5 Hal Toxic Menulis yang Harus Kalian Hindari! [Update]

5 Sikap Toxic dalam Aktivitas Menulis yang Harus Dihindari
Sumber gambar: www.kompasiana.com

Sering kita dengar kata toxic berkaitan dengan istilah toxic people friendship maupun toxic relationship.

Toxic people friendship sendiri adalah jenis pribadi yang suka menyusahkan orang lain, baik secara fisik maupun emosional.

Sedangkan toxic relationship gambaran sederhananya ialah hubungan yang seharusnya menyenangkan malah berubah menjadi beban. Nah, saat menulis, ada hal toxic yang harus kalian hindari.

Arti kata toxic jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah racun. Dan perihal racun ini jangankan terkait dengan toxic people friendship dan toxic relationship, barangkali dalam diri kita sendiri memiliki racun dalam aktivitas apapun atau dikenal dengan istilah toxic activities.

Termasuk dalam aktivitas menulis. Apa saja sikap toxic dalam aktivitas menulis yang harus kita hindari?

Berikut 5 sikap toxic dalam aktivitas menulis yang harus dihindari.


Hal Toxic Menulis yang Harus Kalian Hindari! #Enggak pede sama tulisan sendiri

Saya sering mendengar keluh-kesah orang yang sedang melakukan aktivitas menulis. Salah satunya mereka nggak pede alias nggak percaya diri dengan tulisannya sendiri.

Padahal, sebaiknya, pikiran-pikiran nggak percaya diri itu dihindari saja. Singkirkan saja. Sebab, selain mengganggu proses penyelesaian naskah kita, juga malah membuat aktivitas menulis kita jadi badmood. Ujungnya males.

Jika kamu tahu bahwa hampir semua penulis pernah merasa tulisannya kayak sampah maka perasaan nggak percaya diri itu bakalan nggak kamu pikirkan.

Artinya adalah penulis-penulis yang saat ini bagus tulisannya, dulu mungkin pernah menulis berantakan dan jelek. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan melakukan rutin berlatih menulis, memperbanyak baca buku, belajar teori-teori menulis, hasilnya menjadi bagus.

Dengan cara-cara di atas itulah ketidak percayaan diri kamu dalam menulis bisa teratasi

Saya sendiri tak pernah bosan mengatakan cara untuk meminimalisir rasa tidak percaya diri dalam menulis itu dengan banyak membaca.

Bahkan di artikel sebelumnya sudah saya posting, jauh-jauh membaca buku dengan ketebalan 500 halaman, rajin klik artikel yang saya bagikan saja sudah membantu proses belajar menulis kamu.


Hal Toxic Menulis yang Harus Kalian Hindari! #Ngedit di waktu yang nggak tepat

Coba tengok apa salah satu alasan naskah kamu saat ini belum rampung-rampung diselesaikan? Jawabannya barangkali suka ngedit di waktu yang nggak tepat.

Lantas seharusnya bagaimana cara untuk menghindari ngedit naskah di waktu yang nggak tepat?

Utamanya, dalam aktivitas menulis itu adalah menulis. Saya mengambil tweet yang disampaikan oleh akun Twitter @akhzabiru_. Berikut tweetnya.


Artinya, saat kita menulis, fokus nulis dulu. Urusan ngedit dengan lagi-lagi alasan jelek, hindari saja. Ngeditnya, bisa kamu atur setelah selesai bab per bab.

Jangan ngedit baru satu halaman atau dua paragraf sudah di edit, ini bakalan membuat proses menulis kamu terhambat dan jengkel sendiri karena mungkin mematok kesempuranaan.

Setelah ngedit per bab, lalu naskah kita selesai dituntaskan, maka barulah ngedit keseluruhan naskah. 

Saya sering menyiapkan secarik kertas dan sebuah pensil, tulis mana cerita yang kurang kuat untuk nantinya diperdalam lagi, mana cerita yang harus di delete karena banyak basa-basi dan seterusnya.

Tulis dalam secarik kertas itu hari apa, tanggal berapa dan bulan apa kita sudah ngedit dengan tulisan #EditingPertama lalu #EditingKedua dan ya, pas!

