Review Buku Berdamai dengan "Belum" karya Al Faiz

Review Buku Berdamai dengan "Belum" karya Al Faiz
Siti Sunduz Oleh Siti Sunduz •

Pernah nggak, baru bangun tidur, bukannya mengawali hari dengan penuh harap dan semangat, malah merasa hidup sendiri seolah tertinggal jauh?

Lihat layar gawai ada teman yang baru diterima kerja, teman lain mengumumkan kabar pernikahan, ada juga yang sedang menikmati hasil dari perjuangan panjangnya.

Kita ikut senang, tentu saja. Tapi, entah mengapa, setelah menutup layar ponsel, muncul pertanyaan diam-diam yang mengganggu. “Aku, kapan ya?”. Padahal, kemarin rasanya masih baik-baik saja.

Kalau pernah berada di posisi itu, kamu tidak sendirian.

Kadang, yang membuat kita lelah bukan semata-mata karena hidup sedang sulit, setelah berbagai gelombang besar sudah dilalui.

Barangkali, kita memang perlu berhenti sebentar. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk bertanya lebih dalam pada diri sendiri “Sejak kapan hidup kita berubah menjadi perlombaan yang harus dimenangkan dalam tempo sesingkat-singkatnya?” Seperti redaksi kata dalam teks proklamasi saja.

Lantas, bagaimana kita bisa berdamai dengan hal-hal yang belum menemukan jawabannya? Pertanyaan inilah yang mengantar saya pada buku Berdamai dengan “Belum” karya Al Faiz, sebuah buku yang mengajak pembaca menelusuri kegelisahan, menata kembali harapan, dan menemukan ruang untuk bertumbuh di tengah ketidakpastian.

 

Baca Juga: Review Buku Dicahayai Energi Masjid-Masjid Dunia 

 

Review Buku Berdamai dengan “Belum” karya Al Faiz

 

Judul: Berdamai dengan “Belum”
Penulis: Al Faiz
Penerbit: CV Teori Kata
Cetakan: Pertama, Juli 2026
Tebal: vi + 102 halaman
Ukuran: 14 × 20 cm
QRCBN: 62-1634-9671-849

 

Ketika Kata “Belum” Menjadi Beban


Dalam pengantarnya, Al Faiz menjelaskan bahwa Berdamai dengan “Belum” lahir sebagai ikhtiar literasi untuk merespons dua persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi hari ini: kecemasan menghadapi masa depan atau quarter-life crisis, serta jebakan membandingkan diri di era digital atau comparison trap.

Kata belum sebenarnya sederhana. Ia hanya menandakan bahwa sesuatu belum terjadi atau belum tercapai. Namun, ketika berhadapan dengan ekspektasi, perbandingan sosial, dan tuntutan untuk segera berhasil, kata itu bisa terasa jauh lebih berat daripada maknanya.

Belum bekerja di tempat impian, belum memiliki pencapaian yang dibanggakan, belum menikah, atau belum menjadi versi diri yang selama ini diharapkan.

Daftar tersebut bisa berbeda pada setiap orang, tetapi perasaan yang menyertainya mungkin serupa: cemas, lelah, dan bertanya-tanya apakah diri sendiri sudah berjalan cukup jauh.

Melalui Berdamai dengan “Belum”, Al Faiz mengajak pembaca melihat kegelisahan itu dari beberapa sudut. Perjalanan yang ditawarkan tidak berhenti pada persoalan membandingkan diri dengan orang lain, tetapi juga menyentuh pencarian tujuan hidup, cara memahami keadilan Tuhan, proses memulihkan diri, hingga upaya menemukan ketenangan melalui ikhtiar dan kedekatan spiritual.

Semuanya dirangkai dalam ajakan untuk melihat masa penantian dengan cara yang lebih jernih, tanpa harus berpura-pura bahwa setiap proses selalu terasa mudah.

 

Kita Sibuk Melihat Halaman Depan Orang Lain


Salah satu kalimat yang menarik perhatian saya terdapat di halaman 6:

“Membandingkan ‘halaman belakang’ rumahmu yang berantakan dengan ‘ruang tamu’ indah orang lain adalah seni memperumit pikiran.”

