Artikel Terbaru

5 Cara Menarik Naskah dari Penerbit Secara Sopan

Cara Menarik Naskah dari Penerbit


Sekadar informasi bahwa, artikel ini berangkat dari pertanyaan pembaca. Dia bertanya lewat kolom komentar, "Kak, bagaimana cara menarik naskah dari penerbit?"

Kebetulan, saya punya pengalaman menarik saat mencabut naskah dari dua penerbit sekaligus. Ini terjadi pada beberapa tahun lalu. Dan kebetulan juga, saya sama sekali belum pernah membahas topik ini melalui blog ini.

Dulu, alasan saya mencabut naskah dari dua penerbit sekaligus disebabkan karena, penerbitnya slow respon. Terus, hasil editing-nya kurang memuaskan. Ditambah lagi promosinya hanya apa adanya saja. Mirip-mirip penerbit Guepedia lah.

Begini.

Ada tiga syarat atau tiga momen yang tepat saat benar-benar ingin menarik naskah. Dan ini tolong digarisbawahi dulu;

Pertama, kalau saja naskah kalian tidak ada kepastian dari penerbit, serta sudah melampaui batas informasi diterima dan ditolaknya naskah, maka naskah boleh ditarik.

Kedua, jika naskah kalian dikirim ke penerbit gratisan, lalu hasilnya jelek banget usai diterbitkan oleh mereka, boleh juga ditarik.

Ketiga, jika naskah dikirim ke penerbit indie, kemudian sudah diterbitkan, tapi hasil akhirnya mengecewakan, pun boleh ditarik. Asal, melalui komunikasi yang baik dan saling sepakat antara kalian sebagai penulis dan juga pihak penerbit.

Paham, ya?

Untuk pertanyaan-pertanyaan lain, saya rangkum di akhir pembahasan.

Sekarang, mari perhatikan dulu adab (kesopanan) yang harus dilakukan seorang penulis saat menarik naskahnya.

Cara menarik naskah dari penerbit

1. Tarik naskah via email

Tiap penerbit pasti punya email yang mereka informasikan lewat laman website atau sosial medianya.

Nah, langkah pertama yang kudu dilakukan oleh seorang penulis, adalah menulis pernyataan penarikan naskah.

Contoh penulisannya?

Gampang. Tidak perlu formal. Ini bukan untuk melamar kerja.

Tulis saja perkenalan, subjeknya "penarikan naskah", lalu to the point aja bahwa, naskah yang berjudul A mau ditarik sepenuhnya dengan alasan mau dikirim ke penerbit lain.

Atau bilang saja bahwa, kalian selaku penulis sudah menunggu hingga batas informasi ditolak/diterima naskah, tapi masih belum menerima email kepastian naskah.

Saya dulu begitu.

Hasilnya? Penerbit tidak membalas email saya.

Maka, saya lakukan langkah kedua sebagai bukti keseriusan saya, bahwa saya ingin mencabut naskah.

2. DM penerbit melalui sosial media

Saya selalu berprasangka baik bahwa, mungkin penerbit tidak membalas email saya karena ketutup oleh email-email yang lainnya. It's oke!

Saya kemudian menghubungi penerbit lewat DM Instagram atau Facebook. Kadang, lagi-lagi, kalau nggak dibales, cara lainnya yakni berkomentar aja di postingannya.

Saya suruh mereka buat baca email dari saya atau DM dari saya. "Halo penerbit A (biasanya ke penerbit indie). Jika berkenan, mohon balas email dan DM saya. Terima kasih".

Saya pikir cara kedua ini adalah bentuk ikhtiar. Kadang email penarikan naskah yang saya kirim tadi, saya salin saja, lalu saya kirim ke penerbit melalui DM sosmed.

Apakah ini nggak sopan? Sopan. Tujuannya biar direspon.

Kalau masih belum direspon? Lakukan cara ketiga.

3. Chat penerbit via WA

Kadang ada beberapa penerbit yang mencantumkan nomor WA-nya di sosmed. Saya chat saja langsung.

Sepertinya kalau lewat WA, masa sih nggak ada notif. Setidaknya kalau dibaca, ada lah chat yang masuk dari nomor baru, gitu.

Nah lewat WA biasanya merespon meski kadang kurang intens karena lagi-lagi, ngebalesnya lama. Oleh sebab itu, cara jitu terdapat pada langkah keempat.

4. Telepon penerbitnya

Ini pernah saya lakukan pada 2017 lalu. Saya mengatakan bahwa, bukannya tidak sopan melalui telepon, tapi mau gimana lagi?

Email, DM, dan chat WA nggak dibales. Sehingga, mau nggak mau, saya meneleponnya.

Sebenarnya di sini sudah ketahuan bahwa, penerbit yang pelayanannya seperti itu bukan jenis penerbit yang bagus untuk diajak kerjasama.

Coba baca ini: jenis-jenis penerbit di Indonesia. Tulisan saya itu membuktikan bahwa, masih banyak orang yang membuka penerbitan buku, tapi pelayannya buruk.

Ada solusi lain kalau di-telepon pun nggak di angkat?

5. Naskah tarik langsung tanpa sepengetahuan penerbit

Apakah saya pernah melakukan cara kelima ini?

Pernah. Ternyata, fine-fine aja. Lagian saya sudah punya bukti keseriusan saya mencabut naskah. Mulai dari mengirim email, hingga menelpon.

Kalau pun toh nanti ada masalah hak cipta, yang penting kita sudah kuat ada bukti. Sebab, pengalaman saya membuktikan bahwa, memang penerbit buku ini nggak semenarik yang saya bayangkan di Instagram.

Di Instagram kayak yang iya user friendly, dekat dengan pembaca. Nyatanya kalau dihubungi via email dan WA, bahkan via sosmed di mana mereka aktif tiap hari, eh malah nggak dibales.

Kesimpulan

Untuk mendapatkan penerbit yang pelayannya oke, gampang-gampang susah. Maka dari itu, sedari awal, sebelum mengirim naskah, sebaiknya tanya-tanya dulu kepada penulis yang sudah pernah menerbitkan naskahnya di penerbit yang akan kita tuju.

Nah bilamana kalian sudah mengalami kekecewaan dari penerbit, lalu ingin menarik kembali naskah yang sudah dikirim, maka lakukan saja langkah-langkah pada artikel cara menarik naskah dari penerbit yang sudah saya bagikan di sini.

Apakah ini terbilang sopan? Sopan. Sebab, penulis adalah orang yang berkuasa. Maka, kita layak mau narik atau melanjutkan kelangsungan naskah tersebut.

Ingat tiga syarat tadi dalam penarikan naskah. Selain tiga syarat itu, tidak boleh ditarik kembali. Ditambah lagi, baca ketentuan kerjasama dengan penerbit agar tidak salah paham ke depannya.

Terima kasih. Semoga membantu!

Tidak ada komentar

Tolong berkomentar dengan baik dan logis. Jangan melakukan spam. Kalau bisa, berkomentar lah pakai nama, jangan anonim. Komentar kalian saya filter dulu. Jika komentar kalian sesuai selera saya, akan saya setujui. Terima kasih.