Review Novel Villain Dies Karya Hannieyoon

Review Novel Villain Dies Karya Hannieyoon
Lupy Agustina Oleh Lupy Agustina •
Seandainya kita diberi kesempatan untuk memilih kehidupan yang ingin dijalani, akankah kita mengubah hidup yang sekarang? Frasa in another life bukan lagi sekadar khayalan ketika takdir memberi kita kesempatan untuk memulai hidup di dunia yang berbeda. Namun, bagaimana jika kehidupan baru itu ternyata menyimpan penderitaan yang tak kalah menyakitkan?

Villain Dies adalah sebuah kisah tentang kesempatan kedua, tentang angan-angan manusia untuk menjalani kehidupan yang berbeda dari kenyataan yang selama ini dihadapinya. Clara Laudya, sang tokoh utama, mendapatkan kesempatan untuk memiliki hidup yang jauh berbeda dari kehidupannya saat ini.

Bukan hanya berbeda kondisi, melainkan juga berbeda dunia. Awalnya, hal tersebut terdengar seperti sebuah kemustahilan. Namun, di sanalah Clara terbangun sebagai seorang putri bangsawan.

Takdir semacam itu rasanya menjadi impian hampir semua orang. Siapa yang tidak ingin memperoleh kesempatan untuk memulai kembali, terlebih ketika kehidupan yang dijalani terasa begitu menyakitkan? Cerita Clara menyediakan ruang bagi pembaca untuk ikut membayangkan kemungkinan tersebut.

Namun, kehidupan baru tidak selalu berarti kebahagiaan baru. Setiap keputusan memiliki konsekuensi, begitu pula dengan takdir yang dihadapi Clara.

Apa yang akan dihadapi Clara saat menjalani kehidupan di dunia baru tersebut? Bisakah ia menemukan kebahagiaan yang selama ini dicarinya? Hal yang tidak kalah penting, apakah ia benar-benar bisa mengubah takdirnya sendiri?

Mari kita telusuri dinamika kehidupan Clara dalam novel karya Hannieyoon.

Baca Juga: Review Buku Berdamai dengan "Belum"

Review Novel Villain Dies Karya Hannieyoon

Identitas Buku

Judul Buku: Villain Dies
Penulis: Hannieyoon/Septiana Wahyuningsih
Penerbit: Teori Kata
Tahun Terbit: Oktober 2026
QRBCN: 62-1634-6360-597


Villain Dies merupakan novel debut karya Hannieyoon yang memadukan kisah romansa dengan unsur alternative universe.

Dengan tebal 416 halaman, novel ini menyajikan dua kehidupan yang bertolak belakang melalui sosok Clara Laudya atau Lady Evelina. Di dunia nyata, Clara adalah seorang karyawan bergaji imut (karjimut) yang menghabiskan masa mudanya untuk bekerja. Sementara itu, di dunia lain, ia menjalani kehidupan sebagai seorang gadis bangsawan yang terikat dengan berbagai konflik keluarga dan kerajaan. 

Dua kehidupan tersebut bukan hanya menawarkan perbedaan status sosial, tetapi juga membawa Clara pada pengalaman yang akan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Tokoh Utama dalam Cerita

Clara Laudya atau Lady Evelina

Di dunia nyata, Clara adalah seorang karyawan bergaji imut (karjimut) yang melakoni berbagai pekerjaan serabutan alias palugada: menjadi karyawan kafe pada siang hari, serta guru les privat dan kasir minimarket di waktu lain.

Setelah kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan mobil, Clara sempat tinggal bersama pamannya. Karena hanya dimanfaatkan, ia akhirnya memilih hidup sebatang kara.

Kehidupan yang keras membuat Clara terbiasa berjuang sendiri. Ia tidak memiliki banyak pilihan selain bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun, kehidupannya berubah ketika ia terbangun dalam tubuh Lady Evelina, seorang bangsawan yang memiliki nasib tragis dalam cerita yang pernah dibacanya. 

Pangeran Cedric


Pangeran Cedric merupakan putra kedua Kaisar Cassius Castellion yang menikah dengan Lady Evelina.

