5 Cara Menumbuhkan Literasi Musik Pada Peserta Didik Melalui Peran Guru di Sekolah

Literasi Musik


Tiap diundang ke acara literasi, saya sering ditanya oleh mahasiswa dan para peserta didik, "Apakah mendengarkan dan memainkan musik termasuk kegiatan literasi?"

"Termasuk," sahut saya. Sebab, literasi itu cakupannya luas. Dan meskipun lebih banyak bergerak di bidang literasi baca-tulis, saya menyadari dan paham betul bahwa literasi itu bukan hanya baca-tulis saja.

Yang dimaksud dengan literasi musik ialah mengetahui atau mengikuti segala perkembangan informasi tentang musik.

Contoh kegiatan literasi musik di antaranya sering membaca sejarah musik, tertarik membaca riwayat biografi tokoh-tokoh yang bergerak di bidang musik, mengetahui notasi musik, menulis lagu, memainkan musik, dan masih banyak lagi.

Jadi, literasi musik masih berkaitan dengan aktivitas membaca dan menulis.

Lantas mengapa literasi musik eksistensinya tidak begitu unggul jika dibandingkan dengan literasi baca-tulis?

Mengapa banyak orang yang lebih tertarik bergerak di bidang literasi baca-tulis daripada literasi musik?

Padahal, musik tak pernah luput dalam kehidupan manusia. Dan musik tak pernah mengukur usia serta gender seseorang. Mulai dari anak, dewasa, orangtua, laki-laki, dan perempuan tahu apa itu musik. Atau setidaknya pernah mendengarkan musik.

Salah satu alasan literasi musik keberadaannya tidak begitu terlihat karena kegiatan membaca dan menulis informasi tentang musik belum menjadi kebiasaan di Indonesia. Ditambah lagi, pencipta dan pecinta musik jarang membaca literatur musik.

Faktor lain yang mempengaruhi presensi literasi musik tak begitu terpandang karena belum terjalinnya hubungan yang baik antara masyarakat kita dengan dunia literasi.

Kalau ditinjau lebih jauh lagi, pada literasi keluarga misalnya, orangtua kebanyakan menggunakan puisi, cerita-cerita zaman baheula, dan membacakan buku kepada anaknya daripada mendekatkan sang anak dengan kegiatan literasi musik.

Beberapa orangtua mungkin ada yang mengenalkan musik kepada anaknya, tapi jumlahnya sedikit.

Mari kita masuk ke inti pembahasan. Setelah sang anak tumbuh dan bersekolah, pertanyaannya adalah bagaimana kehadiran literasi musik di sekolah?

Apakah peran guru sudah baik dalam menumbuhkan literasi musik kepada siswa-siswinya? Ini menarik.

Kenapa menarik? Karena masih banyak sekolah yang memberikan batasan atau bahkan melarang siswa-siswinya untuk mengembangkan bakat mereka dalam dunia musik.

Guru kadang tidak memberikan dukungan kepada siswa-siswinya yang ingin membuat band sendiri. Adapun yang didukung, tapi hanya genre-genre musik tertentu saja.

Dalam artikel ini, saya mencoba menawarkan beberapa cara untuk menumbuhkan literasi musik pada peserta didik melalui peran guru. Berikut adalah penjelasannya.

1. Menyupport siswa dalam kegiatan lomba festival musik

Masih sering saya dengar cerita-cerita dari adik kelas yang mengeluh ketika ada lomba festival musik. Soalnya ketika mau daftar atau ikut, eh malah dilarang oleh pihak sekolahnya.

Padahal, apa susahnya sih sekolah mempersilakan siswa-siswinya berkarya di ranah musik? Toh kalau juara maka yang bangga dan harum juga nanti sekolah ke bawa-bawa.

Dalam hal ini, peran guru seni atau guru yang menyukai musik seharusnya nekad saja mendukung keinginan siswa. Sebab kalau menang, guru yang mendukung bakalan dibanggakan oleh sekolah. Kalau kalah, ya tidak apa-apa. Tinggal coba lagi dan lagi.

