Artikel Terbaru

Review Buku Something That Will Never Be Lost karya Raihan Wizaksana

Review Buku Something That Will Never Be Lost

Terus terang saja, genre buku paling sulit dan mungkin saya tidak tertarik menulis atau membuatnya, adalah buku kumpulan puisi dan kutipan-kutipan.

Bagi saya, keduanya membosankan. Dan biasanya, jumlah halamannya sedikit. Sehingga, buku tentu tipis.

Selain membosankan, membaca puisi dan kutipan-kutipan kadang susah dipahami pembaca. Paling pembaca hanya terkesima saja sama diksi-diksi yang bagus.

Atau pembaca merasa terpesona sama kutipan-kutipan yang katakan lah relate bagi dirinya.

Lalu, apakah buku Something That Will Never Be Lost karya Raihan Wizaksana, yang bakalan saya review melalui blog ini masuk kriteria buku membosankan dan sulit dipahami maknanya?

Review buku Something That Will Never Be Lost 

Jujur, saya lebih senang membaca dan meneliti teknik penulisan novel daripada memperhatikan gaya penulisan puisi, atau memperhatikan seluk-beluk buku kumpulan quotes.

Itu sebabnya, blog penulis Garut kerap membagikan artikel seputar novel. Mulai dari novel fiksi sejarah, novel fantasi, hingga membahas cara membuat konflik novel.

Namun—entah mengapa bisa tepat sekali—buku Raihan Wizaksana hadir ketika saya ingin melebarkan topik blog ini ke ranah puisi. Dan ide ini muncul beberapa Minggu lalu. Dan buku karya lelaki kelahiran 2003 ini memberikan semacam gambaran bagi saya.

By the way, sejauh ini, saya belum menanyakan tentang apapun kepada penulis buku ini. Saya belum bertanya tentang, kategori buku ini sebenarnya apa?

Pasalnya, kumpulan puisinya ada, kutipan-kutipan pendeknya ada, dan dialog dengan seseorang yang dia cintai maksud di buku ini juga ada.

Jadi, kalau ada seseorang bertanya kepada saya soal buku Something That Will Never Be Lost membahas tentang apa. Jawaban pertama yang bakal saya sampaikan adalah, menjelaskan kategori bukunya dulu.

Setelah itu, baru lah saya akan bilang bahwa, buku ini bercerita tentang: si penulis dan seseorang yang disayanginya. Mereka bertemu, berlayar dalam bahtera kehidupan, lalu...sampai lah pada level tertinggi cinta, yaitu “mengikhlaskan”.

Ah!

Kalau saya kerucutkan, fiks buku ini adalah kumpulan puisi. Kutipan-kutipan pendek dan adanya beberapa dialog, itu merupakan bumbu.

Dan memang—sebaiknya begitu—agar buku kumpulan puisi tidak membosankan, jangan hanya berisi kumpulan-kumpulan puisi saja.

Tapi, bumbui dengan kutipan-kutipan yang menusuk ke dada pembaca. Beri sedikit dialog agar pembaca dapat mengimajinasikan suara penulis dan karakter lainnya.

Tapi, bukankah buku kumpulan puisi fitrahnya hanya kumpulan-kumpulan puisi saja?

Tidak harus begitu. Era buku puisi sudah beralih ke modern. Dan saya rasa, buku Raihan Wizaksana, mungkin dan mungkin tanpa sepengetahuan dirinya, karyanya sudah masuk ke pola modern.

Lantas, apakah buku pertama yang ditulis oleh Raihan Wizaksana membosankan?

Setidaknya, bagi saya, tidak membosankan. Buku ini menarik!

Perkara apakah mudah atau sulit dipahami, saya perlu menuliskan pernyataan Raihan dalam kata pengantar bukunya.

Menulis merupakan salah satu cara menuangkan rasa, meluruhkan lara, serta berbagi cerita.

 
Saya yakin dia (penulis buku ini) akan setuju bahwa, terkait apakah bukunya bakalan dipahami pembaca atau tidak, dia tidak terlalu memikirkan hal ini.

Yang jelas, dia ingin berbagi cerita saja. Dan menumpahkan segala rasa yang tertanam pada dirinya.

