5 Manfaat Bersosialisasi bagi Seorang Penulis, Ini Perlu Diaplikasikan

Manfaat Bersosialisasi bagi Seorang Penulis

Kalau saya sederhanakan dari semua definisi "bersosialisasi (diambil dari kata: sosialisasi)" yang disampaikan oleh para ahli, bersosialisasi gambarannya adalah aktivitas berkumpul dengan warga di sekitar kampung.

Dan bersosialisasi, teknisnya ialah bertatap muka secara langsung, bukan berkabar maupun berdiskusi melalui media sosial.

Banyak saya temui (para penulis), mungkin oleh karena pekerjaan seorang penulis adalah menulis maka bersosialisasi dengan orang-orang yang berada di lingkungannya jarang dilakukan. Padahal, ada banyak manfaat bersosialisasi bagi seorang penulis.

Saya menebak alasan mengapa seorang penulis jarang bersosialisasi. Pertama, sudut pandangnya terlalu sempit. Dia sering kali melayangkan pandangan bahwa, untuk apa bersosialisasi kalau menjurus kepada keburukan?

Berghibah, ngobrol-ngobrol nggak jelas, dan lain sebagainya. Padahal, dalam bersosialisasi, khususnya dengan warga di sekeliling rumah kita, nggak seburuk itu. Berghibah mungkin iya, tapi konten obrolan nggak melulu keburukan.

Kedua, sifat si penulis mungkin emang nggak mau bergaul. Dia lebih suka berkarya dan produktif menulis di rumah.

Biasanya tipe penulis seperti ini nggak tahu perkembangan apa saja yang terjadi di kampungnya. 

Apakah hal ini berbahaya bagi seorang penulis? Tentu. Sebab, tinggal di tempat kelahirannya saja kurang peka terhadap keadaan. Gimana mau peka terhadap tulisan? Gimana mau peka terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di kotanya sendiri.

Jadi, saya memberikan kesimpulan bahwa bersosialisasi bagi seorang penulis teramat penting. Mari saya uraikan di bawah ini 5 manfaat bersosialisasi bagi seorang penulis.

1. Ajang membranding diri

Jika dipresentasikan, orang yang hobi menulis di suatu kampung 1:10. Itu sebabnya bagi sebagian penulis susah banget mewujudkan salah satu impiannya, yaitu membikin taman baca.

Mungkin gampang bikin taman baca kalau di kampung A orang-orangnya berliterat semua (apalagi kalau pada kompak).

Akan tetapi, kesulitannya mungkin itu saja. Sedangkan nilai positifnya kalau para penulis yang punya cita-cita ingin membuat taman baca ini bersosialisasi dengan warga di sekitar rumahnya, meski warga bilang, "Susah ya anak-anak sekarang mah suka sama buku. Hape mulu".

Seenggaknya kalian dikenal oleh warga sebagai orang yang hobi menulis. Bahkan dianggap penulis. Dan seenggaknya juga udah menyampaikan keinginan bikin taman baca tadi, bukan dipendam saja.

Orang yang berprofesi sebagai penulis itu sedikit, jadi dengan bersosialisasi, istilahnya kita membranding diri kepada warga bahwa kita bisa menulis.

Impacknya, anak-anak mereka (warga) kalau pengin beli buku, pengen belajar menulis, nanti nggak bakalan jauh-jauh, pasti kepada kita yang hobi menulis.

2. Mengusir penat

Apa nggak penat ya tiap hari di depan laptop? Apa nggak kesepian hidup ngerasa sendirian mulu meski udah berkarya ini-itu?

Apa nggak capek punya keinginan bikin sesuatu di dunia literasi, tapi nggak kesampaian karena SDM-nya sedikit.

Kadang, bukan SDM-nya sedikit. Namun, mungkin kalian saja yang nggak menjemput bola, memperbanyak relasi, dan lain-lain.

Cara mengusir penat, salah satunya adalah keluar rumah. Misalnya nyari teman ngobrol. Sebab, mencari teman ngobrol juga erat kaitannya dengan definisi bersosialisasi.

3. Mendapatkan ide tulisan

Kalau seorang penulis sering bersosialisasi, tanpa disadari bakal mendapatkan ide tulisan. Sebab di luar sana, banyak orang yang gaya bicaranya unik. Gerik-gerik tubuhnya pas lagi ngomong sesuatu terlihat menarik. Dan ini bisa dijadikan konten tulisan.

Saya selalu menyisihkan waktu untuk bersosialisasi dengan para pedagang kaki lima di tempat tinggal saya.

Apa hasilnya? Saya mendapatkan ide dan konten tulisan untuk kemudian saya tulis di blog pribadi. Jadi, saya sering mewawancarai para pedagang tersebut.

Bukankah ide muncul nggak harus secara tiba-tiba, tapi perlu dicari juga. Ya, kan?

4. Mendapatkan istilah-istilah baru

Beberapa hari yang lalu saya menulis tentang 4 cara bertahan hidup bagi seorang penulis.  Kata "bertahan hidup/survival" di dalam judul tulisan tersebut, saya menemukannya di tongkrongan.

Lalu sekira dua hari yang lalu saya menemukan kata "deklarasi" dari seseorang yang curhat kepada saya. Kata "deklarasi" memang sudah ada.

Tapi, uniknya, pengguanaan kata tersebut dikaitkan dengan masalah percintaan seperti, "Sebenarnya Bang, perasaan saya tidak dideklarasikan secara langsung di depan dia, Bang".

Istilah-istilah yang saya temukan itu kemudian diaplikasikan dalam bentuk tulisan. Jadi bukan hanya di kamus saja mendapatkan istilah baru yang unik, dari obrolan-obrolan remeh pun pasti bakal menemukannya. Asal, seorang penulis menyisihkan waktu untuk bersosialisasi.

5. Mendapatkan relasi

Terakhir, manfaat bersosialisasi bagi seorang penulis adalah mendapatkan relasi.

Dan kunci untuk  mendapatkan relasi ialah jangan pandang bulu berteman dengan siapa saja. Entah dengan mereka yang hobi melukis, foto-foto, dan misal dengan komunitas-komunitas.

Apa hasilnya? Saat kalian bersosialisasi, otomatis nanti kan ngobrol-ngobrol. Di situlah terbuka rezeki kayak "Kenal nggak sama orang yang bisa nulis script film?"

Kadang, orang yang hobi menulis meski hanya sekadar nulis di blog ujungnya bakal ditembak, "Yaudah, kamu aja. Kamu kan suka nulis. Bantu ya?".

Tanpa bersosialisasi, mungkin relasi seorang penulis itu-itu saja. Nggak berkembang.

***

Jadi ada 5 manfaat bersosialisasi bagi seorang penulis.
1. Ajang membranding diri
2. Mengusir penat
3. Mendapatkan ide tulisan
4. Mendapatkan istilah-istilah baru
5. Mendapatkan relasi




Ridwansyah
Pendiri penulis Garut | Penggiat literasi | Follow IG/Twitter: @aaridwan16.

Postingan Selanjutnya Artikel sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url