Kalimat ini terasa dekat dengan kebiasaan kita di era media sosial. Kita melihat kabar baik, pencapaian, dan momen bahagia orang lain dalam potongan-potongan yang tampil di layar. Tanpa sadar, potongan itu kita jadikan ukuran untuk menilai keseluruhan hidup sendiri.

Padahal, apa yang terlihat tidak selalu menggambarkan cerita secara utuh. Kita mungkin mengetahui bahwa seseorang telah berhasil, tetapi tidak mengetahui berapa lama ia menunggu, berapa kali ia gagal, atau hal-hal apa yang harus ia lewati sebelum sampai di titik tersebut.

Di sisi lain, kita justru mengenal sisi kehidupan sendiri yang tidak selalu rapi: kekhawatiran yang disimpan, rencana yang tertunda, dan usaha yang belum membuahkan hasil. Membandingkan keduanya tentu membuat penilaian terhadap diri sendiri menjadi tidak seimbang.

Bagi saya, bagian ini mengingatkan bahwa persoalannya bukan semata-mata tentang berhenti melihat keberhasilan orang lain. Kita tetap bisa mengapresiasi pencapaian mereka tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan perjalanan sendiri. Keberhasilan orang lain tidak otomatis menjadi bukti bahwa kita gagal.

 

Harapan, Logika, dan Cara Memahami Keadilan Tuhan

Ketika seseorang merasa tertinggal, persoalannya sering kali tidak berhenti pada pencapaian yang belum diraih. Ada pertanyaan lain yang ikut muncul: mengapa orang lain bisa lebih dahulu mendapatkannya, sementara saya sudah berusaha begitu lama?

Pertanyaan seperti ini tidak selalu mudah dijawab. Terlebih ketika kita merasa sudah melakukan banyak hal, tetapi hasil yang diharapkan belum juga datang.

Dalam bagian The Hope and Logic, buku ini membawa pembaca meninjau kembali cara memahami harapan, usaha, dan keadilan Tuhan. Pembahasannya mengajak kita menyadari bahwa pengalaman hidup tidak selalu bisa diukur dengan perbandingan sederhana.

Apa yang tampak sebagai keberhasilan pada seseorang belum tentu menjelaskan keseluruhan hidupnya, sebagaimana keterlambatan memperoleh sesuatu tidak serta-merta menjadi ukuran nilai diri seseorang.

Saya melihat bagian ini sebagai ajakan untuk memberi ruang bagi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selama ini kita pendam. Bukan berarti semua kegelisahan akan langsung terjawab, melainkan ada kesempatan untuk memeriksa kembali cara kita memaknai usaha, kebaikan, dan apa yang kita anggap sebagai keadilan.

Sebab, terkadang yang perlu ditata bukan hanya harapan terhadap masa depan, tetapi juga cara kita memahami keadaan hari ini.

 

Membangun Fondasi untuk Menunggu


Menunggu sering kali terdengar sederhana ketika dibicarakan oleh orang lain. Namun, menjalaninya sendiri bisa menjadi perkara yang berbeda. Kita ingin bersabar, tetapi ada kalanya rasa khawatir datang berulang kali. Kita ingin percaya pada proses, tetapi pikiran terus meminta kepastian.

Melalui pembahasan tentang internal healing dan seni menunggu, Al Faiz membawa pembaca pada sisi yang lebih personal: bagaimana seseorang bisa tetap bertumbuh ketika sesuatu yang diharapkan belum juga terwujud?

Buku ini turut menghadirkan pendekatan spiritual Islam, termasuk ajakan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah dan doa. Bukan sebagai jalan pintas agar semua keinginan segera terkabul, melainkan sebagai ruang untuk kembali menata diri ketika pikiran terasa penuh dan keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Bagi saya, hal yang menarik dari gagasan ini adalah pengingat bahwa proses menunggu bukan berarti hidup harus berhenti. Ada hal-hal yang tetap bisa kita rawat: usaha, hubungan dengan orang-orang di sekitar, kualitas diri, dan cara memperlakukan diri sendiri.

