Review Buku PSBB (Pernah Setia Belum Berjodoh) karya Ana Filstina Tahtal Fina

Review Buku PSBB (Pernah Setia Belum Berjodoh) karya Ana Filstina Tahtal Fina

Seperti yang kita tahu bahwa istilah PSBB muncul dua tahun lalu. Tepatnya di masa pandemi Covid-19. Akan tetapi, buku PSBB yang ditulis oleh penulis bernama lengkap Ana Filstina Tahtal Fina ini bukan menceritakan kejadian di balik Pembatasan Sosial Berskala Besar, melainkan bercerita tentang kisah panjang dari rasa kecewa yang cukup dalam; Pernah Setia Belum Berjodoh.

Persamaan istilah PSBB di masa pandemi dengan buku ini adalah sama-sama berbicara tentang jarak dan juga dampaknya. Untuk mengetahui gambaran umum buku PSBB (Pernah Setia Belum Berjodoh), simak ulasan berikut.

Baca Juga: Review Buku Baper Suka Merasa Benar

Review Buku PSBB (Pernah Setia Belum Berjodoh) karya Ana Filstina Tahtal Fina

Identitas Buku

Judul Buku: PSBB (Pernah Setia Belum Berjodoh)
Penerbit: CV. Jendela Sastra Indonesia Press
Penulis: Ana Filstina Tahtal Fina
Tahun terbit: Februari 2021
Tebal: viii + 46 halaman
ISBN: 978-623-6085-38-7

Gambaran Umum Buku PSBB (Pernah Setia Belum Berjodoh)

Buku ini mengisahkan tentang seseorang yang sudah kehabisan kata untuk bercerita, karena saking dalamnya rasa kecewa yang menusuk di dada.

Bayangkan saja jika ada di posisi kita. Ketika kita tidak kenal lelah mendampingi perjuangan seseorang dari nol, bahkan menemani terus sampai di titik terendahnya, feedback calon pendamping hidup malah lupa menggenggam tangan kita. Katakanlah ia lupa perjalanan bersama kita menuju puncak, eh malah terpikat oleh keindahan pemandangan jauh yang menyilap mata.

Sang pemilik pena tidak hanya mengisahkan kekecewaannya, melainkan juga bercerita tentang keharusan dalam ‘mengikhlaskan’. Hal ini dapat saya temui di lembar terakhir bukunya yang diberi judul, “Cukup Ikhlaskan Saja.”

Buku Ini Ringan Dibaca

Boleh dibilang, buku PSBB (Pernah Setia Belum Berjodoh) ringan dibaca. Dalam satu kali duduk saja sambil nge-teh, saya berhasil menyelami rasa dalam buku setebal 46 halaman ini.

Meski memuat halaman yang tidak terlalu banyak, jujur saya cukup larut dalam perasaan-perasaan yang ditumpahkan penulis melalui karyanya ini.

By the way, Filstina membagi tulisannya ke dalam 10 bagian. Dan hampir di setiap bagian hanya terdiri dari 2 lembar narasi yang mengalir, dilengkapi juga dengan diksi puisi yang menguatkan rasa.

Beberapa bagian tulisannya yang saya suka yaitu PSBB (Pernah Setia Belum Berjodoh), Melihat diri sendiri itu perlu, Tidak boleh dilupa, Kamu tidak sama tapi kamu tidak berbeda, dan Aku perlu terjatuh.

Lewat buku ini, saya pun mencatat beberapa poin pembelajaran diantaranya:

“Harus kamu ketahui, dunia tidak akan berhenti, cobalah berdiri, hidupmu penuh arti. Perbaikilah diri. Kamu tidak lagi bersamanya, maka syukurilah, kamu belum melangkah sejauh yang kamu pernah impikan. Andai kamu sampai di titik itu, rasa sakitnya akan lebih luar biasa.” –hlm 2

“Segala rasa membuatmu lupa pada Sang Pencipta, tidak sadarkah dirimu telaah menduakan Sang Kuasa. Membuat sakit tanpa terasa, sedangkan kau berhak bahagia, meski tanpa dia. Karena Sang Pencipta yang memiliki atas segala rasa umatnya.” –hlm 6

“Jika dirimu merasa mendapatkan suatu hal yang tidak baik, jangan salahkan keadaan, atau orang lain. Tapi, tidak juga harus menyalahkan diri sendiri. Cukup berbenah diri.” –hal 11

Baca Juga: Review Novel Anak-Anak Daksa

Sudut Pandang Reviewer tentang Buku PSBB (Pernah Setia Belum Berjodoh)

Setelah membaca buku ini, banyak hikmah yang dapat saya ambil. Selain itu, saya pun menemukan ‘ruang dialog’ yang kemudian saya tafsirkan sendiri. Berikut diantaranya:

Subjudul “Melihat diri sendiri itu perlu”, ini menjadi poin penegasan. Bahwa sejauh apapun rasa, kita harus bisa berdiri dengan diri kita secara utuh. Jangan sampai kita larut dalam ‘rasa’ sampai lupa pada diri sendiri.

