Apakah Follower Penting dalam Menerbitkan Buku?

Apakah Follower Penting dalam Menerbitkan Buku


Pertanyaan apakah follower penting dalam menerbitkan buku, bagi saya, adalah pertanyaan menarik. Sebab, ada seorang penulis novel (rekan saya) yang mengeluhkan terkait hal ini.

Ia mengeluhkan soal betapa sulit naskahnya diterima sama penerbit mayor. Dan dulu (dirinya) pernah punya pengalaman aneh. Ia ditanya oleh sebuah penerbit tentang seberapa banyak followenya di Instagram.

Ia mengerutkan dahi. Lalu bertanya-tanya, apa iya salah satu syarat agar naskah diterima penerbit mayor itu harus punya banyak follower dulu?

Berarti kalau syaratnya demikian, bagi penulis-penulis yang followenya sedikit, sulit dong diterima sama penerbit mayor. Ungkapnya.

Ia berdiskusi dengan saya pada saat itu. Praktis, saya tidak bisa menjawab pertanyaannya dan tidak bisa juga merespon keluhannya itu.

Sebab, saya belum pernah punya pengalaman seperti dirinya. Dan saya pun tidak pernah bekerja juga di dunia penerbitan. Barangkali orang-orang yang bekerja di dunia penerbitan (editor misalnya) tahu akan hal ini.

Beruntungnya, saat saya searching seharian di Twitter, saya kemudian mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut dalam thread-nya Andry Setiawan. Beliau seorang editor dan bagian dari penerbit Haru (di bionya tertulis seperti itu).


Dan, beginilah jawabannya:

Apakah follower penting dalam menerbitkan buku?

Pertama perlu diingat bahwa penerbit juga sebuah bisnis. Meski penerbit mengemban visi besar mencerdaskan anak bangsa, ia bukan organisasi nirlaba yang bisa bekerja tanpa keuntungan, karena ada banyak orang yang harus dinafkahi, ada usaha yang harus terus dikembangkan.

Kedua, dunia selalu berubah, dan kita harus beradaptasi. Sepanjang pengetahuanku yang dangkal soal dunia penerbitan ini, dunia penerbitan sudah bergeser jauh. Dulu, penulis berlomba-lomba mencari penerbit.

Penulis mengirimkan naskahnya untuk diseleksi, kemudian penerbit akan memilih naskah terbaik untuk diterbitkan. Sekarang, arena main penulis tidak hanya di meja redaksi.

Arena penulis sudah meluas sampai ke berbagai platform media sosial, mulai dari Instagram, Wattpad, blog, bahkan YouTube. Kolamnya penerbit mencari naskah tidak terbatas pada naskah yang masuk ke meja redaksi saja.

Penulis yang tidak bisa beradaptasi dengan ini, tentu saja akan tertinggal. Teman, memandang masa lalu, kemudian mengeluhkan dan menyayangkan keadaan saat ini tidak akan membantumu mendapatkan apa yang kau mau.

Salah satu penulis yang aku kagum karena berhasil beradaptasi adalah Alvi Syahrin. Aku memang tidak mengikuti karyanya, tetapi aku tahu ia dulu seorang penulis novel remaja yang marak pada tahun 2000an. Waktu berjalan, lalu penerbitan pun berubah.

Saat Alvi sadar pergeseran ini, ia memberdayakan sosial medianya, mengalihkan karyanya ke dalam bentuk lain hingga ia mendapatkan ratusan ribu pengikut. Kalau kalian sadar, karyanya masih diterbitkan meski dalam konsep yang berbeda. Menurutku ia berhasil beradaptasi.


Apakah Follower Penting dalam Menerbitkan Buku


Ketiga, mungkin ini sudah basi, sama seperti pilihan fesyen, setiap pembaca memiliki pilihan bacaannya sendiri. Kalau dibalik ke kacamata penerbit, setiap buku punya pasarnya masing-masing.

Namun, sayangnya, buku tidak bisa menemukan pasarnya sendiri. Jika ia dilepas ke lautan pembaca tanpa ada yang merawat, ia akan mati. Seorang panutanku pernah bilang bahwa buku itu seperti makhluk hidup, ia bagaikan bayi yang harus dirawat baik-baik supaya tumbuh sampai akhirnya bisa menemukan pembacanya sendiri.

