Artikel Terbaru

Belajar Mengarang Buku Sendiri Seperti Pada Film Mary Shelley (2017)

Film Mary Shelley


Sudah sekitar lima bulan saya tidak mengisi rubrik "film kepenulisan" di blog ini. Terakhir kali memposting artikel film bertema penulis, yakni pada Juli lalu.

Pada bulan Juli, saya menulis kisah Sylvia Plath. Untuk bernostalgia dengan tulisan tersebut, silakan baca: Sylvia Plath (film tentang penyair yang kisah hidupnya rumit hingga dirinya bunuh diri).

Nah, dua hari lalu dengan niat awal memang ingin mengupdate kembali rubrik film kepenulisan ini, saya kemudian nonton film Mary Shelley.

Ini adalah salah satu dari puluhan film yang mengangkat tema kepenulisan, yang epic banget, yang berhasil saya tonton.

Lagi-lagi, setelah nonton film bertajuk dunia penulis, saya menyimpulkan bahwa kehidupan para penulis maupun penyair terbilang unik, sekaligus memprihatinkan juga, sih.

FYI.

Melalui tulisan ini, saya ingin membagikan tentang proses mengarang buku ala Mary Shelley. Sebab, saya rasa, proses Mary menulis buku lebih menarik untuk dibagikan daripada harus menjelaskan isi keseluruhan film ini.

Terlebih, sudah banyak media-media lain yang mereview film ini.

Berikut di bawah ini adalah alasan mengapa karya Mary Shelley yang diberi judul Frankenstein; or, The Modern Prometheus bisa dikasih label sebagai buku original terbaik pada masanya.

Dan lantas, mengapa kita (orang yang hobi menulis) harus belajar mengarang buku sendiri seperti Mary.

5 pelajaran yang saya ambil dalam film Mary Shelley 

Tiap hari Mary berlatih menulis, dan dia tidak pernah luput membaca buku

Untuk menjadi penulis andal seperti Mary, maka lakukan dua hal ini secara bersamaan di waktu yang berbeda; latihan menulis dan membaca buku.

Mary kerap datang ke makam ibunya untuk menulis di sana. Suasana kuburan yang sepi sukses membuat tulisan-tulisan Mary menjadi bagus.

Mary juga tiap hari membantu menjaga toko buku milik ayahnya. Di sini sudah jelas, Mary hidup dikelilingi oleh buku. Ditambah lagi, dia memiliki orangtua yang juga hobi menulis.

Bahkan, ayah dan almarhum ibunya berprofesi sebagai penulis yang sangat dikagumi oleh penulis lainnya. Meski, kehidupan Mary dan keluarganya serba berkecukupan.

Intinya, pada poin pertama ini, saya yakin semua penulis akan sepakat bahwa, berlatih menulis dan membaca buku mampu membikin tulisan menjadi enak dibaca.

Itulah yang dilakukan oleh Mary. Dan inilah yang wajib kita aplikasikan tiap hari.

Jangan ragu mengarang buku dengan genre yang nggak umum

Perlu saya sampaikan bahwa buku Frankenstein adalah buku yang berisi tentang cara menghidupkan orang mati. Frankenstein ini gambarannya seperti monster.

Nah itulah buku yang dikarang oleh Mary. Di saat penulis-penulis lain pada 1818 menulis buku ilmiah yang berat-berat, dia malah menulis buku genre horror. Genre buku yang katakan lah sangat dibenci oleh ayahnya sendiri.

Hikmah yang dapat kita ambil adalah, jangan pernah ragu ketika punya rencana ingin mengarang buku dengan genre yang nggak umum.

Malah, kalau menurut saya dan mungkin menurut penerbit, genre buku yang seperti itu justru menarik.

Mary Shelley Aktor


Gunakan perasaan saat menulis

Menulis buku fiksi seharusnya tidak hanya mengandalkan imajinasi saja, tapi penulis harus menuangkan semua perasaan di dalam tulisannya.

Kalau kata ayah Mary, William Godwin, buku fiksi itu bagusnya menekankan suara-suara. Artinya, mau tidak mau, penulis fiksi kudu bisa menciptakan suara yang khas.