Subjudul “Tidak boleh dilupa”, ini membawa arti penting dalam hidup. Bahwa apapun luka dan kekecewaan yang pernah kita lalui, melupakan bukan cara ampuh untuk sembuh. Langkah pertama untuk sembuh adalah dengan melakukan penerimaan diri, tidak perlu memaksa diri untuk melupakan.

Subjudul “Aku perlu jatuh”, poin ini mengajak refleksi. Bahwa dalam hidup, kita perlu jatuh untuk merasakan bagaimana bisa bangkit dan berhasil. Kita bisa tahu bagaimana rasa bahagia, sebab kita tahu bagaimana rasa sedih itu.

Menuju sesi penutup, saya mengutip pesan dari kawan baik saya, bahwa “Bahagia itu tanggung jawab masing-masing. Bagaimana mau berbagi kebahagiaan kepada orang-orang terdekat jika meraih kebahagiaanmu sendiri saja, kau tak mampu.”

Dapat saya simpulkan bahwa bahagia itu tidaklah dicari, melainkan mesti kita ciptakan sendiri. Sebagaimana Filstina; dari rasa kecewa yang sudah kehabisan kata, ia mampu bercerita melalui aksara, juga karyanya.

Wawancara dengan Ana Filstina Tahtal Fina

Reviewer: Judul buku diambil dari istilah ketika di masa pandemi. Kalau boleh tahu, kapan dan berapa lama kakak merampungkan naskah tulisan ini?

Filstina: Sebenarnya buku ini berawal dari kumpulan coretan rasa sakit dari 7 tahun lalu. Namun memulai untuk menyusunnya, saya lakukan di awal tahun 2020. Saya selesaikan sekitar 2 bulan dan memutuskan untuk dicetak di bulan Oktober.

Reviewer: Tulisan ini sepertinya diangkat dari kehidupan nyata. Kalau boleh tahu, ini dari pengalaman pribadi atau orang sekitar, kah?

Filstina: Tulisan ini memang berawal dari kisah nyata pribadi. Namun ada beberapa dari cerita teman sekitar.

Reviewer: Melalui hadirnya buku ini, apa yang kakak harapkan untuk pembaca?

Filstina: Harapan saya bagi pembaca yang mungkin sedang berada di salah satu masa rasa sakit yang sama seperti di buku ini, bisa merasa lega atau merasa lebih baik. Dan bagi yang tidak semoga bisa memetik kebaikan untuk dirinya sendiri.

Reviewer: Bolehkah kakak berbagi cerita, mengapa kakak mengambil judul dari istilah di masa pandemi? Dan apa yang melatarbelakangi kakak membukukan tulisan ini?

Filstina: Semua bermula keisengan rekan saya di saat perjalanan ke kota Batu. Membuat arti singkatan-singkatan di masa pandemi dan menyebut PSBB (Pernah Setia Belum Berjodoh) untuk mengejek salah satu rekan saya yang baru pulih dari masa patah hatinya. Dan seketika saya merasa cocok dengan judul itu. Apalagi akan lebih menarik menurut saya karena lagi masa pandemi.

Reviewer: Saya menikmati buku ini dalam satu kali duduk, sembari bersantai menikmati teh, sebab buku ini memiliki jumlah halaman yang tidak mencapai 100, malah kurang lebih setengahnya. Kalau boleh tahu, apakah ceritanya memang sampai di sini ataukah ada buku yang nanti coming soon lagi, Kak?

Filstina: Sebenarnya buku ini dibuat untuk mengobati rasa sakit yang ada pada diri saya sendiri. Yang masih terjebak dengan beberapa luka di masa lalu saat teringat, karena menulis bagi saya seperti menjadi obat untuk mengakhiri rasa sakit sehingga saya mengakhiri luka dengan buku ini. Dan insyaallah menjadi cukup sampai disitu saja.

Reviewer: Saya salut dengan kakak, kakak melahirkan sebuah karya sastra dibalik background kakak yang fokus di bidang ilmu hukum. Btw, semoga tesisnya lancar ya Kak di S2-nya. Ngomong-ngomong, adakah inisiasi kakak nantinya mengkolaborasikan karya sastra sebagai kritik fenomena hukum di negeri ini?😁

Filstina: Aamiin, terima kasih banyak atas doanya. Sebenarnya ada niatan itu sejak lama Kak, bahkan sudah ada sedikit coretan yang saya tulis. Dan saya kuliah S2 ini adalah salah satu tujuan saya untuk menyelesaikan tulisan saya tentang fenomena hukum di negeri kita yang dipenuhi banyak tirai, karena saya merasa masih sangat perlu untuk belajar lebih jauh lagi untuk bisa merangkai kata dengan baik sesuai dengan kenyataan. Bukan sekadar aturan yang tersusun rapi.

-

Penulis buku PSBB (Pernah Setia Belum Berjodoh) dapat kamu sapa melalui Instagram: @filstina_vina.

Reviewer: Siti Sunduz

BACA JUGA: Review Panjang untuk Koto Panjang
Artikel Selanjutnya Postingan Selanjutnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url