Keunggulan Buku Something That Will Never Be Lost


Keunggulan buku Something That Will Never Be Lost

Untuk menginformasikan keunggulan buku ini, saya akan menempatkan diri sebagai: pertama, seorang pembeli buku ulung. Kedua, pembaca. Dan ketiga: penulis novel yang juga seolah merasa bisa menulis puisi.

Sebagai pembeli buku

Dari segi cover, buku ini menarik. Atau kalau kalian bosan mendengar kata "menarik", saya pengin mengatakan bahwa, cover buku ini elegan.

Ada emoji love, retak-retak. Ditambah lagi, judul bukunya menggunakan bahasa Inggris. Dan kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sungguh menyayat hati.

Penerbit Guepedia memang pandai membikin cover buku. Mereka, patut saya acungi jempol dalam hal ini.

Dan praktis, ringkasnya, saya bakal mengorder buku ini.

Sebagai pembaca

Jika ditanya isi buku, maknanya dalam. Dalam banget.

Dan seorang pembaca biasanya suka menyalin kutipan atau isi puisi yang mereka anggap bagus. Saya pun bakal mengutip kutipan yang menurut saya oke.

Jika Tuhan berkehendak; pasti kita akan ditakdirkan bersama. Namun, jika tidak, semoga kita dipisahkan dengan sebaik-baiknya perpisahan. - halaman 48.

Saya tidak perlu menjelaskan kutipan di atas. Sebab, bukankah memang benar bahwa, perpisahan yang buruk akan menimbulkan keburukan juga nantinya.

Lebih dar itu, kalau kalian pecinta Harry Potter, buku ini menyenangkan. Ada istilah-istilah sihir seperti alohomora-nya Hermione Granger dan Expecto Ptronum-nya Harry.

Kata-kata bijak Albus Dumbledore juga dia tulis.

Sebagai penulis novel yang seolah bisa menulis puisi

Selama ini, saya boleh dibilang mampu menulis novel. Dan jika saya seolah merasa bisa juga menulis puisi, saya malah bakal insecure usai membaca buku ini.

Mengapa?

Sebab, pemberdaharaan diksi Raihan Wizaksana cukup banyak. Saya sampai harus mengartikan beberapa kata yang terdengar asing di telinga saya.

Dengan banyaknya diksi, tidak bisa kita mungkiri, seorang penulis punya nilai plus sendiri di mata penulis lain dan juga penerbit.

Terus, dia jago membuat kalimat-kalimat yang bikin saya harus mikir dulu berulang kali. Pas dibaca ulang, langsung "ngeh" arahnya ke mana.

Inilah keunggulan penulis puisi. Cerdas mengajak pembaca untuk, ayo berpikir!

Saran untuk penulis buku Something That Will Never Be Lost

Mengapa tidak ada subjudul "kelemahan buku" ini?

Jawabannya, buku ini memiliki sedikit kelemahan. Oleh sebab itu, kelemahannya justru terdapat pada penulis buku, bukan pada bukunya. Dan saya kemudian ingin merangkumnya dalam subjudul "saran".

Saran untuk penulis buku ini adalah, kelak, jika ingin membuat buku kedua atau ketiga, kurangi menerbitkan buku melalui penerbit gratisan.

Saya pernah menjelaskan hal ini pada tulisan: review Guepedia.

Seperti yang pernah saya sampaikan pada tulisan review penerbit gratisan di atas bahwa, sesekali cobalah menerbitkan buku melalui penerbit indie yang berbayar.

Agar, sebagai penulis, kita dapat memegang dan memasarkan buku sendiri. Dan kita mendapatkan sedikit penghasilan dari karya yang sudah kita bikin. Sebab, mungkin, proses penulisannya kan selama berbuluan-bulan.

-

Barangkali, itu saja review buku Something That Will Never Be Lost.

Selamat menikmati

-

Jika kalian membutuhkan jasa review novel atau buku: hubungi kontak kerjasama kami.

Terima kasih.

Tidak ada komentar

Tolong berkomentar dengan baik dan logis. Jangan melakukan spam. Kalau bisa, berkomentar lah pakai nama, jangan anonim. Komentar kalian saya filter dulu. Jika komentar kalian sesuai selera saya, akan saya setujui. Terima kasih.