Kita boleh berharap pada sesuatu yang belum tercapai. Namun, hidup hari ini juga tetap layak dijalani, bukan sekadar dilewati sambil menunggu masa depan datang menyelamatkan segalanya.

 

Kalau Belum, Apakah Berarti Tidak Akan Pernah?


Judul buku ini membawa kita pada satu kata yang sering kali terasa mengganggu: belum. Di satu sisi, kata itu menyisakan harapan. Di sisi lain, ketidakpastian di baliknya dapat membuat seseorang bertanya-tanya sampai kapan ia harus menunggu.

Pada bagian akhir, Al Faiz menuliskan:

“Pada akhirnya, ‘belum’ bukan berarti ‘tidak’.” (hlm. 89)

Kalimat tersebut sederhana, tetapi menyimpan ruang untuk direnungkan. Ia mengingatkan bahwa keadaan hari ini belum tentu menjadi gambaran akhir perjalanan kita. Meski demikian, menurut saya, kalimat ini juga tidak semestinya dimaknai sebagai jaminan bahwa setiap keinginan pasti terwujud persis seperti yang direncanakan.

Berdamai dengan belum bukan berarti berhenti berusaha atau mengubur harapan. Justru, kita belajar melanjutkan ikhtiar tanpa menggantungkan seluruh ketenangan pada hasil yang belum berada dalam kendali kita.

Ada perbedaan antara tetap memperjuangkan sesuatu dan memaksa diri untuk terus merasa gagal selama sesuatu itu belum tercapai. Kita boleh memiliki tujuan, menyusun rencana, dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Namun, kita juga perlu memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menikmati kehidupan yang sedang dijalani.

Mungkin, kedewasaan bukan tentang tidak lagi memiliki kegelisahan. Bisa jadi, kedewasaan justru tumbuh ketika kita mampu mengakui kegelisahan itu tanpa membiarkannya mengambil alih seluruh cara kita memandang diri sendiri.

 

Baca Juga: Review Buku Lanskap dan Cerita 

Pandangan Reviewer Terhadap Buku Berdamai dengan "Belum" karya Al Faiz 

Salah satu kekuatan buku ini terletak pada tema yang dekat dengan pengalaman banyak orang, khususnya mereka yang sedang menghadapi masa transisi, mempertanyakan arah hidup, atau merasa tertinggal dibandingkan orang-orang di sekitarnya.

Gaya penyampaiannya relatif mudah diikuti sehingga pembaca dapat memasuki pembahasan tanpa harus terlebih dahulu akrab dengan istilah psikologi atau spiritualitas.

Perpaduan refleksi kehidupan sehari-hari dan perspektif spiritual Islam juga memberi warna tersendiri. Buku ini tidak hanya mengajak pembaca memahami kegelisahan, tetapi turut mengarahkan perhatian pada ikhtiar memperbaiki diri dan hubungan dengan Allah.

Meski demikian, ada beberapa bagian yang menurut saya masih dapat dikembangkan. Penjelasan mengenai konsep psikologis maupun spiritual tertentu akan semakin kuat apabila disertai rujukan yang lebih jelas dan konsisten. Dengan begitu, pembaca dapat membedakan refleksi personal penulis dari konsep yang memiliki landasan keilmuan tertentu.

Catatan tersebut tidak menghilangkan nilai reflektif yang ditawarkan buku ini. Sebaliknya, hal itu dapat menjadi ruang pengembangan agar pembahasan yang sudah relevan dengan kehidupan pembaca memiliki pijakan yang semakin kuat.

Pada akhirnya, saya melihat Berdamai dengan “Belum” sebagai teman refleksi bagi siapa pun yang sedang berusaha memahami masa penantiannya sendiri.

Buku ini tidak harus dibaca sebagai kumpulan jawaban pasti atas semua pertanyaan kehidupan, melainkan sebagai undangan untuk berhenti sejenak, meninjau kembali cara kita memandang diri sendiri, lalu melanjutkan perjalanan dengan lebih sadar.

Bagi para pembaca yang ingin mengikuti penulis lebih dekat, bisa mengunjungi akun sosial media Instagram @fadhol_faiz.