Hal Toxic Menulis yang Harus Kalian Hindari! #Suka loncat ke cerita baru

Urutan ketiga 5 sikap toxic dalam aktivitas menulis yang harus dihindari adalah jangan suka loncat ke cerita baru. Tetapi, sebenarnya, emang nggak boleh ya loncat ke cerita baru padahal mah terserah si penulisnya aja.

Jawabannya boleh loncat ke cerita baru, tetapi alangkah lebih baiknya, menyelesaikan satu cerita dulu sebab lebih terlihat komitmen sama diri sendiri aja. Karena kalo banyak cerita baru yang dibikin lalu mengabaikan cerita yang lama, kayak ngeganjel aja gitu kalo pandangan saya pribadi.

Makanya, solusi untuk loncat ke cerita baru alias punya ide baru, adalah tahan dulu. Simpan cerita baru, imajinasi baru, di aplikasi memo yang ada di handphone atau pisahkan file.

Paling tidak, tulis outline atau kerangkanya dulu, baru itu diperbolehkan ketimbang nulis dari awal sampe tengah lalu punya cerita baru lagi, selesainya kapan hhh?

Jadi, sebisa-bisa, hindari loncat-loncat ke cerita baru.

Hal Toxic Menulis yang Harus Kalian Hindari! #Nulis tergantung mood

Urutan ke empat soal 5 sikap toxic dalam aktivitas menulis yang harus dihindari ini nih yang bikin greget. Kenapa nulis harus tergantung mood?

Memangnya nunggu berapa hari supaya mood baik datang? Gimana kalo mood buruk terus yang menyerang, jadi nggak bakalan nulis, dong? Sentimen ini yang harus segera kamu singkirin.

Saya pernah membaca artikel mengenai mood dalam menulis dari Mas Hilman Hariwijaya, penulis novel Lupus. Perhatikan perkataan Mas Hilman ini.

"Mood enggak mood, kita harus selalu nulis. Duduk depan komputer dan ngobrol untuk mancing ke luar ide. Kadang celutukan orang justru buat kita terangsang untuk berkreasi".

"Dulu pernah kehilangan inspirasi. Tapi, saya berguru sama Arswendo. Dia orangnya disiplin, tidak tergantung sama inspirasi, jadi apa-apa harus nulis. Makanya tiap hari saya selalu nulis, enggak bergantung sama inspirasi atau mood. Apalagi saya nulis striping tiap hari harus tayang," kenang Mas Hilman.

Saya pribadi, dalam aktivitas menulis ini, bagus dan nggaknya tulisan di website penulis Garut, mau nggak mau, harus memublikasikan artikel setiap hari. Dan, ada semacam tantangan sendiri buat nguji konsisten saya dalam menulis.

Hal Toxic Menulis yang Harus Kalian Hindari! #Kebanyakan mikir

Duduk depan laptop lalu baca-baca hasil menulis kita dan bengong sendiri. Kenapa nggak dilanjutkan? Kenapa malah di close lagi layar laptopnya? Betul, karena kebanyakan mikir.

Kalo kata Bang Bernard Batubara, "Berpikir berbeda dengan kebanyakan mikir. Berpikir tentu saja adalah hal baik, bahkan yang utama dalam menulis. Kita menulis karena berpikir." ucap penulis 18 buku itu.

5 sikap toxic dalam aktivitas menulis yang harus dihindari nomor lima ini kerap terjadi bagi mereka yang baru belajar menulis. Akibatnya, alih-alih naskah niat awalnya mau diselesaikan bulan depan, malah mogok di tengah jalan. Lantas harus bagaimana?

Kata Bang Bara lagi, "Menulis haruslah menyenangkan. Jika tidak, ada cara lain yang lebih baik untuk menyiksa diri. Seorang penulis sesekali perlu kembali ke niat awal kenapa ia melakukan semua ini. Menikmati proses. Lebih penting lagi, memulai proses.

Sudah siap melanjutkan lagi naskah yang selama ini terbengkalai? Gass!

 

Ridwansyah
Pendiri penulis Garut.

Postingan Selanjutnya Artikel sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url