Tips Menulis Cerita Horor di Media Online agar Bisa Tembus dengan Mudah

Tips Menulis Cerita Horor

Menulis cerita horor di media online berbeda dengan menulis cerita horor dalam sebuah buku. Di media online, ada ketentuan-ketentuan tertentu. Misal, media A membutuhkan cerita horor yang diangkat dari kisah atau pengalaman pribadi. Sedangkan di media B bisa dari hasil imajinasi. Dan, biasanya menulis cerita horor untuk sebuah naskah buku diambil dari hasil imajinasi kita sendiri.

Bagi saya, menulis cerita horor yang diangkat dari pengalaman pribadi memang terbilang seru. Tidak perlu dilebih-lebihkan. Tulis saja apa adanya sesuai dengan kenyataan. Namun, meski begitu, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan kalau menulis cerita horor untuk dikirim ke media online.

Di media online, kita tidak perlu menulis cerita horor dengan plot yang berat-berat, membuat karakter yang menarik, dan juga mengungkapkan hantu dengan cepat. Tapi, saya memiliki beberapa tipsnya. Tips di bawah ini sesuai dengan pengalaman pribadi saya setelah beberapa kali tulisan saya dimuat di media online.

Baca juga: Cerita Horor di Gunung Guntur.

1. Menentukan hantu yang menarik, beda dari yang lain

Kalau kalian tahu, hantu semacam pocong, kuntilanak, dan tuyul adalah hantu yang terlalu biasa-biasa saja bagi redaktur atau pembaca. Boleh menulis cerita horor dengan hantu-hantu tersebut, tetapi harus dikemas dengan baik

Selama saya menulis cerita horor, saya belum pernah menulis hantu-hantu tadi. Bagi saya, terlalu mainstream. Pasalnya, hantu-hantu itu orang lain juga pasti kepikiran menuliskannya. Sedangkan hantu macam arwah noni Belanda, nenek-nenek yang kerap mengganggu di apartemen, boneka yang bergerak sendiri adalah hantu yang beda dari yang lain.

Saya bersyukur tinggal di tanah Sunda. Sebab, ada banyak hantu yang namanya unik dari hantu Indonesia lainnya. Kayak budak hideung, ririwa, dan lain sebagainya. Jadi, saya bisa menggunakan judul hantu tersebut yang saya ambil dari suku saya sendiri. Menulis cerita horor dengan nama hantu yang beda dari yang lain, kemungkinan dimuatnya gede.

2. Setting yang kuat dan relate sama pembaca

Untuk menulis cerita horor agar bisa tembus di media online, kalian harus memikirkan setting yang kuat dan relate sama pembaca. Saya kasih beberapa gambaran. Pertama, tulis nama daerah kalian di judul atau dalam tulisan kalian. Kenapa? Karena membawa nama daerah biasanya bikin penasaran pembaca dan kemungkinan akan di klik oleh orang-orang yang tinggal di daerah tersebut.

Kedua, settingnya di jalan. Biasanya jalan adalah lokasi di mana sering terjadi kecelakaan. Dan biasanya kecelakaan tersebut terjadi akibat tumbal atau memang ada hantu penunggunya di jalan tersebut. Jangan sungkan menuliskan nama jalan. Jangan takut. Asal, cerita kamu memang kenyataannya begitu. Jujur. Tidak membohongi pembaca. Dengan begitu, cerita horor kamu bakal mengalir.

Ketiga, pengalaman horor di saat muncak. Sebab, biasanya, gunung sering relate sama pembaca karena mereka (pembaca), misalnya, pernah muncak ke gunung tersebut. Pabrik juga bisa. Studio rekamanan atau studio radio. Apartemen. Hotel. Dan banyak sebenarnya. Atau gedung-gedung tua. Tiga setting ini untuk menulis cerita horor di media online biasanya bisa tembus dengan mudah.


3. Hasil dari wawancara atau teman yang bercerita

"Saya tidak punya pengalaman horor, Kang". Itulah pernyataan yang sering saya dengar dari teman-teman saya yang saya tantang buat menulis cerita horor. Padahal, kalau kalian tidak punya cerita horor yang diangkat dari pengalaman pribadi, kalian bisa menulis cerita horor dari hasil wawancara kalian kepada teman-teman kalian.

Kalian bisa terjun langsung ke lokasi hantu yang kalian mau tulis. Wah, bagi saya, ini seru. Dan spesialis saya memang di sini. Saya pernah punya pengalaman horor sekali. Tapi, saya tertarik menulis cerita horor lagi, dan kemudian saya menulis cerita horor dari pengalaman-pengalaman teman saya. Kalian juga bisa melakukannya.

4. Buat kesimpulan yang jelas

Ada banyak penulis yang menulis cerita horor di media online, tetapi ceritanya nggak nyambung. Atau memang saya kurang menangkapnya apa gimana sih? Mereka menulis cerita horor seperti menulis puisi. Yang ngerti adalah dirinya sendiri. Tapi, itulah menulis cerita horor yang diambil dari pengalaman pribadi. Kadang, mereka menuliskannya sengaja tidak akhiri dengan kesimpulan yang jelas agar bisa ada kelanjutannya.

Akan tetapi, saya sendiri sering menulis cerita horor yang kesimpulan jelas. Entah ditutup dengan pernyataan hati-hati dari orang yang saya wawancarai. Atau saya kapok mendatangi tempat itu lagi. Dan lain sebagainya. Hal ini agar bikin saya puas dan pembaca juga puas dengan apa yang saya tulis.

Itulah beberapa tips menulis cerita horor di media online agar bisa tembus dengan mudah. 

BACA JUGA: Tulisan Horor.
Postingan Selanjutnya Artikel sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url