Sayangnya, Cedric tidak memperlakukan Evelina sebagaimana mestinya karena jauh di lubuk hati, ia mencintai Isabella, teman masa kecilnya.

Cedric berperawakan tegap dan mudah tersulut emosi. Sikapnya kepada Evelina sangat ketus dan dingin, berbanding terbalik dengan perlakuannya yang lembut dan penuh perhatian kepada Isabella.

Kehadiran Cedric menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan baru Clara, terutama ketika hubungan keduanya perlahan mengalami perubahan.

Isabella

Isabella merupakan perempuan anggun nan cantik yang menjadi tokoh utama dalam cerita yang dibaca Clara.

Ayahnya, sahabat karib Kaisar, gugur dalam pertempuran demi menyelamatkan sang Kaisar. Sejak saat itu, Isabella dan ibunya diminta tinggal di istana sebagai bentuk penghormatan.

Isabella telah bertunangan dengan Pangeran Aaron, sang Putra Mahkota, yang menjadikannya calon kakak ipar Pangeran Cedric.

Ia berkepribadian lembut dan baik hati. Bahkan, ketika orang lain memandang Evelina sebagai sosok yang jahat, Isabella tetap berusaha memperlakukannya dengan baik.

Elise


Elise merupakan pelayan pribadi Lady Evelina yang sangat setia.

Ia selalu menemani Evelina di istana dan tetap percaya kepadanya, bahkan ketika Evelina difitnah mencelakakan Isabella. 

Elise menjadi orang pertama yang menyadari perubahan sikap Lady Evelina, dari sosok yang ketus dan jahat menjadi lebih ceria serta menyenangkan.

Kesetiaannya menjadikan Elise salah satu sosok penting dalam kehidupan baru Clara.

Tokoh Pendukung Cerita

Selain keempat tokoh utama tersebut, terdapat beberapa tokoh pendukung yang turut mewarnai kehidupan Clara di Kerajaan Baratheos.

Pangeran Aaron
merupakan putra pertama Kaisar sekaligus Putra Mahkota dan tunangan Isabella. Ia memiliki kepribadian yang tenang, tidak mudah tersulut emosi, serta dikenal sebagai petarung yang andal.


Elara
adalah putri satu-satunya Kaisar sekaligus anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia berkepribadian ceria dan hangat. Selain dekat dengan Isabella, perlahan ia juga mulai akrab dengan Evelina.


Kaisar Cassius Castellion
merupakan pemimpin Kerajaan Baratheos yang dikenal atas penaklukan wilayahnya. Ia dikenal sebagai pemimpin yang baik dalam menjalankan pemerintahan, meskipun usianya kini semakin senja.


Permaisuri Seraphine
merupakan istri Kaisar yang berkepribadian lembut. Ia sangat menyayangi anak-anaknya serta memperlakukan Isabella dan Evelina dengan penuh kasih.


Keith
merupakan kepala pengawal kerajaan sekaligus putra dari salah seorang selir Kaisar.


Sementara itu, Eddard Beatrice, kakak laki-laki Evelina, digambarkan sebagai sosok yang licik dan menjadi anak kesayangan dalam keluarga Beatrice.


Tokoh-tokoh tersebut memiliki peran masing-masing dalam membangun konflik, baik yang berkaitan dengan hubungan keluarga, kehidupan istana, maupun perebutan kekuasaan.

Takdir yang Berubah

Siapa yang mengira jika sebuah buku bisa membolak-balikkan nasib seseorang?

Di kosannya yang sempit, sepulang bekerja, Clara teringat sebuah buku yang diberikan oleh sahabatnya, Mia. Untuk menghilangkan rasa kesal dan sedih akibat kejadian di restoran tempatnya bekerja, Clara iseng membaca buku tersebut.

Namun, siapa sangka, setelah tertidur, ia justru terbangun di kamar seorang bangsawan bernama Lady Evelina. Lebih mengejutkan lagi, sosok yang kini ia tempati adalah dirinya sendiri.

Mengetahui akhir tragis Lady Evelina dalam cerita tersebut, Clara berusaha mencari cara untuk kabur dan bertahan hidup. Sayangnya, ia tetap harus menjalani takdir untuk menikahi Pangeran Cedric.

