Review Novel Love Will Set You Free karya Suwina Y

Review Novel Love Will Set You Free karya Suwina Y

Luka, luka, dan luka.

Hanya luka yang dapat mendeskripsikan novel Love Will Set You Free. Novel dengan tebal 503 halaman ini menceritakan kisah asmara antara Tania, Aristo, dan Gracio.

Dalam ulasan berikut, silakan tebak siapa yang paling terluka…

Review Novel Love Will Set You Free karya Suwina Y

Identitas Buku

Judul: Love will set you free
Penerbit: Ellunar Publisher
Pengarang:  Suwina
Tahun: 2022
ISBN: 978-623-385-196-1
Tebal: 503 hlm

Novel ini dibuka dengan acara pernikahan Nina & Girda.

Seperti suasana pernikahan pada umumnya, kedua pengantin dirias menjadi sangat cantik dan tampan. Mereka bagaikan seorang raja dan ratu. Keluarga dari kedua mempelai sama-sama menghadiri venue acara tersebut.

Sebagai keluarga dari salah satu pengantin, menyaksikan acara pernikahan di depan mata kepala sendiri biasanya ikut bahagia. Namun, berbeda dengan Tania. Melihat sang ibunda menikah, ia justru ingin menangis.

Tania harus siap menghadapi kenyataan pahit setelah ibu kandungnya itu menikah lagi.

Baca Juga: Review Buku Bahagia karena Memberi

Gambaran Umum Novel Love Will Set You Free

Perkenalan Tokoh

Tania

Seorang penulis terkenal yang ramah, namun berhati rapuh.

Aristo

Lelaki misterius yang doyan melukis.

Gracio

Editor galak Tania yang kerap menagih naskah. Ia berkepribadian disiplin dan tegas. Juga, sahabat Aristo.

Keluarga Vermont

Keluarga ini terdiri dari Girda Vermont (ayahnya Aristo) dan Nina Vermont (ibunya Tania). Sementara itu, sang editor galak bernama lengkap Gracio Alexi sudah dianggap anak sendiri oleh pasangan Vermont.

Perusahaan Keluarga Vermont

Keluarga Vermont memiliki usaha di bidang penerbitan buku. Nama penerbitnya Go Write, salah satu penerbit besar dan terpercaya.

Banyak naskah di bawah naungan Go Write yang menjadi best-seller dan digarap menjadi film.

Konflik

Konflik yang tersimpul di dalam novel ini sederhana.

Jadi, sebelum pasangan Vermont menikah, Aristo sedari kecil sudah menyukai Tania. Namun, ia sadar akan kedekatan ayahnya dengan ibunya Tania. Sehingga, Aristo menyembunyikan perasaannya. Ia tidak ingin melukai hati ayahnya yang menyayangi ibunya Tania.

Memasuki usia belasan tahun, atau tepatnya di usia 16 tahun, Aristo menyatakan cinta kepada Tania. Sebaliknya, Tania juga menyatakan hal yang sama. Mereka pun sempat diam-diaman menjalin hubungan.

Singkat cerita, setelah Aristo dan Tania beranjak dewasa, orangtua mereka menikah. Maka, pupuslah harapan mereka untuk bisa bersama. Hubungan status mereka pun kini sebagai saudara tiri.

Perasaan Aristo dan Tania di usia dewasa menjadi sangat rumit. Banyak luka yang merundung hati keduanya. Di lain sisi, Gracio merasa anomali memandang hubungan mereka.

Masih dengan pertanyaan yang sama, silakan tebak siapa yang paling terluka...

Luka Bagian I

Pada bagian ini, Tania sedang mengalami writer’s block. Sekeras apapun dirinya memutar otak, tidak ada satu kata pun yang muncul di kepalanya untuk menulis. Sementara itu, Gracio seringkali menanyakan naskah.

Kondisi writer’s block yang dihadapi Tania Vermont semakin diperparah saat ia selalu mengingat sosok Aristo. By the way, laki-laki bermata biru itu memang telah mencuri hati Tania sejak kecil. Terlebih, Aristo merupakan cinta pertama Tania.

Sejatinya, Tania bisa tenang memikirkan Aristo. Bahkan, ia bisa saja menulis dengan lancar kalau Aristo jujur. Jujur bahwa dirinya masih mencintai Tania.

Namun, Aristo terus terang sudah tidak mencintai Tania. Ia bilang juga kepada Tania, menyesal katanya pernah mengutarakan cinta di usia belasan tahun.

Hati Tania tentu saja sakit mendengar kebohongan Aristo. Padahal, harapan Tania sebenarnya simple. Meski berstatus sebagai saudara tiri, apa susahnya sih Aristo jujur masih mencintainya?

Luka di bagian satu hanya berkutat pada keinginan Tania agar Aristo mengatakan yang sejujur-jujurnya masih memiliki rasa cinta kepadanya.

Sebaliknya, Aristo bersikap dingin saja. Toh Tania sudah menjadi adik tirinya. Dan lagipula, kedepannya tidak akan dapat bersama, kan?