Jadi amat sangat penting mendukung siswa dalam kegiatan lomba festival musik.

2. Mengajak peserta didik untuk menikmati musik dari kata-kata yang diciptakan sendiri

Guru seni budaya seharusnya jangan terlalu fokus mengajar murid tentang makna dan ejaan sebuah kata, tapi bantu murid untuk menikmati nikmatnya bunyi dari kata-kata.

Maksud saya begini. Dalam membantu murid agar peka terhadap musik, ada baiknya guru meminta murid untuk membikin sebuah lagu atau rap dari kosa kata yang diajarkan.

Biarkan murid membuat lagu dan memainkan serta menyanyikannya sendiri. Lalu luangkan waktu untuk mengapresiasi karya mereka. Ini yang akan menumbuhkan kesenangan bermusik pada peserta didik.

3. Membebaskan peserta didik berkarya di genre musik apa saja

Mentang-mentang nama sekolahnya Islami, eh sekolah kemudian melarang siswa-siswinya bermain musik metal dan rock.

Pihak sekolah seharusnya sadar bahwa tidak semua siswa yang bersekolah ke sekolahan berbasis keagamaan suka sama musik Islami macam kasidahan atau marawisan, tapi banyak juga siswa yang suka sama musik pop, jazz, dan lain-lain.

Bagaimana mungkin literasi musik di suatu sekolah berjalan dengan baik kalau masih ada larangan bermain musik hanya dengan genre-genre musik tertentu saja. Harusnya, bebaskan saja. Semakin banyak siswa yang suka sama musik A, B, C, dan D maka nantinya bagus dalam kemajuan siswa-siswi tersebut.

4. Guru membuat organisasi khusus musik di sekolah

Mungkin saja alasan siswa-siswi tidak aktif atau tidak ikutan OSIS, Pramuka, Paskibra dan organisasi lain karena bidang atau minat mereka bukan di situ.

Maka dari itu, pihak sekolah dan peran guru semestinya peka bahwa di luar organisasi itu, ada minat lain yang siswa-siswi suka yaitu mungkin saja mereka suka di bidang olahraga dan musik.

Untuk menumbuhkan literasi musik, buatlah organisasi khusus musik. Ada siswa yang suka musik karena bisa memainkan gitar, main drum, piano, dan alat-alat musik lainnya. Dan mungkin saja ada yang suka menyanyi.

Kalau sudah ketemu minat mereka di bidang musik, barulah membuat wadah. Lalu kemas dengan baik. Sehingga mungkin saja kelak dapat memunculkan calon musisi-musisi yang hebat dari lulusan sekolah tersebut.

5. Mengadakan acara lomba musik di sekolah secara rutin

Cara terakhir dalam menumbuhkan literasi musik pada peserta didik ini tujuannya dua hal; pertama untuk memulai mencari bakat siswa yang hobi bermusik.

Kedua, kalau sudah ada wadah atau organisasi musik, cara mengapresiasinya dengan cara ini yaitu membuat acara lomba musik di sekolah secara rutin.

Guru dan pihak sekolah merencanakan lomba musik, entah enam bulan sekali maupun setahun sekali. Intinya, ada kegiatan seru-seruan yang bikin siswa senang dan belajar berkompetensi.

Lima cara di atas jika diaplikasikan oleh suatu sekolah, saya yakin literasi musik pada peserta didik akan tumbuh dan berkembang.

***

Sebagai penulis, saya sering mengalami kebuntuan dalam menulis. Istilahnya writer's block. Tapi hanya dengan mendengarkan musik, ide terangsang kembali.

Musik, bagi saya, merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Oleh sebab itu, literasi musik perlu banyak diperhatikan dan dikembangkan lagi.

Selamat Hari Musik Nasional!



Ridwansyah
Pendiri penulis Garut | Penggiat literasi | Follow IG/Twitter: @aaridwan16.

Artikel Selanjutnya Postingan Selanjutnya
1 Comments
  • RANTI
    RANTI 20 Oktober 2021 pukul 08.26

    Makasi kak atas ilmunya��

Tambahkan Komentar
comment url