Saat karya itu akhirnya dewasa, barulah ia bisa bertahan di lautan, disenangi oleh berbagai pembaca, dibicarakan di sana-sini, menemukan lagi pembaca baru, dan demikian seterusnya.

Bisa saja penerbit yang melakukan upaya publikasi untuk merawat bukunya. Penulis juga bisa melakukan upaya itu. Atau mungkin, jika memang naskahnya bagus, pembacalah yang melakukan upaya merawat dengan menyebarkan betapa bagusnya buku itu. Kau tidak bisa mengabaikan upaya2 ini.

Akun-akun besar dengan angka pengikut fantastis itu adalah mereka yang berhasil melepas dan merawat karyanya agar bisa tumbuh dewasa alih-alih cuma disimpan di salah satu sudut ruang gelap penyimpanan komputer atau teronggok di meja redaksi.

Angka pengikut yang besar itu menunjukkan bahwa ia sudah melakukan satu tugas yang seharusnya dilakukan penerbit saat buku rilis: menemukan pembaca.

Karya yang sudah menemukan pembacanya ini akan memperkecil risiko kegagalan buku. Kembali lagi ke masalah penerbit juga sebuah bisnis, menerbitkan sebuah buku bukan perkara sepele yang bisa selesai dengan jentikan jari; ia membutuhkan berbulan-bulan usaha, dan dana ratusan juta.

Risiko gagal juga tidak bisa dihindari. Karya yang sudah menemukan pembacanya ini akan mengurangi risiko kegagalan ini, karena paling tidak, akan ada 3000 pembeli yang bisa menghabiskan cetakan pertama agar penerbit tidak merugi.

Aku memang bukan orang yang tepat untuk memberikan nasihat, tetapi saat seseorang bertanya kepadaku apa yang harus mereka lakukan dengan karya mereka, aku selalu bilang, sudah bukan zamannya lagi kau bergantung pada penerbit.

Aku percaya salah satu tujuanmu menulis adalah agar karyamu dibaca orang. Lalu, apakah media agar naskahmu bisa dibaca itu cuma dalam bentuk kertas yang dipajang di toko buku? Dulu, iya. Sekarang, tidak. Kau sekarang punya sosial media untuk membagi karyamu dan membangun jenama.

Para penulis dengan pengikut besar telah melakukan ini untuk menemukan pembaca, dan mereka berhasil setelah bertahun-tahun dengan telaten terus berkarya, seperti apa pun karyanya itu.

Aku tahu membangun audiens itu sulit. Tetapi, kau tidak bisa berpangku tangan menunggu penerbit bertindak. Kau harus belajar membangun jenama pribadimu, kau harus berinteraksi dengan audiensmu, dan itu harus kau lakukan dalam jangka panjang.

Tetapi, jika kau berhasil menemukan audiensmu yang tepat, bahkan namamu bisa jauh lebih besar daripada penerbitmu nanti. Jika sudah seperti itu, ke mana pun kau menerbitkan karyamu, audiensmu akan mengikutimu.

Omong-omong, kalau tujuanmu menulis supaya bukumu mejeng di toko buku, kau penulis yang bodoh. Buku yang dipajang di toko buku adalah buku yang belum terjual, yang tidak akan dibaca oleh pembaca.

Menerbitkan buku itu jauh lebih rumit daripada sekadar meletakkan buku di rak. Buku akan dibaca jika buku itu sampai di tangan seseorang, dan itulah gunanya publikasi.

Jadi, menjawab apakah follower penting?

Secara lugas, angka follower penting untuk memperkirakan seberapa banyak karya itu akan terjual. Tetapi, kau tidak bisa menafikan upaya sang penulis yang sudah ambil langkah terlebih dahulu dalam memublikasikan dan membangun jenamanya.

Itulah penjelasan lengkap dari thread Andry Setiawan terkait pertanyaan; apakah follower penting dalam menerbitkan buku? | Utas lengkapnya bisa kalian baca di: Utas Andry Setiawan.

Postingan Selanjutnya Artikel sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url