Artikel Terbaru

Begini Cara Membuat Media Kepenulisan yang Asyik, 90% Bakal Disenangi oleh Orang-orang yang Hobi Nulis

Cara membuat media kepenulisan


Cara membuat media kepenulisan - Di luar sana, ada banyak media kepenulisan yang bikin jengkel penulis pemula. Terutama media kepenulisan yang eksis di Instagram.

Kadang agar medianya terlihat menarik, mereka suka membuat event-event yang juga menarik.

Mulai dari lomba menulis, kelas menulis, ajakan kirim tulisan ke websitenya dengan embel-embel bakal dibayar 50K per artikel, dan masih banyak lagi.

Akan tetapi, begitu para penulis pemula ingin ikut lomba menulis atau kelas menulis, salah satu syaratnya harus bayar. Padahal, media kepenulisan tersebut username ig-nya ada kata "gratis".

Lebih parah lagi ajakan ngirim tulisan ke websitenya dengan embel-embel bakal dibayar 50K itu ternyata hanya cara mereka saja biar dapat traffic.

Dan yang dapat 50K ternyata bukan followersnya, tapi malah timnya sendiri.

Saya kasihan sama penulis-penulis pemula yang sudah disihir oleh media kepenulisan yang tujuannya hanya untuk mendapatkan cuan saja.

Nah buat kalian yang sudah kesel sama media kepenulisan seperti itu, di postingan kali ini saya ingin berbagi tentang cara membuat media kepenulisan yang asyik.

Bahkan, 90% cara yang saya sajikan di sini bakal disenangi oleh orang-orang yang hobi menulis, bukan hanya disenangi oleh penulis pemula saja.

Jangan menasehati dulu soal mana kata baku dan tidak baku

-Untuk membuat media kepenulisan, silakan bikin saja di blog atau Instagram. Ini tidak perlu saya jelaskan. Saya yakin, kalian bisa membuatnya.

-Anggap lah setelah bikin blog atau akun Instagram, langkah berikutnya memfollow orang-orang yang hobi menulis. Dan juga berkenalan dengan mereka.

Nah yang perlu diperhatikan di sini adalah aturan-aturan di media kepenulisan yang kalian buat.

Catat poin pertama ini: agar media kepenulisan kalian disenangi penulis pemula, jangan menasehati dulu tentang mana kata baku dan tidak baku.

Hal terpenting untuk membuat nyaman penulis pemula adalah bangkitkan dulu semangat menulisnya. Rangkul dulu mereka.

Terlebih, bangkitkan dulu rasa cinta mereka terhadap dunia literasi.

Saya yakin, kalau baru bikin media kepenulisan terus udah menasehati. "Ini kata baku-nya ini. Harusnya 'sekadar', bukan 'sekedar. Harusnya teknik, bukan tekhnik".

Yang ada ketika dinasehati begitu, mereka malah pusing dulu sebelum menulis.

Jangan singgung tulisannya, baik atau buruk biarkan saja dulu

Mau tulisannya bagus atau jelek, biarkan saja dulu. Biarkan mereka berkarya sesuka hatinya.

Mengapa harus begitu?

Sebab, nggak sedikit penulis pemula yang baperan ketika karyanya dikoreksi.

Ujung-ujungnya kalau tulisan mereka dikoreksi suka langsung nge-down. Nggak mau nulis lagi.

Ini yang selalu saya hindari di penulis Garut. Saya tidak pernah menyinggung tulisan para penulis.

Kecuali kalau mereka minta saran. Baru saya nasehati dan ngasih penilaian terhadap tulisannya.

Dengan menggunakan cara kedua ini, media kepenulisan kalian bakal terlihat humble di hadapan para penulis.

Bikin media kepenulisan yang terlihat sederhana saja, tapi kontennya menarik

Di Instagram, banyak media kepenulisan yang gagah: feed-nya rapi, terus followersnya banyak. Istilahnya akun gedean lah.

Namun, konten tulisan yang mereka hidangkan melalui blog atau Instagramnya kurang menarik. Pembahasan dunia kepenulisannya masih seputar tips-tips menulis saja, masih seputar ini kata baku-nya, ini kata tidak baku, dan lain-lain.

Padahal yang dibutuhkan penulis pemula adalah bimbingan. Mereka berharap, media kepenulisan tersebut merespon setiap pertanyaan yang diajukan.

Media kepenulisan "gedean" biasanya mengabaikan hal itu. Komentar yang masuk saja jarang dibalas.

Jadi daripada menjadi media kepenulisan yang besar, lebih baik menjadi media kepenulisan yang sederhana saja. Namun, kontennya menarik.

Jadilah media kepenulisan yang dekat dengan pembaca

Media kepenulisan seperti penulis Garut ini nggak asyik gimana coba?

Kami cukup dekat dengan pembaca meski nggak intens-intens banget.

Apa keuntungan menjadi media kepenulisan yang dekat dengan pembacanya?

Adalah mendapatkan banyak traffic blog. Dan setiap bikin event, pasti banyak yang ikutan. Apalagi event yang selalu diselenggarakan oleh kami selalu gratis. Dan peserta sering dikasih hadiah.

Hanya dengan membuat grup WA saja, saya yakin, mereka sudah senang bisa ditampung atau diwadahi.

Apa tidak tertarik dekat dengan pembaca?

Agar lebih asyik lagi, media kepenulisan harus mengagendakan pertemuan dengan pembaca dan bikin acara (minimal sebulan sekali)

Inilah cara terakhir untuk membuat media kepenulisan yang asyik.

Ya gimana nggak senang coba ngumpul bareng dengan orang-orang yang sehobi? Atau bahasa kerennya sefrekuensi.

Lalu kalau sudah solid, baru lah rutin bikin acara sebulan sekali. Entah event menulis di blog, diskusi buku bareng, diskusi kepenulisan, dan lain-lain.

Jadi daripada membuat media kepenulisan tujuannya hanya untuk cuan saja seperti media kepenulisan yang gedean itu, mending perbanyak relasi atau perbanyak ngobrol agar nambah wawasan dan teman.

Sesederhana itu.



Ridwansyah
Pendiri penulis Garut | Penggiat literasi | Follow IG/Twitter: @aaridwan16.

Tidak ada komentar

Tolong berkomentar dengan baik dan logis. Jangan melakukan spam. Kalau bisa, berkomentar lah pakai nama, jangan anonim. Komentar kalian saya filter dulu. Jika komentar kalian sesuai selera saya, akan saya setujui. Terima kasih.