Clara dan Lady Evelina memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Jika Evelina dikenal sebagai sosok yang jahat, Clara justru berusaha menjalani kehidupan barunya tanpa mengulangi kesalahan yang dilakukan Evelina dalam cerita asli.

Perubahan sikap tersebut perlahan mengubah jalan cerita. Namun, apakah mengubah perilaku tokoh utama berarti Clara bisa sepenuhnya mengubah takdirnya?

Seseorang di Dalam Istana

Kehidupan Evelina di dalam istana begitu dinamis. Ia harus beradaptasi dengan suaminya yang dingin sekaligus menghadapi kecurigaan orang-orang akibat rekam jejak buruk keluarga Beatrice.

Dalam cerita aslinya, Evelina memang dikenal sebagai seorang pengkhianat. Namun, Clara menolak menjalani peran tersebut. Ia tidak ingin melakukan pengkhianatan yang kelak akan membawanya pada akhir tragis.

Sayangnya, mengubah jalan cerita ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Ketika Clara berusaha menghindari takdir Evelina, konflik justru menemukan jalannya sendiri. Peran pengkhianat diambil alih oleh sosok lain yang tidak pernah ia duga, seseorang yang sisi gelapnya bahkan tidak terungkap dalam buku yang dibacanya.

Di sinilah Clara mulai menghadapi persoalan yang lebih rumit. Ia tidak lagi sekadar berusaha menghindari akhir tragis seorang tokoh, tetapi juga harus mencari tahu siapa yang sebenarnya mengancam kehidupan di istana.

Obat Penawar dan Nasib Kerajaan

Kekuasaan yang besar menimbulkan rasa iri yang tak kalah besarnya.

Sebaik apa pun Kaisar menjalankan pemerintahan, selalu ada pihak yang ingin merebut takhtanya. Kondisi kesehatan Kaisar yang kian memburuk akibat racun memicu kekhawatiran di seluruh negeri, sekaligus memberikan kesempatan bagi aliansi penentang untuk mulai bergerak.

Racun tersebut hanya bisa disembuhkan dengan Duri Suci, tanaman langka yang tumbuh di wilayah paling timur kerajaan.

Karena Putra Mahkota sedang bertugas di perbatasan, Cedric mengambil alih tugas untuk mencari obat penawar tersebut. Clara pun memutuskan ikut serta demi mendampinginya.

Perjalanan ini menjadi bagian penting dalam kehidupan baru Clara. Di tengah ancaman yang semakin besar, ia tidak lagi hanya memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan diri. Ada kehidupan lain yang turut dipertaruhkan, termasuk kehidupan orang-orang yang perlahan menjadi penting baginya.

Keberhasilan misi tersebut pun menjadi salah satu penentu nasib istana.

Sebuah Pilihan

Tak ada seorang pun yang ingin hidup sebatang kara.

Bagi Clara, menjalani peran sebagai Lady Evelina memberinya harapan baru. Kehadiran Cedric, Elise, Elara, dan Permaisuri Seraphine membuatnya kembali merasakan hangatnya sebuah keluarga yang selama ini hilang dari hidupnya.

Cedric, yang pada awalnya bersikap dingin, perlahan menjadi seseorang yang bisa ia jadikan tempat bersandar.

Namun, kehangatan tersebut tidak serta-merta membuat kehidupan Clara menjadi mudah. Ia tetap harus menghadapi ancaman konflik yang semakin memuncak sekaligus menentukan bagaimana ia akan menjalani takdirnya.

Akankah Clara mampu memperjuangkan kebahagiaan barunya dan menyelesaikan kisahnya di Kerajaan Baratheos?

Lalu, siapakah the real villain yang sebenarnya bersembunyi di balik kekacauan ini?

Kamu harus membacanya sendiri hingga titik terakhir!

Pandangan Reviewer terhadap Novel Villain Dies Karya Hannieyoon

Betapa kejamnya penulis kepada tokoh utama kita!