Di lain sisi, buku Frankenstein memang membahas hal-hal yang tidak masuk logika sebenarnya. 

Namun, Mary menyisipkan kehidupan pribadinya yang penuh dengan kesedihan, pengkhianatan, dan penyesalan dalam buku tersebut sehingga diapresiasi oleh pembacanya.

Teruslah menulis meski fasilitas terbatas

Saat ini banyak penulis pemula yang mengeluh dalam membuat karya karena fasilitas menulisnya terbatas. Tidak punya laptop lah, tidak punya buku referensi lah, dan lain-lain.

Padahal dengan secarik kertas, padahal dengan selembar kertas, itu bisa digunakan untuk menulis ide dan merangkai beberapa kalimat untuk kemudian dijadikan naskah yang utuh.

Dan Mary Shelley, dia melakukan hal itu.

Bayangkan saja, tahun 1818 masih belum ada lampu. Masih belum ada mesin tik. Tapi, luar biasa banget dengan keterbatasannya pada waktu itu, Mary mampu membuat karya yang hebat.

Jadi, jangan dijadikan alasan bahwa terbatasnya fasilitas lalu enggan menulis. Jadi, terus lah menulis.

Kebal ketika ditolak penerbit

Naskah buku Frankenstein beberapa kali ditolak oleh penerbit. Sebab, penerbit menilai bahwa tulisan Mary terlalu subjektif untuk ukuran penulis perempuan yang masih muda.

Itu sebabnya, nama pena buku Frankenstein anonim. Hanya menyebutkan nama "The Author" di bawah judul.

Tapi, pelajaran yang perlu kita ambil dalam film ini adalah, meski naskah ditolak oleh banyak penerbit namun kalau penulisnya berjuang terus agar naskahnya diterbitkan, maka kelak akan terbit.

Saya pernah membahas bagaimana seharusnya penulis mengatasi penolakan dari penerbit. Silakan baca artikel berikut: cara mengatasi naskah ditolak penerbit.

Sisi lain film Mary Shelley

Di paragraf kelima, saya mengatakan bahwa film ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan seperti pada film bertema penulis atau penyair lainnya yang pernah saya tulis juga lewat log ini.

Apa yang bikin sedih?

Adalah kehidupan penulis profesional tidak seenak yang dibayangkan. Terutama bagi penulis laki-laki yang hidupnya pure mendapatkan penghasilan dari menulis.

Suami Mary, Percy Bysshe Shelley, punya banyak utang. Ia harus berpindah-pindah rumah. Terlebih lagi, ia menjalani kehidupan dengan gaya hidup bohemian, dan liberalism.

Dalam hal cinta misalnya, ia membebaskan. Sudah punya istri dan anak pun, lalu ditinggalkan. Kepada istrinya, ia mempersilakan untuk mencintai laki-laki lain.

-

Overall, film Mary Shelley penuh dengan kata-kata puitis. Wajar saja, semua aktor yang terlibat dalam film ini penyair semua.

Kalian yang doyan memainkan diksi-diksi saat menulis novel bakal terkesima saat nonton film ini.

Jujur, alur film ini susah ketebak. Ia selalu memberikan kejutan-kejutan.

Jika saya bandingkan dengan film Ruby Sparks dalam segi setting, film ini lebih oke. Klasik banget lah.

Apalagi pakaian orang Skotlandia zaman dulu, duuuh lusuh-lusuh keren gimanaaa, gitu. Ajip!

Mary Shelley Romantis


Ini merupakan film yang saya rekomendasikan untuk penulis-penulis yang sudah dewasa. Sebab, banyak adegan-adegan panas dan menegangkan. Karena jenis film ini romantis juga.

-

Sekian itu saja pembahasan tentang film Mary Shelley. Selamat menonton di lain waktu!

Tidak ada komentar

Tolong berkomentar dengan baik dan logis. Jangan melakukan spam. Kalau bisa, berkomentar lah pakai nama, jangan anonim. Komentar kalian saya filter dulu. Jika komentar kalian sesuai selera saya, akan saya setujui. Terima kasih.