Lain halnya dengan Gracio, editor yang sudah Tania kenal hampir tujuh tahun itu diam-diam ternyata memendam rasa. Nahas, Gracio hanya dijadikan tempat curhat Tania.

Singkat cerita, berhubung usia Tania sudah 25 tahun dan sudah memiliki karir yang cemerlang di dunia penulisan, Bunda Nina bilang katanya ingin segera momong cucu.

Girda Vermont, sebagai ayah tiri Tania, menjodohkan Tania dengan Gracio. Sang ayah pun menyuruh Gracio untuk melamar Tania.

Mendengar Gracio diperintahkan ayah sendiri untuk melamar Tania, reaksi Aristo fine-fine saja. Ia malah mendukung.

Tania kemudian sedih. Kenapa tidak ada penentangan sama sekali dari Aristo? Memangnya ikhlas melihat sahabat sendiri melamar gadis yang pernah dicintainya?

Luka Bagian II

“Jadi kapan kamu akan menikah?”

Pertanyaan itu dilontarkan begitu tiba-tiba oleh Girda Vermont. Aristo kaget.

“Me-menikah?”

“Iya. Adikmu ayah rasa sebentar lagi akan naik ke pelaminan. Meski dia keras kepala menolak lamaran Gracio, tapi ayah tahu kalau Tania mencintai Gracio. Hanya saja, ayah tidak mengerti mengapa Tania menolak lamaran Gracio.”

“Lalu kamu kapan? Apa kamu tidak masalah dilangkahi adikmu?”

Mendengar perkataan dan pertanyaan yang dilayangkan sang ayah, Aristo membayangkan cincin melingkar di jari manis Tania.

Hatinya menjerit! Namun, bukankah itu yang Aristo mau?

Pada bagian ini, penulis lebih banyak menceritakan kisah Aristo. Mulai dari latar belakang keluarga, perasaan yang sesungguhnya kepada Tania, dan juga hobinya.

Nah, berbicara soal hobi Aristo yang doyan melukis, ada satu kejadian unik di mana ia berbincang dengan Gracio saat sedang memandangi salah satu lukisan.

Lukisan tersebut adalah lukisan pertamanya dari berpuluh-puluh lukisan yang berobjekkan Tania. Ya, mereka sedang memandangi lukisan berobjek Tania yang dilukis sendiri oleh Aristo.

Gracio bertanya, “Apa kamu masih mencintai Tania?”

“Aku tidak pernah berhenti,” jawab Aristo.

Luka Bagian III

Setelah dua tahun menjalin hubungan dengan Gracio, Tania tidak menyangka editor galak itu ternyata bisa melakukan hal-hal kecil romantis yang bikin jantungnya berdetak kencang.

Lebih dari itu, bersama Gracio, rasanya Tania selalu merasa bebas melontarkan segala macam pikirannya. Tania tidak takut juga menjadi dirinya sendiri di depan Gracio, sebab sang editor tidak pernah menghakiminya.

Semakin hari, perasaan Tania pada Gracio semakin berkembang. Dan ia sadar, Gracio telah mengambil semua sisa hatinya yang berantakan.

Di samping kebahagiaan Tania dan Gracio, kabar buruk menimpa Aristo. Ia mengalami kecelakaan yang cukup parah. Kakak tiri Tania itu tertabrak truk yang mengangkut pipa 80 ton.

Lalu, bagaimana nasib Aristo?

Bagaimana ending novel ini?

Apakah sang editor galak berhasil menikahi penulis terkenal itu?

Lantas, siapa yang paling terluka dalam novel ini?

Sudut Pandang Reviewer Mengenai Novel Love Will Set You Free

Membaca novel dengan tebal 500 halaman lebih tidak akan bosan jika memuat ciri-ciri seperti premisnya jelas, alur cerita tidak bertele-tele, dan profil karakternya dekat dengan pembaca.

Untuk novel Love Will Set You Free karya Suwina Y mengandung ketiga ciri tersebut.

Jujur, saya sangat menyukai profil karakter di dalam novel ini. Tokoh Tania yang berprofesi sebagai penulis dan Gracio sebagai editor, jelas terasa dekat bagi saya yang juga berprofesi sama seperti mereka.

Namun dibalik keunggulan novel ini, ada beberapa hal yang amat saya sayangkan. Pertama, pembahasan dunia penulisan, penerbitan, atau editing, tidak terlalu diurai lebih dalam.

Kedua, entah apa alasan penulis di bagian II menggunakan POV Aristo. Seharusnya konsisten memakai sudut pandang orang ketiga, sehingga ada semacam “keadilan” bagi setiap karakter.

Terlepas dari kedua kekurangan itu, ditinjau dari segi penulisan mah novel ini rapi banget. Gila. Enak dibaca.

Overall sih, saya benar-benar menikmati setiap jalan cerita yang disampaikan penulis dalam Love Will Set You Free. Sepertinya novel ini masuk ke dalam daftar buku yang mesti saya unggah di media sosial pribadi.

Ah!

