6 Saran Menulis dari John Steinbeck dan Saya Mencoba Memahaminya

Saran Menulis dari John Steinbeck
Sumber gambar: brainpickings.org

John Ernst Steinbeck adalah salah seorang penulis Amerika Serikat terkenal pada abad ke-20. Ia memenangkan Penghargaan Nobel Sastra pada tahun 1962.

Dalam aktivitas menulisnya, John Steinbeck memberikan saran-saran menulis yang cukup memukau. Ada 6 saran menulis dari John Steinbeck yang ingin saya bagikan. Sekaligus juga, saya akan mencoba memahami saran-saran tersebut.

6 saran menulis dari John Steinbeck di bawah ini tidak ia jelaskan secara saksama, tetapi saya akan mencoba memahami maksud dari saran-saran beliau. Berikut 6 saran menulis dari John Steinbeck.

Jangan berpikir menyelesaikan

Berulang kali saya pernah bilang kalo setiap penulis memiliki cara-cara yang berbeda dalam proses merampungkan naskahnya. Ada sebagian penulis yang memakai target-target tertentu agar naskahnya selesai. Misal, satu bulan lagi naskah saya harus selesai 300 halaman.

Berbeda dengan John Steinbeck, ia memberi saran jika kita sedang menulis jangan berpikir menyelesaikan, tetapi tulis saja satu halaman setiap harinya. Dan hasilnya akan membuat kita terkejut.

Kita akan terkejut kalo naskah kita ternyata sudah sejauh ini, misalnya.

Jangan berpikir memuaskan semua pembaca

Saran menulis kedua dari John Steinbeck yaitu jangan berpikir bisa memuaskan semua pembaca. Saran kedua ini saya setuju. Ini yang menjadi patokan utama saya menulis di blog penulis Garut.

Saya tidak berpikir tulisan saya dapat memuaskan semua pembaca. Namun, cukup satu target pembaca. John Steinbeck sendiri menyatakan, ambil satu target pembaca dan siapkan hanya untuk buatnya saja.

Jangan berlama-lama pada bagian yang kalian suka

Saya mencoba memahami saran menulis nomor ketiga ini. Barangkali, maksudnya adalah saat kita sedang menulis novel. Anggaplah sedang menulis novel romance, ada adegan A berpacaran dengan B. Lalu si penulis karena tokoh A dan B resmi berpacaran, dia terus menceritakan adegan ini secara detail.

Saran John Steinbeck, itu jutsru hindari karena akan menghalangi kalian untuk meneruskan tulisan, bahkan boleh jadi kebingungan. Lanjutannya apa ya setelah berpacaran agar tidak membosankan? Dan seterusnya.

Sebaiknya, adegan tersebut dipersingkat saja. Ini agar tulisan kita tidak berlama-lama pada bagian yang kita suka.

Jangan pilih kasih menulis pada bagian-bagian tulisan

Kembali memahami saran menulis dari John Steinbeck nomor empat. Dia bilang jangan pilih kasih menulis pada bagian-bagian tulisan.

Maksudnya, hilangkan rasa tidak tega terhadap tokoh yang kita sukai. Saya sendiri sempat mengalaminya, terlalu suka kepada satu tokoh yang saya ceritakan, jadi malah agak malas ketika harus menceritakan keburukan si tokoh tersebut.

Pada intinya, dalam menulis novel, jangan menceritakan yang baik-baiknya saja, seolah-olah tokoh yang kita buat itu sempurna. Ini akan mengakibatkan seperti dibuat-buat jika nulis tentang satu tokoh yang baik-baiknya doang.

Menulis dengan bebas dan secepat mungkin

Selain mengaplikasikan tidak berpikir agar tulisan saya bisa puas terhadap pembaca, saya juga kerap menulis dengan bebas dan secepat mungkin.

Cara untuk menulis dengan bebas dan secepat mungkin ialah koreksi hasil tulisan kita sehabis tulisan kita selesai. Jangan berpikir untuk mengoreksi atau merevisi sebelum tulisan selesai.

Ucapkan dialog yang Anda tulis dengan keras

Saran menulis dari John Steinbeck terakhir yaitu ucapkan dialog yang kita tulis dengan keras. Artinya, apakah dialog kita wajar atau seperti sedang berpidato?

Nah, ini penting untuk kita lakukan usai menulis dialog tokoh A dan B. Baca dengan keras, gunakan penghayatannya, terdengar lempeng atau wajar. Wajar di sini kayak lagi ngobrol, ada nada emosi, lembut dan seterusnya.


***

Itulah saran menulis dari John Steinbeck dan ini pure oleh saya pribadi yang mencoba memahami saran-saran beliau.


Ridwansyah

Pendiri penulis Garut

Postingan Selanjutnya Artikel sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url