yaitu cara-cara mereka dalam mengatasi penolakan dari penerbit sampai naskahnya bisa terbit. Luar biasa sih.

Kalau saya renungkan lebih dalam, memangnya mengapa kalau penerbit menolak naskah kita? Kok ya bisa sampai sakit hati. Apakah mental sebagai penulis belum terbentuk seperti postingan yang saya tulis tahun lalu? Kan masih banyak gitu penerbit lain yang kemungkinan bisa menerima naskah kita. Mengapa harus sakit hati? Tapi, ini hanya bualan perasaan saya saja. Sebab, tiap penulis kan beda-beda sifat. Santay, saya juga baperan kok kalau naskah saya ditolak penerbit.

Kalian harus tahu bahwa persiapan dalam mengirim naskah atau membuat buku itu penting. Dan kalian harus memahami bahwa ada banyak penyebab mengapa sebuah naskah ditolak penerbit. Mari saya uraikan alasan mengapa sebuah naskah ditolak penerbit. Ini sebelum saya merangkum cara mereka (penulis yang saya wawancarai) dalam mengatasi masalah penolakan ini.

Pertama, penerbit menolak naskah kita karena genre buku yang kalian kirim tidak sesuai dengan penerbitnya. Oleh sebab itu, penulis seharusnya memahami ketentuan dan syarat sebuah penerbit ketika mau mengirim naskah.

Kedua, naksah kita POV atau ceritanya kurang menarik di mata penerbit. Alias, misalnya mirip dengan novel yang pernah mereka terbitkan. Nah, cara mengatasi hal ini seharusnya penulis ngepoin dulu buku-buku yang sudah diterbitkan oleh penerbit tersebut. Betapa pentingnya kita membeli buku terbitan dari penerbit yang akan kita kirimkan naskah kita itu.

Ketiga, naskah tidak sesuai dengan standar mereka. Dan ini sudah menjadi hak mereka. Misalnya, penulisan kata banyak yang salah. Ini yang paling umum banget. Saya pikir penulis perlu belajar typing ganteng, entah di WA, sosmed, dan alat tulis atau ketik lainnya.

Mari masuk ke inti pembahasan, gimana cara mengatasi naskah ditolak penerbit? Lalu bisa terbit.

Bergabung dengan komunitas menulis agar bisa bertukar pengalaman

Saya tahu bahwa ada banyak penulis yang lebih enjoy diam di rumah. Ada banyak penulis yang ilmunya tak mau dibagi-bagi. Ada penulis yang malu buat kenalan dengan sesama penulis. Padahal, dari pengalaman saya selama berkecimpung di dunia kepenulisan, banyak teman sesama penulis itu asyik. Namanya sehobi, ngobrol pun sefrekuensi.

Nah, buat kalian yang naskahnya ditolak penerbit. Saya pikir jangan malu-malu buat bergabung dengan komunitas menulis. Tujuannya untuk belajar menulis dan bertukar pengalaman. Banyak penulis yang setelah naskahnya ditolak penerbit lalu bergabung dengan komunitas menulis, dan bertemu dengan penulis yang sudah sering ditolak, eh naskahnya langsung terbit karena diberi pengetahuan dan arahan A-Z.

Bagaimana kalau tidak ada wadah alias di kota kalian tidak ada komunitas menulis? Ah, bohong. Di satu kota pasti ada komunitas menulis. Tugas kalian tinggal mencari dan bergabung dengan mereka. Di sosmed juga banyak yang berkeliaran membuka grup WA khusus penulis. Kontak mereka, gabung.

Berani mencoba menulis dari pengalaman pribadi

Naskah apa yang ditolak oleh penerbit? Fiksi atau non fiksi? Kalau pernah ditolak dengan genre naskah tersebut, mari mulai berani mencoba menulis dari pengalaman pribadi. Biasanya lebih khusyuk kalau menulis pengalaman pribadi.

Lantas, siapa yang mau baca kalau menulis pengalaman pribadi? Cerita saya tidak menarik! Tenang, jawaban ini ada di poin selanjutnya.

Cara ketiga ini dilakukan oleh salah satru penulis yang ada di Garut yang tidak mau disebutkan namanya. Dia bercerita kalau naskahnya pernah ditolak penerbit, lalu mengirim lagi dengan isi naskahnya menulis pengalaman pribadi. Dan viola, terbit. Mungkin kalian mau mencobanya?

Minta masukan kepada penerbit yang menolakmu

Cara ketiga ini adalah cara yang saya lakukan. Jadi, pada saat itu, saya menerima email penolakan dari penerbit. Saya kemudian mencari kontak penerbitnya. Saya hubungi mereka. Dan respon mereka baik, mereka mau memberikan saran dan masukan kepada saya.

Ini seperti yang saya lakukan ketika menulis di media online. Saya selalu bertanya alasan mengapa naskah saya ditolak. Mereka kemudian memberikan masukan harus begini dan begitu. Akhirnya saya tahu celah-celahnya agar naskah saya bisa terbit.

Jadi apakah setelah naskah kalian ditolak, hilang aja gitu? Padahal, ada baiknya diskusi sedikit dengan penerbit. Diskusi dengan penulis lain kayak poin pertama. Ini sih cara mengatasi saya. Hasilnya, naskah saya terbit.

Kirim ke penerbit lain

Ada banyak cara agar naskah kita yang sudah ditolak penerbit jadi terbit, yaitu mencari peruntungan dari penerbit lain. Salah satu caranya adalah kalian harus mengenal dulu beberapa penerbit beserta sistem yang mereka pakai. Idealisme yang mereka gunakan.

Bagi seorang penulis, mengenal jenis-jenis penerbit itu penting. Sebab dengan mengenal penerbit, kita bisa jadi tahu soal royalti dari penerbit A berapa, B beapa, dan lain sebagainya. Saya kasih masukan deh. Coba baca postingan yang saya tulis tahun lalu tentang tiga jenis penerbit yang harus penulis ketahui: silakan kenali jenis-jenis penerbit.

Melakukan self-publishing

Cara terakhir ini yang bakal bikin kalian adem dan tenang. Sebab, kalau melakukan cara ini maka naskah kalian sudah pasti jadi buku. Yaitu dengan cara menerbitkan naskah sendiri dengan modal yang juga kalian keluarkan sendiri.

Tidak masalah dan jangan gengsi menerbitkan buku dari uang sendiri. Kalau kita promosinya oke, boleh jadi keuangan penulis indie lebih banyak daripada mayor. Dan ini sudah banyak yang membuktikanya.

Pengin tahu soal keuntungan menerbitkan buku dari modal sendiri? BACA JUGA: Menghitung Keuntungan di Penerbit Indie.


Ridwansyah
Pendiri penulis Garut | Penggiat literasi | Follow IG/Twitter: @aaridwan16.

Tidak ada komentar

Tolong berkomentar dengan baik dan logis. Jangan melakukan spam. Kalau bisa, berkomentar lah pakai nama, jangan anonim. Komentar kalian saya filter dulu. Jika komentar kalian sesuai selera saya, akan saya setujui. Terima kasih.