Apakah Menerbitkan Buku Harus Bayar? Mari Kupas Tuntas

Apakah Menerbitkan Buku Harus Bayar

Pertanyaan apakah menerbitkan buku harus bayar, adalah pertanyaan yang sering saya dengar, khususnya dari penulis pemula yang tidak mengetahui seluk-beluk penerbitan.

Dan mungkin saja, mereka bertanya seperti itu karena faktanya, sudah banyak penulis buku di luar sana yang menerbitkan bukunya melalui proses pembayaran. Alias, mengeluarkan biaya penerbitan.

Benar bahwa, sudah banyak penerbit yang membuka jasa penerbitan buku. Biasanya jenis penerbit yang membuka jasa penerbitan ialah penerbit indie. Dan yang namanya membuka jasa, berarti harus ada uang yang dikeluarkan kalau kita membutuhkan jasanya.

Akan tetapi, perlu dicatat dulu bahwa tidak semua penerbit indie selalu menguangkan dulu kepada penulis.

Ada juga jenis penerbit indie yang justru meminang para penulis melalui naskah yang masuk ke redaksi mereka. Atau, mereka sengaja menghubungi seorang penulis agar naskahnya diterbitkan melalui penerbitannya.

Jadi, untuk penerbit indie yang membuka jasa penerbitan buku, saya selalu memberikan label kepada mereka: jenis penerbit indie berbayar. Sedangkan penerbit indie yang suka meminang para penulis, saya kasih label: penerbit indie seleksi.

Pemberian dua label tersebut sengaja saya sematkan kepada penerbit indie yang memang beragam banget sistem penerbitannya. Dan dua label itu ditujukan untuk memudahkan saya dalam menjelaskan pertanyaan; ada berapa sih jenis-jenis penerbit di Indonesia?

Oke, mari kita masuk ke inti pembahasan..

Apakah menerbitkan buku harus bayar?

Jawaban paling umum untuk menjawab pertanyaan ini, yaitu gratis. Memang benar gratis jika diterbitkannya melalui penerbit gratisan. Salah satunya ke penerbit Guepedia.

Lewat penerbit Guepedia, semua naskah yang masuk, genre apapun itu, akan diterbitkan. Asalkan, isi naskah memenuhi kriteria atau ketentuan penerbit.

Bagaimana cara menerbitkannya?

Langsung saja klik artikel saya tentang: review Guepedia. Tapi, saya selalu mengimbau bahwa kalau diterbitkan di penerbit gratisan, berarti siap-siap saja menerima risiko yang akan dihadapi

Mulai dari isi naskah yang banyak banget typo-nya, lalu soal harga buku yang ditentukan sama mereka, hingga kalimat-kalimat yang diedit terkadang tidak masuk akal atau tidak enak dibaca.

Jadi, untuk menerbitkan buku sebenarnya tidak harus bayar. Kuncinya, terbitkan saja ke penerbit gratisan. 

Lantas, kalau diterbitkan melalui penerbit Gramedia, Gagas Media, atau Bentang Pustaka, apakah tidak harus bayar juga?

Jawabannya, tidak perlu membayar juga. Kuncinya, naskah kalian harus diterima atau lolos seleksi. Cuman, kan, masalahnya adalah, agar naskah bisa diterima penerbit itu sangat lah susah.

Mengapa?

Sebab, kualitas tulisan harus bagus, isi buku harus dapat menggugah penerbit, ditambah lagi banyak pesaing, plus seleksi ketak. Sangat ketat.

Nah, oleh karena betapa susahnya sebuah naskah terbit di penerbit mayor kayak Gramedia, maka pilihan utama penulis pemula biasanya ke penerbit gratisan.

Sebab, mereka ingin naskahnya cepat terbit dan mendapatkan label sebagai seorang penulis, novelis, maupun cerpenis.

Berdasar pengalaman, pernahkah saya pribadi  menerbitkan di penerbit gratisan?

Jujur, tidak pernah. Sebab, penerbit gratisan itu identik dapat merugikan penulis.

Istilahnya, penerbit gratisan malah memperkaya diri sendiri. Sedangkan penulisnya, tertipu sama kategori penerbit "gratisan". 

Lalu mengapa ada penulis buku yang harus bayar ketika menerbitkan buku?

Nah ini biasanya soal idealisme, bisnis, atau disebabkan karena kecewa sama dua jenis penerbit di atas.

Katakan lah penulis-penulis yang menerbitkan buku lewat uang sendiri, mereka pernah mengirimkan naskahnya ke penerbit mayor, namun hasilnya ditolak. Mereka pernah juga menerbitkan buku di penerbit gratisan, tapi hasilnya tidak memuaskan.

Oleh karena itu, pilihannya adalah mengeluarkan uang sendiri. Dengan mengeluarkan duit sendiri, mereka memiliki kebebasan soal cover bukunya, jumlah halamannya, hingga menentukan harga jual ditentukan juga oleh si penulis.

Sebut saja biaya cetak buku 22.000, lalu buku dijual dengan harga 65.000, coba berapa keuntungan yang sudah didapat dari 1 buku yang terjual? Adalah 43.000. Silakan kalikan jika buku terjual minimal 10 lah. Maka, hasilnya: 430.000.

Ya, menerbitkan buku melalui duit sendiri kadang ditujukan untuk bisnis. Ini yang saya suka. Dan kerap saya lakukan. Dan pernah juga saya alami.

Dan wajar saja saya berpikiran seperti itu. Sebab, menulis novel itu prosesnya berbulan-bulan, masa dapat royalti 10% saja?  Masa yang dapat banyak duit penerbitnya doang? Harusnya penulisnya, dong. Itu!

Coba baca ini terkiat keuntungan di penerbit indie berbayar yang lumayan menjanjikan bagi para penulis: keuntungan penerbit indie.

Barangkali, itulah alasan mengapa banyak penulis buku yang mengeluarkan uang sendiri. Sebab, keuntungannya jelas. Tinggal bayar biaya penerbitan dan biaya cetak saja. Sudah, selesai.

-

Dan barangkali itu saja sedikit informasi terkait pertanyaan tentang apakah menerbitkan buku harus bayar, jawabannya sudah lengkap dan logis.

Semoga artikel ini menjawab keresahan kalian. Silakan baca juga artikel di bawah ini soal royalti seorang penulis.

Postingan Selanjutnya Artikel sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url