Dunia seolah tak berpihak kepada Clara. Ia kehilangan kedua orang tuanya, dimanfaatkan oleh pamannya sendiri, dan harus bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan hidup.

Saya sungguh penasaran, apa alasan penulis memberikan jalan hidup yang amat tragis bagi Clara? Apakah untuk memancing simpati pembaca? Jika ya, saya rasa itu berhasil. Saat membaca kesedihannya, saya sempat berdoa, "Semoga seseorang menyelamatkannya dari dunia yang sepi dan menyakitkan itu."

Namun, setelah membaca kembali penderitaan yang dialami Clara, saya berpikir ulang. Penderitaan itu justru mengantarkan kita pada sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana seseorang memaknai hidup saat tak banyak pilihan yang tersedia di hadapannya?

Kita sering membayangkan bahwa kehidupan yang lebih baik akan membuat kita lebih bahagia. Pandangan itu tak sepenuhnya salah. Di sisi lain, yang perlu kita ingat adalah setiap kehidupan, selalu membawa ‘penderitaannya’ sendiri.

Saat Clara hanya memiliki penderitaan dalam hidupnya, kesempatan akan kehidupan baru yang lebih baik itu datang kepadanya. Namun, kehidupan baru itu tak serta merta membebaskan Clara dari penderitaan. Ia masih harus menghadapi persoalan lain yang tak kalah pelik.

Di tahap ini, kalau saja Clara tak pernah dihadapkan pada pilihan-pilihan yang terbatas dalam hidupnya, ia tak akan bisa memandang kehidupan Lady Evelina dengan bijaksana.

Kedalaman konflik batin tokoh ini membuat kisah Clara bukan hanya sebagai kisah fantasi perpindahan dua universe melainkan juga tentang pergulatan batin yang barangkali dialami oleh sebagian besar pembaca. Kita barangkali sering terjebak dalam keresahan antara harapan dan kenyataan, antara keinginan untuk mengubah keadaan dan kesadaran bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Kisah Clara tidak selesai saat saya menutup buku. Akhir ceritanya menyisakan kegamangan yang cukup lama saya pikirkan. Boleh dikatakan, saya setuju dengan keputusan yang diambil Clara. Namun, di sisi lain, saya merasa keputusan itu tak bisa sepenuhnya dikatakan benar.

Barangkali, memang demikianlah kehidupan. Ia tak sesederhana soal pilihan ganda yang hanya menyediakan satu jawaban benar. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum kita bisa menilai sebuah keputusan. Sesuatu yang tampak benar dari satu sudut pandang belum tentu sepenuhnya benar ketika dilihat dari sudut pandang lain. Begitu pula sebaliknya.

Pada akhirnya, mungkin bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan tentang bagaimana kita memahami alasan di balik sebuah pilihan, termasuk konsekuensi yang menyertainya.

Siapa pun di luar sana yang tengah merasa hidup sedang tak berpihak kepadamu, berkenalanlah dengan Clara atau Lady Evelina. Mereka mungkin tak punya semua jawaban atas pertanyaan atau kegelisahanmu. Namun, setidaknya, melalui kisah mereka, kamu akan tahu bahwa kesempatan untuk memulai kembali bukanlah sesuatu yang mustahil selama kita tak berhenti menyalakan harapan.

Penulis novel Villain Dies dapat disapa lewat laman Instagram: @h.annieyoon.

Baca Juga: Review Buku Antidepressant

Wawancara dengan Penulis

Reviewer: Kak Hannie memiliki latar belakang sebagai backend developer dan bekerja di bidang IT, tetapi juga menekuni dunia kepenulisan, khususnya novel fantasi. Boleh diceritakan bagaimana awal mula ketertarikan Kakak pada dunia menulis hingga akhirnya memutuskan untuk menulis novel bergenre fantasi.


Kak Hannie: Sebenarnya sebelum terjun ke dunia IT, aku udah suka baca buku dari sekolah menengah, namun keputusan akhir mencoba menulis itu di baru di dua tahun terakhir. Dan genre yang aku pilih sebenarnya menyesuaikan sama genre yang paling aku suka. Aku suka banget baca novel dan nonton film fantasi, seperti lord of the rings, harry potter dll. Karya-karya itu yang jadi sumber terbesar inspirasi dan motivasi aku untuk buat cerita fantasi sendiri.