Wawancara dengan Al Faiz

Reviewer: Selamat, atas karya pertamanya, Al Faiz. Buku ini menjadi Penawar dahaga dari keresahan sikologis dan spiritual di era arus informasi saat ini. Seperti biasa, kami ingin menanyakan beberapa hal Istimewa di wawancara review ini.

 

Buku ini menghubungkan persoalan membandingkan diri, tujuan hidup, pemulihan diri, dan kepercayaan kepada Allah. Bagaimana Al Faiz merangkai tema-tema tersebut menjadi satu perjalanan refleksi?

 

Penulis: Tema-tema tersebut diambil dari beberapa pengalaman hidup saya dan keresahan dari teman sejawat yang akhirnya mendorong saya untuk menulis itu menjadi sebuah buku. Buku ini juga sebagai pembuktian bagi saya bahwa kita juga berhak menentukan arah hidup kita sendiri dengan segala konsekuensinya.

 

Reviewer: Berapa lama proses pembuatan buku Berdamai dengan “Belum” yang lahir dari perenungan jujur setelah sujud malam?

 

Penulis: Konsep buku ini sebenarnya adalah kumpulan dari tulisan-tulisan lama saya yang sudah saya tulis sejak beberapa tahun lalu sampai akhirnya pada bulan Mei saya memutuskan untuk membukukannya dan akhirnya terbit pada bulan juli 2026, jadi proses pembukuannya kurang lebih 3 bulan.


Reviewer: Dari seluruh bagian buku, bagian mana yang paling personal bagi Al Faiz atau paling sulit untuk dituliskan? Mengapa?

 

Penulis: Mungkin bukan yang paling sulit ya, tapi paling “deep” menurut saya adalah pada bab 2. Bab itu adalah fase paling putus asa bagi saya, terutama pada sub bab “titik nadir, apakah tuhan itu ada?”

 

Fase dimana saya pernah merasa tak punya harapan pada doa-doa saya yang akhirnya membuat saya sempat memutuskan berhenti berdoa karena saat itu saya merasa tuhan selalu mematahkan harapan yang selalu saya langitkan, sampai pada akhirnya beberapa cerita dari teman sejawat menyadarkan saya bahwa masalah saya ternyata terlalu kecil dibandingkan dengan apa yang mereka rasakan dari situ saya sadar bahwa Tuhan memang sangat luar biasa dalam merangkai skenario hidup saya.

 

Reviewer: Di balik proses berdamai dengan berbagai hal yang belum terwujud, terkadang ada sosok yang seolah dikirim Tuhan agar kita bisa menafsirkan segala maksud sekenario kehidupan yang berjalan. 

 

Apakah ada seseorang yang turut menguatkan Al Faiz hingga akhirnya mampu menemukan hikmah dari apa yang dijalani? Jika berkenan berbagi, bagaimana kehadiran sosok tersebut membantu Al Faiz memandang kehidupan dan memahami arti “belum” dengan cara yang berbeda?

 

Penulis:  Sosok pertama yang membuat saya selalu merasa punya tempat bercerita adalah ibu saya. Beliau adalah orang yang sangat luar biasa dan selalu menjadi penengah pada setiap masalah yang saya hadapi. 

 

Selanjutnya adalah teman-teman saya. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah saya lupakan, meski kadang terjadi sedikit gesekan diantara kami, tapi merekalah selalu mensupport saya saat dititik terendah. Dan buku ini juga ditulis sebagai pembuktian saya pada seseorang yang tak bisa saya sebutkan, sekaligus menjadi ambisi lama saya yang akhirnya terwujud.

 

Dari pengalaman mereka jugalah buku ini akhirnya berhasil ditulis, meski tak sempurna dan mungkin tak terlalu bagus tulisannya tapi saya harap buku ini dapat bermanfaat.

 

BACA JUGA: Review Buku Antidespressant 

Ridwansyah
Siti Sunduz

Aku percaya, bahwa setiap kata punya makna dan setiap perjalanan punya pelajaran. 📚✨ | 🌱 Learning, Growing, Inspiring.

Artikel Selanjutnya Postingan Selanjutnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url