+4 Cara Saya Mengatasi Insecure dalam Menulis

Cara Saya Mengatasi Insecure dalam Menulis

Meskipun sudah malang melintang di dunia kepenulisan, tetap saja bagi sebagian orang, rasa tidak percaya diri itu selalu ada. Nggak masalah sebenarnya. Bahkan, wajar. 

Yang tidak wajar itu ketika rasa tidak percaya dirinya berlebihan. Rasa takutnya dibiarkan merayap masuk. Sehingga, enggan atau berhenti berkarya.

Maka dari itu, bagi penulis pemula yang ingin tahu cara mengatasi insecure dalam menulis, postingan ini terbilang penting.

Jujur, saya pun kerap merasakan insecure ketika menulis. Bahkan, ketika tulisan sudah jadi, rasa insecure mah tetap ada. Ini biasanya disebabkan karena, menilik penulis lain yang tulisannya lebih bagus daripada tulisan saya.

Akan tetapi, kini, saya mulai menghindari hal seperti itu. Sebab, dari gaya menulis novel ala saya dengan gaya menulis orang lain, ada perbedaan. Dan kalau ditelisik lebih dalam, punya market atau punya pembaca masing-masing.

Seperti menulis di blog ini misalnya, mulai dari lima bulanan lalu lah, saya sudah tidak memikirkan bagus dan enggaknya. Yang penting posting aja. Yang penting ide tulisan saya berhasil dieksekusi dengan baik. Biarkan saja orang (pembaca) yang menilainya. Sesederhana itu sebenarnya.

Lantas, solusinya bagaimana untuk menghindari rasa insecure dalam menulis? Berikut akan saya jelaskan sedikit dan semampu saya.

Cara mengatasi insecure dalam menulis

1. Mengingat pencapaian-pencapaian yang sudah dilakukan

Pencapaian seperti apa? Ini pertanyaannya.

Adalah pencapaian di mana saya sudah berhasil menulis dua novel dengan genre keluarga, dan setidaknya disukai oleh beberapa pembaca.

Mengingat pencapaian di mana saya sudah dapat menghasilkan uang melalui hobi menulis ini.

Mengingat pencapaian di mana dengan menulis, saya merasakan kebahagiaan yang tidak dapat saya temukan di hobi lain (hobi yang sudah saya coba sebelumnya).

Begitupun untuk seorang penulis pemula. Pencapaian sederhananya ada, yakni sudah berani memulai menulis. Di mana banyak orang yang ingin belajar menulis, tapi praktiknya nihil. Di mana banyak orang yang suka meluruskan mana kata baku dan tidak baku, tapi dirinya enggan menulis.

Sesederhana itu. Semoga kalian dapat memahaminya.

2. Jangan selalu membandingkan diri dengan penulis lain

Sesekali boleh, tujuannya untuk bahan evaluasi. Atau tujuannya untuk mencontoh ide penulis lain atau gaya penulis lain. Namun, kesalahan penulis pemula adalah mereka doyan banget membandingkinkan tulisan dirinya dengan penulis lain. Sehingga, jelas, timbul lah rasa tidak percaya diri.

Saya selalu menekankan kepada orang-orang terdekat yang suka menulis, bahwa imbangi membaca dengan menulis. Minimal sehari menulis satu lembar saja. Sedangkan membaca, perbanyak lah.

Namun, ketika kalian membaca novel atau membaca artikel, jangan coba-coba terlalu ekspektasi ingin seperti penulis lain, sementara kerja keras kalian dalam menulis sedikit.

Orang yang sudah lihay menulis dan sukses di dunia penulisan, effort-nya sudah besar. Nah, yang perlu dicontoh atau ditiru itu adalah kerja kerasnya. Bukan tulisannya.

Kalian pernah bahwa setiap penulis memiliki keunikan atau gaya penulisan masing-masing? Jika pernah, itu benar kenyataannya.


3. Tetap menjadi diri sendiri saat menulis, sukses karena kerja keras sendiri

Sampai detik ini, saya tidak tahu gaya penulisan artikel atau gaya menulis novel ala saya ini seperti siapa. Saya jika ditanya seperti itu, pasti bingung. Sebab, dari dulu, saya menulis begini adanya.

Dalam artian, prinsip saya ketika menulis adalah ingin mudah dimengerti pembaca. Saya tidak peduli dengan diksi, kosakata, dan lain sebagainya.

Kalimat itu saya sampaikan, khususnya ketika menulis artikel buat diposting blog. Beda lagi mungkin ketika membuat novel, mungkin ada lah sedikit diksi-diksi untuk memancing pihak penerbit.

Jadi, kalau nggak mau ada tekanan dari dunia menulis, jadilah diri sendiri. Berkembang melalui kerja keras sendiri.

Mau niru Raditya Dika? Boy Candra? Nggak bakalan bisa. Yang bisa itu paling dalam hal bikin bukunya aja, sedangkan ide, gaya, dan larisnya sebuah buku, terlampau jauh untuk disepadankan.

Paham?

4. Mau berkembang terus

Karir seorang penulis mungkin akan stuck di situ-situ aja ketika dirinya tidak mau belajar. Tidak mau membaca karya penulis lain. Tidak mau mencoba sesuatu yang baru. Tidak mau mempelajari bahwa, hobi menulis itu dalem banget atau melebar sekali sub-genrenya.

Maksud saya, orang yang hobi menulis itu beragam banget jenis profesinya. Ada yang totalitas menjadi seorang novelis, esais, ghostwriter, dan masih banyak lagi.

Selain memahami lebih dalam hobi ini, juga mulai atau seringlah berdiskusi dengan penulis-penulis yang latar belakang karirnya berbeda dengan kita.

Dengan seorang copywriting misalnya, penulis blog misalnya yang kerap membahas SEO, tautan balik, dan lain-lain. Kalau sudah sejauh itu, peluang untuk mendapatkan penghasilan dari dunia menulis, pasti terbuka lebar.

Barangkali itu saja artikel cara mengatasi insecure dalam menulis. Dan sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa, hampir semua penulis dengan latar belakang atau dengan keahlian menulis apapun, pasti ada rasa insecure-nya.

Hanya saja, mereka terus berjalan, fokus, dan konsisten. Sehingga, teratasi lah insecure-nya.

Sekian.

Postingan Selanjutnya Artikel sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url