Baca Juga: Review Novel Aliyah

Wawancara dengan Suwina Y

Reviewer: Halo, Kak Suwina! Judul novel ini berangkat dari judul lagu. Nah, boleh tahu nggak makna lagu tersebut apa, ya? Cinta membebaskanmu, dll, ah! Saya sempat mendengar lagu tersebut berulang-ulang kali. Dinyanyikan oleh seorang pria yang sudah berusia senja.

Menurut Kak Suwina, makna lagu tersebut apa? Saya tidak memahami makna lagu itu. Barangkali karena genre lagunya tidak saya suka...

Suwina: Untuk maknanya sih basically, dari lagunya itu tentang seorang pria yang melihat wanita yang dia cintai, jatuh cinta sama pria lain. Tentang bagaimana si pria ini belajar untuk melepaskan, dan ingin si wanita bahagia.

Aku nambahin twist sedikit di cerita novelku. Aristo sama Tania, karakter mereka itu aku jadiin saudara tiri, jadi kemungkinan mereka bersatu itu kecil banget. Jadi feeling sulitnya melepaskan, sakit untuk melihat orang yang dicintai bahagia itu lebih kerasa dan worth it di akhirnya.

Dan juga, cinta yang aku bahas di cerita juga bukan cuma antara wanita dan pria, tapi juga keluarga. Karakter Aristo cukup kompleks, karena dia di situasi harus milih mana: memperjuangkan Tania, atau cintanya ke Bunda Nina dan Ayah Girda. Aku sendiri pengen peluk Aristo…

Itulah alasan kenapa lagunya pas banget untuk aku jadiin inspirasi cerita ini.

Reviewer: Okay! Saya bertanya tentang lagu tersebut karena penasaran saja sih, Kak. Pengin tahu maknanya apa. Heuheu.

Next, jujur, saya suka profil karakter Tania yang notabene seorang penulis terkenal. Saya suka Gracio, editor galak. Namun kenapa di bagian kedua dan ketiga, pembahasan soal penerbitan, naskah, dll, nggak dibahas terus ya? Padahal saya suka banget saat Gracio nanya, "Naskah sudah selesai?" itu relate banget bagi saya. Sayang di bagian kedua dan ketiga, tidak terlalu dibahas....

Suwina: Iya...sebenarnya dibahas lebih banyak tentang itu. Tapi setelah dipikir-pikir dan didiskusikan, akhirnya bagian itu dipotong­čść

Reviewer: Why? Untuk orang seperti saya yang sibuk mengurus penerbitan, naskah, berkarir di dunia penulisan, itu bakal keren banget. Pembaca blog kami juga bakal senang kalau itu dibahas terus. Tapi yah, saya yakin kakak punya alasan tersendiri bagian tersebut dipotong....

Jujur, bagi saya, novel kakak okelah saya suka karena mengangkat tema seorang penulis terkenal, lalu berhubungan dengan editor galak, juga Aristo si pelukis. Nah ada sesuatu yang janggal soal POV. Kenapa dalam novel ini harus dimasukkan POV Aristo? Padahal konsisten saja POV orang ketiga....hihi. Ada alasan tersendiri, kah?

Suwina: Waktu nulis ceritanya ini...honestly fokusnya itu lebih ke emotional roller coaster-nya. Kenapa aku sempet nulis bagian itu tapi dihapus, rasanya kurang masuk untuk scene-scene yang mau ditulis. At that time yaaa, karena cerita ini ditulis beberapa tahun yang lalu sebelum akhirnya di self publish­čść.

Soal POV, karena ingin nyampein sisi cerita Aristo lebih dalam. Dan untuk aku, aku nggak tahu kenapa ada sentimen tersendiri kalau baca atau nulis POV orang pertama. If that make sense...

Reviewer: Oh begitu. Heuheu

Terakhir, pengen denger dong alasan dulu kakak bilang, "Saya ini self publish dan biasanya tidak banyak yang tahu selain teman-teman saya". Kenapa sih Kak seolah nggak pede sama karya sendiri diketahui selain oleh teman-teman sekitar Kak Suwina?

Suwina: Hahaha...soalnya aku masih kurang pede kak..kayaknya karena ditolak banyak penerbit bikin aku ngerasa belum oke buat nulis. Tapi yaaaa..ini masih aku coba pelan-pelan belajar untuk nyadar kalau ditolak penerbit itu nggak selamanya mendikte potensi ya.

Tapi tetep aja kadang belum pede aja..apalagi teman-teman nggak nyangka aku nulisnya genre romantis. Karena romance sebenarnya out of my elemen sih ya..lebih suka thriller horror gitu..jadi waktu tahu aku nulis romance..pada nggak nyangka..dan malah bikin aku malu kalau mereka baca..­čśé

Reviewer: Hahahahaha, lucu!

Baik kalau begitu, Kak. Terima kasih atas waktu dan kepercayaannya ke Media Penulis Garut, ya. Sekali lagi, thanks!

Suwina: Okay!

-

Penulis novel Love Will Set You Free dapat kamu sapa di laman Instagram @suwinayanwar.

BACA JUGA: Review Buku Amda dan Sang Rasa
Artikel Selanjutnya Postingan Selanjutnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url