Trilogi 'Before': Film Cinta Seorang Penulis yang Paling Realistis

Trilogi 'Before'


Di dunia perfilman, ada banyak film bertema cinta. Mulai dari film Indonesia, Korea, hingga Barat. Dan bagi saya, film cinta seorang penulis yang paling realistis, yang pernah saya tonton adalah Trilogi “Before” di antaranya Before Sunrise (1994), Before Sunset (2005), dan Before Midnight (2013). Deretan film ini dibintangi Ethan Hawke (berperan sebagai Jesse) dan Julie Delpy (sebagai Celine).

Di film pertamanya sukses bikin saya senyum-senyum sendiri. Film kedua, sebaliknya, malah bikin saya sedih. Film ketiga, baru lah saya merasa frustasi bukan main. Trilogi “Before” ini betul-betul kisah cinta yang paling realistis, dan saya pikir, hampir semua orang akan merasa “relate” ketika nonton trilogi ini.

Film pertama berlatar di Vienna, Austria. Film kedua di Paris, Prancis. Dan film ketiga di Yunani. Tapi, alih-alih mengandalkan latar tempat yang indah seperti film romantis pada umumnya, kekuatan utama dari film ini justru terletak pada dialog-dialog yang dibangun oleh Jesse dan Celine. Tidak ada dialog-dialog puitis ala Cinta dan Rangga atau Dilan dan Milea. Semuanya, betul-betul dibikin realistis!

Film pertama trilogi ini mengisahkan perkenalan tidak sengaja yang dilakukan oleh Jesse dan Celine dalam sebuah kereta. Jese, mahasiswa Amerika yang lagi jalan-jalan ke Eropa bertemu dengan Celine. Celine adalah mahasiswi Prancis yang sedang mengunjungi neneknya di Austria.

Pada saat itu, Jesse melihat Celine yang lagi baca buku dan iseng ngajak kenalan. Mereka langsung nyambung aja pas ngobrol. Celine, yang seharusnya turun di Paris, tapi malah menyanggupi untuk turun di Vienne agar bisa ngobrol lebih lama dengan Jesse.

Di Vienna, mereka melanjutkan perjalanan dengan membicarkan topik yang beragam. Mulai dari pengalaman hidup masing-masing, musik yang mereka sukai, filsafat, sampai agama.

Saking asyiknya ngobrol, mereka nggak kerasa sudah seharian ngobrol bareng. Katakan lah dunia terasa milik berdua. Sayangnya, mereka harus melanjutkan perjalanan masing-masing dan berpisah.

Mereka pun berjanji untuk bertemu enam bulan dari sekarang di tempat mereka berpisah, yaitu di stasiun kereta Vienna pada 16 Desember pukul 6 sore. Agar tampak romantis, mereka sengaja bikin janji dengan tidak saling tukar alamat atau nomor telepon.

Baca juga:  The End Of The Tour: Film soal Rumitnya Menjadi Penulis Terkenal

Film kedua trilogi ini bikin saya kaget lagi. Film ini berseting sembilan tahun setelah film pertamanya. Saya pikir Celine akan menepati janjinya pada Jesse dengan bertemu di stasiun Vienna. Tapi, Celine tidak datang karena dia lupa dengan janji tersebut, lantaran saat itu neneknya yang tinggal di Austria baru saja meninggal dunia. 

Agar Celine tidak merasa bersalah sendirian, Jesse malah bilang bahwa dia tidak datang juga. Padahal, faktanya, Jesse datang pada waktu dan tempat yang dijianjikan dan sudah menunggu selama berjam-jam.

Film kedua trilogi 'Before' ini pun dilanjutkan dengan Celine yang sengaja menemui Jesse dalam sebuah acara promosi buku milik Jesse. Mereka bertemu di sebuah toko buku. Celine mengetahui acara tersebut setelah melihat foto Jesse dalam koran dan berniat untuk menyapanya setelah sembilan tahun berpisah.