 

Reviewer: Villain Dies menjadi novel pertama Kakak yang diterbitkan. Bisa diceritakan bagaimana naskah ini pertama kali lahir? Apa yang mendorong Kakak untuk menulis cerita ini, dan bagaimana prosesnya hingga akhirnya memutuskan untuk menerbitkannya sebagai buku?


Awalnya, aku nulis cerita ini hanya untuk menyalurkan hobi sama imajinasiku yang suka kemana-mana hehe. Aku sama sekali nggak nyangka ketika aku publish ke wattpad ternyata cukup banyak pembaca yang tertarik sama cerita ini, beberapa penerbit juga mulai tertarik untuk menerbitkan Villain Dies ini.


Jujur, awalnya aku belum terlalu yakin untuk terbitin cerita ini jadi buku, karena itu cerita ini sempat aku marinasi selama satu tahun, sebelum akhirnya dengan banyak pertimbangan aku memutuskan untuk menerbitkan Villain Dies menjadi buku cetak. Buat aku, ini menjadi langkah baru sekaligus pengalaman yang berarti buat perjalanan menulisku.

 

Reviewer: Clara digambarkan mengalami banyak penderitaan, mulai dari kehilangan kedua orang tua, dimanfaatkan oleh pamannya sendiri, hingga harus bekerja keras demi bertahan hidup. Apa yang melatarbelakangi keputusan Kakak membangun kehidupan Clara sedemikian berat? Apakah ada pesan tertentu yang ingin Kakak sampaikan melalui pengalaman hidupnya?

 

Kak Hannie:  Jujur, aku sendiri juga sedih saat nulis backstory Clara. Tapi pengalaman pahit dan berbagai penderitaan yang Clara lalui ini jadi salah satu alasan terbesar di balik tekadnya yang kuat buat bertahan hidup di dunia barunya. 

Melalui pengalaman hidup Clara, aku ingin pembaca memahami bahwa setiap keputusan yang Clara ambil punya latar belakang sendiri. Aku juga berharap pembaca bisa lebih memahami Clara, melihat alasan di balik tindakannya, dan ikut merasakan perjuangannya.

 

Reviewer: Dari mana ide awal menggabungkan sosok gadis pekerja serabutan di dunia nyata dengan karakter putri bangsawan yang antagonis?

 

Kak Hannie: Ide awalnya, aku ingin menciptakan kontras antara Evelina sebagai karakter antagonis di dunia cerita dan Clara yang berasal dari dunia modern. Keduanya punya latar belakang dan kehidupan yang berbeda. Aku membayangkan gimana seseorang dari dunia modern, dengan kehidupan yang sederhana, harus menghadapi kehidupan baru dan beradaptasi sebagai seorang bangsawan.

 

Reviewer: Lewat perjalanan Clara yang berusaha mengubah takdirnya, pesan apa yang sebenarnya ingin Penulis sampaikan kepada pembaca tentang konsep 'kesempatan kedua' dalam hidup?

 

Kak Hannie: Dari awal cerita, nasib Evelina sebenarnya sudah tertulis jelas sampai akhir. Clara pun sebagai karakter utama punya pemikiran yang sama kalau takdir adalah sesuatu yang nggak bisa diubah. Tapi seiring berjalannya waktu, Clara berusaha melawan keyakinan tersebut dan mengubah takdirnya.

Melalui konsep kesempatan kedua ini, aku ingin menyampaikan kepada pembaca, kalau kita tidak harus menyerah pada suatu keadaan. Selama masih ada kesempatan, jangan takut untuk mengambil langkah, selalu ada kesempatan kedua bagi orang-orang yang punya tekad yang kuat.

BACA JUGA: Review Buku Lanskap dan Cerita

Lupy Agustina
Lupy Agustina

Tidak akan mati semudah itu—setidaknya setelah dua, tiga, atau seratus pertempuran lagi. Ingin lucu dan kurus.

Postingan Selanjutnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url