Oleh karena Jesse punya waktu beberapa jam sebelum meninggalkan Paris, mereka akhirnya memutuskan jalan-jalan menikmati Kota Paris dan memutuskan juga untuk "mulai dari nol lagi” meskipun sebenarnya Jesse sudah menikah dan mempunyai anak karena setelah sembilan tahun berpisah, mereka masih saling menyukai satu sama lain seperti pada pertemuan pertama mereka.

Film ketiga trilogi ini lagi-lagi bikin saya kaget. Film ini berseting delapan belas tahun setelah pertemuan pertama mereka di sebuah kereta. Tiba-tiba di film ketiganya diceritakan bahwa Jesse sudah bercerai dari istrinya. Jesse rela meninggalkan kehidupannya di Amerika untuk Celine dan tinggal di Eropa bersamanya

Dalam film ketiga ini, kita akan disajikan dialog-dialog seputar dunia rumah tangga yang sangat rumit. Mereka berdua sudah tidak lagi romantis. Malah sering marah-marah nggak jelas karena cara pandang mereka, sudah jauh berbeda dengan cara pandang delapan belas tahun lalu.

Jesse pengin pindah ke Chicago agar bisa dekat dengan anaknya, sedangkan Celine pengin tetap tinggal di Prancis karena dia baru lulus CPNS dan dapat kerja jadi PNS .

Sejak film kedua, Jesse telah menjadi penulis novel yang cukup terkenal. Bahkan, Celine juga jadi ikut-ikutan terkenal karena Jesse menuliskan kisah pertemuannya dengan Celine.

Banyak penggemar novel karangan Jesse yang mengagumi Celine karena dia dianggap sebagai wanita yang romantis dan sabar. Di depan para penggemarnya, Celine hanya senyum-senyum saja, tapi pas berdua sama Jesse, Celine langsung marah-marah karena kisah cinta mereka tidak seindah novel yang ditulis Jesse.

Baca juga: Fim Ruby Sparks, saat Penulis Jatuh Hati sama Tokoh Novelnya

Yang membedakan trilogi ini dengan film cinta lainnya adalah chemistry antara Enthan Hawk dan Julie Delpy. Chemistry mereka solid banget.

Sejak film pertama, ekspresi dan gestur mereka saat berbicara seolah-olah tidak ada skripnya sama sekali. Mereka layaknya pasangan beneran. Sebagai penonton, saya merasa berada dalam satu ruangan dengan mereka dan dengan asyiknya melihat mereka berantem dengan berbagai permasalahan rumah tangga.

Selain itu, oleh karena film ini berjarak sembilan tahun dari film sebelumnya, film ini dapat menunjukkan pada kita bahwa anak muda cenderung romantis dan selalu percaya akan janji-janji yang kerapkali dicetuskan (film pertama).

Pada film kedua, saat mereka sudah lebih dewasa, mereka akan berpikir realistis. Waktu itu, Jesse sudah menikah, dan Celine masih trauma karena ditinggalkan oleh pacarnya.

Akhirnya, setelah berpikir panjang, mereka bersatu juga. Dan pada film ketiga, hubungan mereka jadi rumit karena tidak ada istilah romantis-romantis lagi seperti depalan belas tahun sebelumnya. Yang ada malah konflik rumah tangga yang tidak ada ujungnya.

Akan tetapi, pada akhirnya mereka berdua sanggup menyelesaikan konflik tersebut. Kuncinya adalah komunikasi meskipun dialog berantem mereka rumit banget sih, dan banyak kata-kata kasar, makian, dan celaan yang keluar dari mulut mereka, namun semuanya mereka lakukan supaya dapat ketemu solusinya.

Makanya saya bilang kalau trilogi ini realistis banget jika dibandingkan dengan puluhan film cinta-cintaan yang pernah saya tonton.

-

Penulis: Raden Muhammad Wisnu Permana
Editor: Muhammad Ridwansyah

Postingan Selanjutnya Artikel sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url